Kamis, 21 Oktober 21

Aneh, Indonesia Mesti Impor Beras?

Aneh, Indonesia Mesti Impor Beras?

Aneh, Indonesia Mesti Impor Beras?

oleh <strong>Fransiscus (Franky) Welirang
CEO dan Presiden Direktur PT Bogasari Flour Mills

Mungkin sudah banyak perbincangan terkait ketahanan pangan, ketahanan energi dan lingkungan hidup. Saya rasa tiga pokok tersebut berlarut-larut jadi obrolan yang tidak berujung pada akhirnya. Fakta Indonesia hari ini masih krisis pangan dan energi, negeri yang subur makmur akan sumber daya alam banyak terlewat akan tindakan. 250 juta penduduk Indonesia masih tergantung pada negara lain seperti bahan-bakan pokok pangan dan impor energi. Sangat diherankan Indonesia mempunyai kekayan alam kurang memperhatikan lingkungan hidup sekitar. Padahal jika mau masyarakat dan tentunya Pemerintah mendorong serta menggerakan hal tersebut saya rasa Indonesia bisa menekan krisis tersebut bahkan menghilangkan ketergantungan pihak luar masuk ke dalam tanah air kita.

Berkali-kali pemerintah menggalakkan wacana tiga hal pokok tersebut. Namun, yang saya lihat justru terbalik semakin meningkatnya impor produk luar ketimbang hasil produktivitas kita sendiri jauh dari harapan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Seandainya Pemerintah di era Jokowi-JK bisa fokus menyelesaikan 3 hal tersebut saya rasa Indonesia ke depan bisa menunjukkan kemandirian nasional bahkan harkat dan martabat bangsa dapat terangkat di mata negara lain.

Jika diperhatikan sektor strategis pemerintah yang lebih ditekankan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi baik disektor ketahanan pangan maupun ketahanan energi yaitu masalah lingkungan hidup. Saya pikir lingkungan hidup ini sangat luas bila dikaitkan secara keseluruhan. Sebab menyangkut hayat hidup masyarakat ekonomi di Indonesia, lingkungan hidup seharusnya bisa menyatu bahkan wajib terintegrasi dengan lingkungan masyarakat secara plural termasuk budaya setempat. Negeri dari ribuan pulau hanya satu yang seharusnya jadi agenda fokus yaitu interkonektivitas antar pulau untuk menjembatani pelaku ekonomi masyarakat. Kita sadari dari dulu hingga sekarang akses laut banyak yang kita sia-siakan sehingga banyak yang terabaikan begitu saja. Seharusnya tol laut atau pelabuhan-pelabuhan kapal sudah semestinya digerakkan dengan cepat. Sangat disayangkan bila ada sebuah lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”. Lagu itu menceritakan dan tanpa kita sadari fakta nenek moyang kita bisa menjelajahi pulau-pulau di Indonesia dengan mudah dan murah. Sebaliknya hari ini biaya akses antar pulau melalui laut jauh lebih mahal ketimbang biaya transportasi lainnya.

Sangat sudah pantas bila pemerintah menggerakan roda akses tersebut ke depannya sebagai negara maritim dunia, saya yakin bila itu semua dilakukan dengan baik dan benar maka dengan sendirinya menciptakan lingkungan hidup masyarakat dan budaya terpenuhi dalam segala sektor. Sehingga banyak masyarakat yang berkeinginan untuk maju dan bersemangat revolusi menuju karakter bangsa yang diharapkan. Asalkan pemerintah mendukung serta mendorong hal itu dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian optimis Program Nawa Cita di era pemerintah sekarang dapat mewujudkan kemandirian baik pangan, energi maupun meningkatkan kualitas hidup serta mempersatukan daerah-daerah tertinggal menjadi kesatuan yang utuh dan bisa sama rata dinikmati masyarakat Indonesia.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.