Selasa, 24 Mei 22

Anak dari Keluarga Berekonomi Lemah Ini Diterima di FEB UGM

Anak dari Keluarga Berekonomi Lemah Ini Diterima di FEB UGM
* Ahmad Fauzi bersama kedua orang tuanya.

Yogyakarta, Obsessionnews.com – Keterbatasan ekonomi orang tuanya bukan menjadi penghalang bagi Ahmad Fauzi untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi. Lewat perjuangan yang ekstra keras Fauzi berhasil diterima di S1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun ini melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMNMPT) dan mendapat beasiswa Bidik Misi (Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi).

“Saya peluk Fauzi. Semua nangis. Terharu. Tidak menyangka cita-citanya masuk perguruan tinggi bisa kesampaian,” kata ibu Fauzi, Siti Ulfah, ketika ditemui di rumahnya seperti dikutip dari siaran pers Humas UGM, Kamis (28/7/2016).

Kedua orang tuanya bangga atas pencapaian Fauzi. Sejak dulu Fauzi memang bercita-cita ingin masuk perguruan tinggi. Meski berasal dari keluarga berekonomi lemah Fauzi tidak pernah minder dan terus giat belajar untuk mencapai cita-citanya.

Ayahnya, Mustofa, bermata pencaharian sebagai pedagang pakaian di sebuah pasar di dekat Tanjung Benoa, Bali. Pasar itu setidaknya berjarak cukup jauh sekitar 28 kilometer dari tempat tinggal Mustofa di Denpasar.

Menaiki sepeda motornya yang sudah cukup uzur, perjalanan menuju pasar tersebut bisa memakan waktu 45 menit dan akan lebih lama bila musim hujan. Mustofa berangkat dari kediamannya pukul tiga sore dan pulang sekitar sebelas malam. Rutinitas itu ia lakukan setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilannya tak menentu. Di sebuah lapak yang hanya berukuran 2×3 meter tak banyak uang yang bisa dikumpulkan Mustofa. Apalagi bila musim hujan tiba, pengunjung akan sepi dan pendapatan pun menurun. Isterinya sempat membantu perekonomian keluarga dengan berjualan perabot keliling. Namun, usaha itu hanya berjalan dua tahun, kemudian berhenti dikarenakan penyakit diabetes yang ia idap.

Perekonomian Mustofa semakin memburuk pada 2011. Insiden kebakaran rumah padat penghuni di Jalan Pulau Biak, Denpasar, Bali sekitar lima tahun lalu itu masih jelas terekam dalam ingatannya. Saat itu si jago merah melahap habis kampungnya serta menghanguskan satu-satunya rumah yang mereka miliki. Rumah yang dibangun di sebidang tanah sewa habis tak tersisa sehingga tak satu pun harta benda yang dapat mereka selamatkan,

Pasca insiden kebakaran, Mustofa tak mampu lagi untuk membayar harga sewa tanah yang kian naik. Bahkan dia mengaku tak sanggup untuk membangun sebuah rumah kembali, karena seluruh harta bendanya yang hangus dibakar api. Akhirnya Mustofa dan keluarganya tinggal di sebuah kos yang hanya berukuran 3×6 meter saja. Rumah kos tersebut hanya memiliki dua ruangan, yakni ruang depan dan ruang belakang yang difungsikan sebagai dapur dan kamar mandi. Di rumah itulah, saat ini Mustofa, istri dan kedua anaknya hidup bersama.

“Di ruang depan inilah Fauzi tidur, makan, juga belajar. Jika temannya datang untuk belajar kelompok ya di di sini juga tempatnya,” jelas Siti.

Ia menuturkan, Fauzi anak yang rajin. Setiap hari Fauzi tidak lepas dari buku. Tak heran atas usahanya tersebut banyak prestasi yang diraihnya. Pada bidang Ekonomi ia juara 1 Teenage Accounting Competion FEB UNAIR 2015. Ia juga juara 1 KOMPeK FEB UI 2016, dan juara 3 Olimpiade Akuntansi Universitas Negeri Malang. Fauzi yang menyukai sastra dan seni pertunjukan juga memenangi Lomba Baca Puisi se-Bali 2014 dan juga didapuk sebagai Best Actor pada Sastra Welang Monologue Awards. Sedari SD hingga SMA, Fauzi selalu juara kelas dan mendapat beasiswa dari sekolah hingga lulus.

Salah satu kunci keberhasilan Fauzi adalah rajin dan memiliki tekad yang kuat. Hal itu terlihat kala ibunya tidak memberi izin untuk kuliah terlalu jauh. Ibunya ingin Fauzi melanjutkan studi di perguruan tinggi yang ada di Bali atau di Surabaya yang ada sanak saudara.

“Saya tidak tega, di Yogya nanti dia sendiri tidak ada siapa-siapa. Belum tahu pergaulan di sana seperti apa tidak tahu, saya takut,” ucap Siti dengan mata berkaca-kaca.

Siti juga khawatir tidak mampu membiayai studi Fauzi bila kuliah terlalu jauh. Namun, Fauzi tetap bersikukuh untuk kuliah di UGM. Fauzi memantapkan pilihannya di FEB UGM karena satu-satunya fakultas ekonomi di Indonesia yang mendapat akreditasi AACSB. Oleh karenanya, Fauzi yakin bahwa FEB UGM adalah pilihan yang tepat untuknya sehingga selalu bersikeras untuk melanjutkan studi di situ.

Berulang kali Fauzi meminta izin kepada ibunya, berkali-kali restu itu tidak diberikan. Namun, pada akhirnya Siti tak kuasa membendung tekad Fauzi yang begitu kuat.  Siti pun akhirnya memberikan restu setelah Fauzi meyakinkannya bahwa bisa mendapat beasiswa Bidik misi untuk kuliah. Usai mendapat restu ibunya Fauzi segera mendaftar SNMPTN hingga akhirnya diterima lewat jalur tersebut. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Mengagumkan! Tias, Anak Penjual Es Diterima Kuliah di UGM

Hebat! Novi, Anak Buruh yang Diterima Kuliah di FH UGM

Dahsyat! Obsesi Anak Sopir Angkot Ini Kuliah di UGM Terwujud

Luar Biasa! Anak Pemulung Ini Sukses Masuk FK UGM

Kisah Inspiratif! Erwan, Anak Tukang Ojek yang Diterima di UGM

Luar Biasa! Anak Kuli Bangunan Ini Diterima di UGM

Wow, Keren! Deny, Anak Buruh Tani yang Kuliah di UGM

Anak Penjual Gorengan Ini Diterima Kuliah di FK UGM

Hebat! Tiffani, Anak Penjaga Toko yang Diterima di UGM

Refo, Anak Penjahit yang Diterima Kuliah di UGM

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.