Selasa, 24 September 19

Ada Apa di Ruas Jalan Tol Cipularang?

Ada Apa di Ruas Jalan Tol Cipularang?
* Tol Cipularang (Foto: BPJT Kementerian PU)

Kondisi Jalan Tol Cipularang

Jalur Tol Cipularang sepanjang 58 kilometer ini didesain dengan mengikuti aturan-aturan yang sangat ketat mengenai tata cara membuat jalan tol. Jalan tol ini dirancang aman untuk kecepatan rata-rata 120 km/jam.

Banyak yang mengatakan tanjakan di KM 97 sangat curam, padahal tingkat elevasi maksimum jalan tol yang didesain untuk tanjakan atau turunan dengan kecepatan aman 100 km/jam adalah 6 persen. Artinya, kalau jalan harus mendaki bukit setinggi 60 meter, maka panjang jalan menanjak (tanjakan) minimal harus 1.000 meter atau 1 km.

Oleh karena itu di pembangunan jalan tol, banyak diterapkan cut (potong) dan fill (urug), dan pemangkasan bukit.

Di KM 96 kita melihat turunan jika dari arah Bandung atau tanjakan jika dari arah Cikampek terlihat sangat panjang. Itu karena perbedaan tinggi yang cukup besar, sehingga disiasati dengan membuat turunan atau tanjakan yang sangat panjang mencapai berkilo-kilometer.

Yang menjadi masalah di Tol Cipularang ini, jalan pada awal dibukanya menggunakan beton (rigid pavement), bukan aspal (flexible pavement).

Bisa jadi dikarenakan pengerjaan waktu yang terburu-buru, jalan tol sepanjang kurang lebih 45 km dari Sadang sampai Padalarang selesai hanya dalam 1 tahun, maka sangat besar kemungkinan cenderung kurang rapi dan menyebabkan permukaan jalan banyak tidak rata atau bergelombang (bumpy).

Bahkan banyak jalan yang retak, sehingga pihak pengelola jalan tol kemudian memberikan lapisan aspal baru sebagai penutup. Saat ini jalan Tol Cipularang sudah menggunakan aspal.

Tetapi masalah lain timbul, yaitu permukaan aspal yang bergelombang terutama di daerah turunan. Hal ini disebabkan oleh proses pengereman dari kendaraan-kendaraan besar yang membuat tekanan atau dorongan ke depan terhadap permukaan aspal.

Kondisi ini sangat terasa di KM 96, yang merupakan area jalan menurun yang sangat panjang dan termasuk area rawan kecelakaan.

Kondisi jalan bergelombang ini, apabila dilewati oleh kendaraan dengan ground clearence rendah seperti sedan, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Lain cerita apabila jenis Jeep, SUV atau kendaraan lain dengan ground clearence tinggi.

Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya understeer (kehilangan kendali), yaitu akibat turunan yang bergelombang, ban kehilangan gigitan sama sekali sehingga kita tidak dapat lagi mengendalikan setir.

Dan yang terjadi adalah seperti kebanyakan penyebab kecelakaan di sini, mobil terbanting ke kanan menghantam beton pemisah jalan dan kemudian terbalik.

Kalau dibayangkan, saat mobil menuruni jalan dengan kecepatan cukup tinggi (80 km/jam) dan melewati jalan bergelombang, maka ban akan terangkat cukup tinggi dan keseimbangan mobil hilang, sehingga walaupun setir tetap lurus, mobil limbung dan kemudian terlempar ke kanan ke arah tembok pemisah jalan.

Kondisi ini menjadi sangat fatal, karena di area KM 96 beton pemisah sangat tinggi. Jadi, secara ilmiah kecelakaan di jalan Tol Cipularang khususnya di KM 90-100 dapat dijelaskan secara masuk akal dan sama sekali tidak berhubungan dengan mitos dan cerita klenik lainnya.

Namun, entah dipengaruhi mitos atau situasi yang logis, Wallahu A’lam. Ada baiknya jika selalu waspada dalam berkendara. Tak hanya di jalan Tol Cipularang, tapi juga di semua tempat lainnya. (Poy)

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.