Kamis, 20 Januari 22

Hobi Berebut Harta dan Tahta Demi Bargaining Suara

Hobi Berebut Harta dan Tahta Demi Bargaining Suara
* Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang KH Luthfi Bashori. (Foto: Islampos)

Ternyata hobi berebut harta dan tahta demi bargaining suara untuk menjadi pejabat politik atau pejabat publik/organisasi berisiko fatal.

Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang, KH Luthfi Bashori memaparkan sebagai berikut ini.

Allah SWT telah berfirman yang artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 64).

Hobi berebut harta dan tahta, adalah sifat manusia yang sangat buruk. Banyak sekali orang yang tergiur untuk meraihnya, bahkan tak jarang hingga berani mengorbankan aqidah agamanya, demi harta dan tahta.

Misalnya, demi mendapatkan kedudukan sebagai Ketua Umum dalam satu komunitas, ada orang yang harus mencari dana demi tujuannya itu, tanpa memperdulikan apakah dari sumber halal atau dari sumber haram.

Misalnya, ada orang yang mencalonkan diri agar menjadi pemimpin, hingga berani mengambil dana dari kalangan oligarki China atau konglomerat hitam, dan ada pula orang yang mencari kucuran dana dari kalangan Zionais Israel, untuk dijadikan modal sogok menyogok dalam jual-beli suara dari para calon pemilih yang menggunakan sistem voting demokrasi.

Lantas mengapa ada orang-orang yang sangat getol ingin merebut tahta semisal kedudukan ketua umum dalam suatu komunitas?

Ya, karena ada jenis perkumpulan tertentu yang dalam kehidupan modern ini, dapat dipergunakan untuk meraup harta atau fasilitas duniawi, serta menaikkan gengsi pribadi sang pemimpin di tengah masyarakat.

Apalagi bargaining jumlah suara para pengikut itu, sudah lumrah dapat diperjual-belikan jika ada pesta demokrasi dalam dunia perpolitikan nasional.

Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini merupakan tempat tinggal bagi orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, dan merupakan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta, dan hanya karena dunialah orang yang tidak berakal itu mengumpulkannya.” (HR. Imam Ahmad melalui Sayyidah Aisyah RA).

Jadi jelas sekali, bahwa kehidupan di dunia ini adalah sementara, dan semua harta benda maupun tahta kepemimpinan yang terdapat di dalamnya merupakan batu ujian bagi manusia.

Orang yang berakal dan bijaksana tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, melainkan hanya dijadikan sebagai sarana untuk meraih kedudukan tinggi di akhirat yang kekal lagi abadi. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.