Senin, 14 Oktober 19

Wow!! Setelah PMK Soal HPTL Terbit, Omzet Produsen Vape Meningkat

Wow!! Setelah PMK Soal HPTL Terbit, Omzet Produsen Vape Meningkat
* Ketua Divisi Produksi APVI Eko H.C saat memaparkan soal regulasi vape di Cerita Rasa, Jl Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019). (Foto: Kapoy/Obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.comPemerintah telah menerbitkan tiga beleid yang mendukung implementasi pengenaan cukai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dalam bentuk vape atau rokok elektrik.

Tiga aturan ini adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 66/PMK.04/2018 tentang Tata Cara Pemberian Pembekuan dan Pencabutan Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), PMK No.67/PMK.04/2018 tentang Perdagangan Barang Kena Cukai yang Pelunasan Cukainya dengan Cara Pelekatan Pita Cukai atau Pertumbuhan Tanda Pelunadan Cukai Lainnya, serta PMK No.68/PMK.04/2018 tentang Pelunasan Cukai.

Setelah diterbitkannya peraturan tersebut, kumpulan Produsen rokok elektrik yang tergabung dalam Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mencatat adanya pertumbuhan penjualan yang signifikan setelah pemerintah mengatur regulasi cukai rokok elektrik pada tahun lalu.

Baca juga: Pemerintah Diminta Buat Aturan Soal Peredaran Vape

Salah satunya Ketua Divisi Produksi APVI Eko H.C mengatakan, regulasi penerapan cukai tersebut memberikan kepercayaan pada konsumen. Dia mengungkapkan, peningkatan penjualan secara keseluruhan mencapai 400 persen. Jumlah tersebut terhitung sejak 1 Juli 2018 atau setelah regulasi cukai berlaku.

“Setelah ada regulasi justru meningkat. Jadi sekitar 400-500 ribu botol per bulan. Sebelumnya cuma 70 – 120 ribu per bulan,” ujar Eko di Resto Cerita Rasa, Jl Raya Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019) malam.

Untuk itu, dia mendorong pemerintah segera menerbitkan aturan yang jelas terhadap industri rokok elektrik. Sebab, secara potensi market Vape semakin positif. Tak hanya itu, pihaknya akan berkomitmen terus mengikuti aturan. Hanya saja, saat ini asosiasi menekankan agar pemerintah melakukan riset atau bukti ilmiah kongkrit mengenai dampak dari regulasi yang akan dibuat.

“Sebenarnya kita mengharapkan studi oleh pemerintah sebelum aturan berlaku. Misalnya lembaga kredibel yang biasa digunakan menyelidiki atau meneliti bahan barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat, misalnya LIPI, Sucofindo,” bebernya.

Pengusaha muda ini juga mengungkapkan, dalam satu tahun industri likuid Vape mampu meraup omzet Rp 500 miliar. Pertumbuhan omzet ini didorong regulasi yang diterbitkan pemerintah.

“Kan satu komponen berkaitan dengan komponen lainnya. Devicenya kalian bisa menggunakan in one package. Sama seperti handphone, kalau punya hp harus beli pulsanya,” pungkas Eko. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.