Jumat, 29 Oktober 21

Wah, BG Mangkir dari Panggilan KPK Beserta 9 Saksi Lainya

Wah, BG Mangkir dari Panggilan KPK Beserta 9 Saksi Lainya

Jakarta, Obsessionnews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)‎ menjadwalkan pemeriksaan terhadap Calon Kapolri Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan (BG) sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi dan kepemilikan rekening gendut pada Jumat (30/1/2015).

Pemeriksaan kali ini adalah untuk pertama kalinya setelah BG resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 13 Januari 2015. Tepatnya satu hari sebelum mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri itu mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR.

‎Namun, BG dipastikan tidak akan memenuhi panggilan KPK. Hal itu disampaikan oleh kuasa hukum BG, Razman Nasution. Alasanya, karena surat panggilan dari KPK tidak jelas lantaran tidak disertai dengan tanda terima. “Jadi saya pastikan Pak Budi tidak akan hadir ke KPK,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2015).

Alasan lain kata Razman, yakni sampai saat ini BG belum menerima surat dari KPK soal penetapanya sebagai tersangka. Dengan begitu, ia menganggap prosedur hukum yang berlaku di KPK tidak jelas sehingga ia meminta kepada KPK untuk memperbaiki kembali aturan pemanggilan tersangka.

“Bagaimana mau hadir, klein kami juga belum menerima surat penetapan resmi sebagai tersangka,” terangnya.

Sikap BG ini ternyata juga diikuti oleh sembilan saksi lainya ‎dari Kepolisian. Mereka tidak mau memenuhi panggilan Penyidik KPK. Bahkan sebagian dari mereka tidak hadir tanpa ada keterangan yang jelas, seperti halnya Widyaiswara Madya Sekolah staf dan Pimpinan Polri Brigjen Pol Budi Hartono Untung, anggota Polres Bogor Brigadir Triyono, dan Liliek Hartati dari pihak swasta.

Sebelumnya, penyidik juga sudah memanggil tujuh saksi dari anggota Polri maupu purnawirawan. Mereka adalah Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Pol Herry Prastowo, Kepala Polda Kalimantan Timur Irjen Pol Andayono, Wakil Kepala Polres Jombang Komisaris Polisi Sumardji, dan purnawirawan Polri Brigjen Polisi (Purn) Hero Purwanto.

Selain itu, ‎ada juga dosen utama Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Lembaga Pendidikan Polisi Komisaris Besar Polisi Ibnu Istichan, kemudian Aiptu Revindo Taufik Gunawan Siahaan. Mereka tidak ada yang hadir memenuhi panggilan KPK kecuali satu orang yakni Waidyaiswara Utama Sekolah Staf dan Pimpinan Polri Inspektur Jenderal (Purn) Syahtria Sitepu.

KPK menetapkan BG sebagai tersangka dalam kasus korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji selama menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier Debuti Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan lainya di Kepolisian. Duit yang diduga suap itu juga mengalir deras ke rekening anak lelakinya, Herviano Widyatama. Nilainya mencapai Rp 57 miliar.

BG akhirnya dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b, Pasal 5 ayat 2 serta Pasal 11 atau Pasal 12 B Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Budi terancam hukuman maksimal penjara seumur hidup jika terbukti melanggar pasal-pasal itu. (Has)

Related posts