Minggu, 22 September 19

Usut Tuntas Dugaan Oknum Polisi Beri Miras ke Mahasiswa Papua!

Usut Tuntas Dugaan Oknum Polisi Beri Miras ke Mahasiswa Papua!
* Wakil Ketua Komite I DPD RI Fahira Idris. (Foto: Twitter @fahiraidris)

Jakarta, Obsessionnews.com
Peristiwa yang diduga dilakukan oknum polisi memberikan dua dus minuman keras (miras) ke sekretariat Ikatan Mahasiswa Tanah Papua di kawasan Cilaki, Kota Bandung (22/8/2018) sangat disayangkan. Kejadian  ini bertepatan dengan aksi yang digelar mahasiswa Papua di depan Gedung Sate.

Karena tidak senang dengan pemberian miras ini, mahasiswa Papua mengembalikan langsung miras tersebut kepada oknum polisi yang bersangkutan di sela-sela berlangsungnya aksi.

Wakil Ketua Komite I DPD RI Fahira Idris menilai perbuatan yang dilakukan oknum polisi ini sangat tidak pantas dan memalukan. Apalagi tindakan ini dilakukan saat Mahasiswa Papua sedang memprotes dugaan perlakukan rasial yang mereka teruma saat insiden di Surabaya. Pemberian miras ini sangat kontraproduktif dengan usaha semua pihak yang sat ini tengah meredakan ketegangan pasca kerusahan di beberapa daerah di Papua.

“Saya nggak habis pikir, apa yang ada benak oknum polisi tersebut? Tujuannya apa? Apa dia tidak tahu saat ini pemerintah provinsi dan warga Papua sedang berupaya melawan miras dengan melarang total segala jenis minuman beralkohol. Saya minta Polri profesional dan transparan mengusut pemberian miras ini. Usut tuntas agar tidak menjadi persoalan baru lagi,” ujar Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/8/2019).

Ia mengungkapkan, soal larangan miras, Papua sebagai sebuah provinsi sangat tegas dibanding banyak provinsi lain di Indonesia karena mempunyai Perda Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pelarangan Produksi, Pengedaran dan Penjualan Minumal Berakohol. Ini artinya miras dilarang total di bumi Papua. Salah satu alasan pelarangan total miras adalah untuk mencegah pemusnahan penduduk di Papua yang disebabkan oleh minuman beralkohol. Bahkan Kabupaten Manokwari, Papua Barat, sejak 2006 sudah punya peraturan daerah (perda) larangan miras lewat Perda No.5/2006 tentang Larangan Pemasukan, Penyimpanan, Pengedaran dan Penjualan Serta Memproduksi Minuman Beralkohol.

 “Di saat negara ini belum punya aturan setingkat undang-undang yang melarang miras, pemerintah daerah di Papua berinisiatif melindungi warganya dari daya rusak miras yang luar biasa. Kalau tiba-tiba ada yang sengaja memberikan miras ke mahasiswa asal Papua, sekali lagi saya nggak abis pikir. Ini benar-benar tindakan yang sangat keliru,” ujar Fahira yang juga Ketua Umum Gerakan Nasional Antimiras ini.

Namun, fahira berharap kejadian pemberian miras ini tidak menimbulkan persoalan baru. Mahasiswa Papua diminta menyerahkan pengusutan peristiwa ini ke aparat penegak hukum.

Selain itu Fahira juga mendesak pengusutan dugaan diskriminasi rasial yang diterima mahasiswa Papua saat insiden di Surabaya menjadi prioritas diselesaikan dan siapa pun pelakunya harus dihadapkan ke depan hukum. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.