Selasa, 24 November 20

Usamah Hisyam: Islam Perjuangkan Kemerdekaan Pers, Sekarang Jadi Korban

Usamah Hisyam: Islam Perjuangkan Kemerdekaan Pers, Sekarang Jadi Korban
* Ketua Umum PP Parmusi Usamah Hisyam memberikan materi singkat tentang kemerdekaan pers di acara Munas Forjim: Foto Edwin Budiarso/Obsessionnews.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) Usamah Hisyam hadir di acara Musyawarah Nasional (Munas) Forum Jurnalis Muslim (Forjim) ke-1 di Gedung Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kebagusan, Jakarta Selatan, Jumat (5/1/2018).

Dalam kesempatan tersebut Usamah berbicara tentang kemerdekaan pers,  di mana pada 1998 dirinya menjadi anggota Komisi I DPR dari Fraksi PPP. Menurutnya, saat itu Fraksi PPP sangat fokus memperjuangkan lahirnya UU Kemerdekaan Pers yang saat ini menjadi UU Nomor No 40 Tahun 1999.

“Saya kebetulan jadi juru bicara  Fraksi PPP, dan kenapa UU ini lahir? Karena ciri dari reformasi adalah terwujudnya kemerdekaan pers,” ujar Usamah di depan para peserta Munas Forjim.

Waktu itu Usamah mengusulkan paradigma pers diubah dari bebas bertanggung jawab menjadi bebas profesional. Bebas profesional yang dimaksud adalah perusahaan pers tersebut harus profesional dan jelas bisa memenuhi standar gaji karyawannya. Lalu produk jurnalistiknya juga harus jelas, akurat, dan terpercaya.

Namun, setelah reformasi berlalu saat ini Usamah merasakan kemerdekaan pers seolah ingin dimatikan. Faktanya banyak media-media Islam yang diblokir pemerintah. Kejadian seperti ini mirip seperti Orde Baru. “Bedanya sekarang yang dibredel atau yang kena sasaran media umat Islam,” tutur Usamah.

Usamah menegaskan, ini tidak boleh dibiarkan, karena penghapusan media Islam jelas bertentangan dengan UU Kemerdekaan Pers. Ia merasa aneh karena yang pertama mempelopori kebangkitan pers dengan lahirnya UU tersebut adalah kelompok Islam, tapi justru sekarang umat Islam sendiri yang jadi korbannya.

“Ada upaya untuk mematikan kebebasan pers terutama tentang kebangkitan media Islam. Ini aneh karena yang pertama memperjuangkan lahirnya UU Kebebasan Pers umat Islam, justru sekarang menjadi korban,” jelasnya.

Usamah yakin saat ini memang ada oknum yang tidak ingin menghendaki umat Islam bangkit terutama di wilayah kebangkitan pers. Padahal, kata dia, sebagai umat mayoritas di Indonesia, ini bisa menjadi modal besar bagi munculnya kekuatan gerakan Islam yang dimulai dari media-media Islam.

Munas Forjim diadakan sampai Sabtu (6/1). Munas ini mengambil tema “Mengukuhkan Jurnalis Muslim Sebagai Agen Perubahan.” Usamah berharap perubahan itu bisa benar-benar terwujud dengan lahirnya jurnalis-jurnalis Muslim yang punya kekuatan menulis yang hebat, dan daya kritis. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.