Rabu, 20 Oktober 21

Usamah Hisyam Berharap Ormas Islam di Indonesia Kembangkan Akhlak Mulia Lewat Pendidikan Keagamaan

Usamah Hisyam Berharap Ormas Islam di Indonesia Kembangkan Akhlak Mulia Lewat Pendidikan Keagamaan
* Ketua Umum PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Drs. H. Usamah Hisyam, M.Sos. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, obsessionnews.comKetua Umum PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Drs. H. Usamah Hisyam, M.Sos berharap seluruh ormas Islam di Indonesia untuk lebih bekerja keras, berikhtiar, mengembangkan akhlak mulia warga masyarakat dari tingkat desa melalui pengembangan pendidikan keagamaan. Hal itu untuk membentengi akidah umat dengan berbenteng di hati umat agar tidak terpengaruh visi-misi ideologis terselubung yang datang dari luar.

Dia mengungkapkan, dalam konteks itulah ormas Islam Parmusi mencanangkan program aksi manhaj Dakwah Desa Madani dengan 4 pilar utama, yakni menanamkan iman dan takwa, mengembangkan ekonomi, pemberdayaan sosial, dan meningkatkan pendidikan warga.

“Dalam 7 tahun pengamatan saya turun ke desa-desa, dua problematika yang dihadapi umat adalah kemiskinan dan kebodohan. Miskin secara ekonomi dan bodoh tanpa ilmu pengetahuan agama,” ujar Usamah selaku Key Note Speech di webinar Pendidikan Parmusi yang bertema ‘Meningkatkan Peran Ormas Islam dalam Kontribusi Terhadap Kualitas Pendidikan Umat untuk Mempercepat Perubahan Peradaban Bangsa’, Kamis (23/9/2021).

Menurut data Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, pada tahun 2019 terdapat kelompok masyarakat pra-sejahtera dan mendekati miskin sebanyak 9,4 persen atau 5 juta keluarga dari 57.600.000 keluarga. Artinya, bila satu keluarga terdiri atas tiga anggota keluarga, maka terdapat sekitar 15 juta jiwa pra-sejahtera dan miskin.

“Padahal sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa kefakiran mendekati kekafiran (kaadal faqru an yakuna kufran),” ungkap Usamah.

Lebih menyedihkan lagi, lanjut dia, masih banyak warga masyarakat yang belum mengenal huruf Hijaiyah atau Buta Huruf Al-Quran. Sementara itu data yang diungkapkan oleh Ketua Yayasan Indonesia Mengaji, Komjen Pol Syafruddin, sebanyak 65 persen Muslim Indonesia tidak bisa membaca Al-Quran.

“Kondisi tersebut semakin memprihatinkan bila menilik Islamic Index Countries 2019 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-61 dari 151 negara yang melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam,” beber Usamah.

Berdasarkan paparan di atas, maka sudah seharusnya seluruh Ormas Islam untuk berperan dalam memberikan kontribusi lebih signifikan bagi pendidikan umat Islam di Indonesia. Kendati beberapa Ormas Islam telah memelopori gerakan pendidikan islam sejak awal abad 20, namun dirasakan masih belum cukup untuk menjawab problematika dan tantangan dakwah islamiyah saat ini.

Karena itu Parmusi sebagai Ormas Islam dalam Muktamar IV 2020 lalu telah memutuskan untuk ikut serta merintis, berikhtiar, berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan umat melalui para dai dan juga mencanangkan pembangunan kelembagaan pendidikan, terutama  pada tingkatan TPA, pondok pesantren, maupun pendidikan tinggi.

Sebab Parmusi meyakini perubahan peradaban bangsa yang lebih baik hanya dapat dilakukan melalui proses pendidikan islam berkualitas yang mengedepankan akhlak mulia.

“Inilah yang dimaksud Parmusi sebagai bagian dari gerakan politik peradaban, yakni berpolitik melalui jalur dakwah seperti yang dikemukakan Buya Mohammad Natsir. Sungguh pun dalam praktiknya, membangun kekuatan politik dari jalur dakwah memerlukan waktu lebih lama, tetapi hasilnya diyakini akan lebih kokoh sepanjang masa dibandingkan gerakan politik an sich yang sewaktu-waktu dapat tergoyahkan,” kata mantan jurnalis senior Media Indonesia ini.

Oleh sebab itu, lanjut Usamah, Webinar Pendidikan pada hari ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti bagi upaya pengembangan kelembagaan dan corak pendidikan Parmusi yang berkarakter,  sehingga dapat menjawab tantangan dan problematika dakwah secara nasional dan global.

Menurut dia, corak pendidikan yang harus dikembangkan adalah yang mampu membentuk akhlaqul qarimah, dan bisa menumbuh-kembangkan transformasi sosial ekonomi ummat agar sejahtera lahir dan batin, sesuai cita-cita luhur perjuangan Parmusi yang tertera dalam Anggaran Dasar dan Anggara Rumah Tangga organisasi.

“Yakni terwujudnya masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam bangsa Indonesia yang diridhai Allah SWT,”tambah Usamah.

Dengan demikian, corak pendidikan seperti itu bukan sekedar melahirkan para dai atau intelektual muslim yang cenderung menempatkan dakwah islamiyah sekedar tabligh, dan pelaku dakwah seola-olah akan bernasib  dalam  keterbatasan ekonomi;  tetapi sebaliknya harus dapat melestarikan praktik peradaban islam dalam transformasi sosial-ekonomi menjadi socio entrepreneurship agar bisa mendorong ummat menjadi muzakki, tolong menolong, berjihad dengan harta, dan tak kalah pentingnya adalah memiliki skill dalam menguasai kemajuan ilmu pengetahuan teknologi secara global.

“Karena, dalam pandangan saya, berdasarkan pengalaman lapangan selama tujuh tahun di medan dakwah memimpin Parmusi,  secara rasional dakwah islamiyah akan lebih efektif bilamana  militansi yang dimiliki para dai untuk jihad fisabilillah ,  juga didukung dengan logistik dakwah yang memadai. Hal ini perlu dipikirkan dan dikembangkan dalam pendidikan islam yang futuristik untuk menjawab tantangan zaman.  Dengan demikian, out put pendidikan tersebut juga melahirkan keteladanan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berdakwah,” pungkas Usamah. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.