Usai Teliti Fenomena Nabi Palsu, Agus Sabet Doktor di UGM

Usai Teliti Fenomena Nabi Palsu, Agus Sabet Doktor di UGM
Yogyakarta, Obsessionnews.com – Usai melakukan penelitian disertasinya tentang fenomena nabi palsu, dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Agus Himmawan menyabet gelar doktor.  Agus berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Konsep Kenabian Perspektif Perennialisme Frithjof Schuon:Relevansinya dengan Kehidupan Keberagamaan di Indonesia pada ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Filsafat UGM, Jumat (12/8/2016). Dalam disertasinya itu Agus mengungkapkan fenomena seseorang yang mengaku menjadi utusan Tuhan sempat beberapa kali muncul, baik mengaku sebagai ratu adil maupun nabi. Dan hal semacam itu akan teruji dari misi yang diembannya. Jika dalam misi tersebut hanya meninggikan hal-hal yang sudah tinggi dan semakin merendahkan berbagai hal yang sudah rendah, maka tidaklah patut diapresiasi. Sementara itu, jika mampu mentransendensikan hal-hal yang profan dan menemukan kesakralan dalam hal-hal keseharian patutlah mendapat penghormatan. “Selama tidak ada yang menjunjung seseorang yang mengaku sang nabi melebihi batas kemanusiaannya, hal itu tidak akan menjadi masalah. Namun manakala muncul individu-individu yang diagung-agungkan dan dipatuhi melebihi kepatuhan dan ketundukan pada Yang Ilahi maka yang muncul adalah sebuah problema besar,” katanya seperti dikutip dari siaran pers Humas UGM, Jumat (12/8).. Menurutnya, klaim kenabian atau apalagi kerasulan akan menimbulkan masalah dalam masyarakat. Karena logika setiap klaim kenabian atau kerasulan menuntut kepada setiap orang untuk menerima, membenarkan dan beriman kepada pengaku itu. Padahal di antara para nabi sesungguhnya saling melengkapi dan menguatkan guna mengusung pesan yang intinya sama, karena berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. “Inilah substansi kenabian yang bersifat abadi,” katanya. Oleh karena itu, lanjutnya, manakala ada seseorang yang mengaku nabi di Indonesia yang membawa pesan tidak konsisten dengan pesan para nabi terdahulu, patutlah diragukan dan ditolak keabsahan kenabiannya. “Begitupun kesesuaian praktik-praktik keagamaan yang diajarkan para nabi haruslah sesuai dengan nilai-nilai luhur ilahiah,” tandasnya. (@arif_rhakim)Baca Juga:Mahasiswa UGM Kembangkan Wisata Batik di SragenInilah Tompel, Sepeda Onthel Karya Mahasiswa UGMWebometrics Tempatkan UGM Posisi Pertama di IndonesiaUGM Gandeng Coventry University di Bidang Pendidikan dan PenelitianMahasiswa UGM Ciptakan Magnet Elastis Untuk RobotFahmi, Penyandang Disabilitas yang Diterima di UGMMengagumkan! Anak Pemulung Kuliah di FK UGM