Sabtu, 19 Oktober 19

Upacara Yadnya Kasada Suku Tengger Jadi Daya Tarik Bagi Wisatawan

Upacara Yadnya Kasada Suku Tengger Jadi Daya Tarik Bagi Wisatawan
* Upacara Yadnya Kasada yang merupakan wujud persembahan Suku Tengger terhadap Sang Hyang Widhi di kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. (Foto: Kemenpar)

Jakarta, Obsessionnews.com – Upacara Yadnya Kasada yang merupakan wujud persembahan Suku Tengger terhadap Sang Hyang Widhi merupakan salah satu atraksi dan daya tarik wisata yang kuat untuk menarik wisatawan ke Bromo.

Selama ini kawasan Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, membawa berkah tersendiri bagi warga Suku Tengger hingga warga sekitar kawasan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas yakni Bromo Tengger Semeru (BTS).

Salah satu daya tarik wisata yang paling diminati yakni gelaran upacara Yadnya Kasada Bromo yang bermakna dan bertujuan untuk memperoleh berkah, tolak bala atau malapetaka, dan sebagai wujud syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Tengger.

Saat upacara Yadnya Kasada Bromo berlangsung, masyarakat Suku Tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan seperti ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Setiba di bibir kawah bromo semua hasil bumi dan ternak di buang ke dalam kawah Bromo sebagai sesajian.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event 2019 Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty mengatakan, kegiatan melabuh hasil bumi ke kawah Bromo sudah menjadi tradisi turun-temurun warga Tengger yang terus dilestarikan hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, kegiatan sakral ini terbuka untuk umum, bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Ini salah satu tradisi masyarakat Tengger yang saat ini menjadi agenda pariwisata yang cukup potensial mendatangkan wisatawan. Bahkan kalau kita perhatikan, banyak sekali turis asing yang ikut berkunjung ke Bromo,” Esthy sebagaimana dikutip dari siaran pers, Minggu (21/7/2019).

Mul, salah satu warga dari Desa Ngadirejo, sengaja datang untuk berburu sesembahan yang umumnya dilempar warga Tengger pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Kamis (18/7).

Ia membawa serta sang istri, yang juga ikut menangkap lemparan sedekah menggunakan alat tangkap yang dinamakan pemarit.

“Dari rumah kami berangkat sekitar pukul 03.00 pagi dan langsung menuju ke puncak Bromo. Kami menunggu di lokasi hingga siang hari, karena yang melabuh sedekah tidak datang bersamaan. Ada yang pagi, ada juga yang siang baru datang,” tandasnya.

Melihat cara mereka berebut sedekah, membuat sebagian pengunjung justru khawatir. Mengenai hal itu, Mul memastikan tidak akan terjadi apa-apa terlebih, dirinya dan rekan-rekannya sudah berpengalaman dan telah melakukan ini sejak beberapa tahun terakhir.

Setiap kali perayaan Yadnya Kasada, Mul mengaku bisa mengumpulkan lebih dari 70 kg kentang belum termasuk kol, uang, dan lain-lain. Karena sesajian yang dilabuh warga Tengger jenisnya memang beragam.

“Barang-barang ini nantinya kita jual ke pasar. Jadi hasilnya tergantung harga komoditas tersebut. Jika harga kentang sedang mahal, uang yang kita dapat pun lumayan. Sebagian kecil saja yang kita konsumsi sendiri,” jelasnya.

Pada Jumat (19/7) lalu Gunung Bromo mengalami erupsi sekitar pukul 16.37 WIB.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sempat melarang aktivitas wisatawan di puncak dan lereng Gunung Bromo dengan alasan keamanan. Meski masih level II masyarakat diminta mengutamakan keselamatan.

Wisatawan dan masyarakat diminta menjauh dari kawasan puncak gunung dalam radius 1 km. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.