Senin, 3 Oktober 22

Tutur Katanya Kasar, Ahok Dinilai Gagal Pimpin DKI

Jakarta, Obsessionnews.com –  Basuki Tjahaja  Purnama yang biasa disapa Ahok naik kelas dari semula Wakil Gubernur menjadi Gubernur DKI Jakarta, menggantikan Joko Widodo (Jokowi) yang terpilih menjadi Presiden pada 2014. Ahok dilantik sebagai Gubernur DKI oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada Rabu, 19 November 2014.

Saat Ahok menduduki kursi DKI 1, sejumlah media mengelu-elukannya bak pahlawan. Ahok dipuji sebagai tokoh yang bersih dan berani memberantas korupsi.

Namun, citra serba positif tentang Ahok tersebut dilibas oleh buku Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok  yang diluncurkan di Gedung DPR RI, Selasa (23/5/2017). Buku ini ditulis oleh Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara.

Peluncuran buku “Usut Tuntas Dugaan Korupsi Ahok, Menuntut Keadilan Untuk Rakyat” karya Marwan Batubara di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (23/5/2017).‎ (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com)

Dalam buku ini diungkapkan selama menjabat sebagai Gubernur DKI, kemampuan kepemimpinan Ahok banyak menuai kritik. Gaya kepemimpinannya yang kasar pun kerap dikritisi. Beberapa pengamat menilai Ahok gagal memimpin DKI. Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UN) Siti Zuhro mengatakan, kebijakan Ahok memimpin Jakarta berbanding terbalik dengan janji-janji politik saat kampanve pilkada. Tutur katanya kasar dan kebijakannya tidak berpihak kepada masyarakat.

Salah satu contoh adalah kebijakan menggusur pemukiman yang menggunakan aparat hankam. Padahal, ketika berkampanye warga dijanjikan akan dilindungi dan akan hidup lebih sejahtera. Namun dalam dua tahun terakhir (2014-2016), kebijakan otoriter pola Orde Baru kembali muncul. Pada era demokrasi sekarang ini, menurut Siti Zuhro, Ahok tidak melakukan komunikasi dua arah. Sehingga saat kampanye mencalonkan kembali menjadi Gubernur (2017), justru banyak menuai resistensi. Padahal, umumnya para petahana saat berkampanye selalu mendapatkan dukungan masyarakat. Namun, baru di Jakarta terjadi, di mana saat berkampanye calon petahana justru ditolak sebagian warga.

Ketua Dewan Pendiri dan Peneliti Politik/Pemerintahan Network For South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap.

Sementara itu Ketua Dewan Pendiri dan Peneliti Politik/Pemerintahan Network For South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap, menyebutkan, berdasarkan data mengenai kepemimpinan Ahok, kondisi kehidupan rakyat memburuk jika dibandingkan dengan kepemimpinan sebelumnya. Angka kemiskinan dan angka pengangguran di DKI meningkat. Penataan kawasan kumuh zaman Ahok lebih dari 60% penggusuran tidak diberikan solusi apa pun bagi warga. Lebih 80% dilakukan secara sepihak tanpa musyawarah. Terkait kemacetan, janji 1.000 bus untuk ganti angkutan umum lainnya, faktanya belum ada satu pun, perusahaan angkutan justru disuruh membeli. Pengadaan bus hanya 150 bus.

Berdasarkan beberapa fakta tersebur, kata Muchtar, Ahok dapat dinilai tidak layak memimpin dan gagal meningkatkan kondisi kehidupan rakyat DKI Jakarta menjadi Iebih baik. Program kebijakan tidak menghasilkan output yang bermanfaat bagi warga dan sebagian besar janji-janji kampanye gagal diwujudkan.

Menurut Muchtar, isu-isu SARA yang kerap kali muncul ketika kampanye justru dibuat sendiri oleh Ahok dan tim suksesnya. Ahok sendiri bersama tim sukses yang mengusik umat Islam dan menciptakan isu-isu SARA. Terdapat beberapa kebijakan, tindakan ataupun perkataan Ahok yang terbukti menyudutkan umat Islam. Kemudian, Ahok justru memanfaatkannya sebagai isu kesatuan ataupun anti kebhinekaan, serta mengemasnya dengan menggunakan manajemen konflik.

Ahok Hina Alquran dan Ulama

Ahok pemeluk  agama Kristen Protestan.  Warga keturunan Cina ini  dengan lancang mencampuri urusan agama lain, yakni Islam. Ia menyinggung soal Alquran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu Ahok antara lain mengatakan,”..jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.

Ucapan mantan politisi Partai Gerindra tersebut membuat umat Islam tersinggung dan melaporkannya ke polisi. Sementara itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam pernyataan sikap keagamaannya, Selasa (11/10/2016), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Alquran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Pernyataan Ahok tersebut menimbulkan gelombang demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah di tanah air.  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) mengoordinir massa berunjuk rasa yang dibingkai dengan sebutan Aksi Bela Islam (ABI) di Jakarta pada tahun 2016 dengan tuntutan tangkap dan penjarakan Ahok. ABI jilid 1 digelar pada Jumat (14/10/2016) atau dikenal dengan sebutan Aksi 1410. GNPF MUI kembali menggelar ABI jilid 2 pada Jumat (4/11/2016) atau Aksi 411 dan ABI jilid 3 pada Jumat (2/12/2016) atau Aksi 212.

Jutaan orang mengikuti Aksi Bela Islam 3 yang menuntut Ahok dipenjara di Jakarta, Jumat (2/12/2016). (Foto: Edwin B/Obsessionnews.com).

Aksi 1410 diikuti ribuan orang. Jumlah peserta meningkat menjadi sekitar 3,2 juta orang pada Aksi 411. Antusiasme warga Muslim terus meningkat menjadi sekitar 7,5 juta orang pada Aksi 212.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11/2016). Statusnya berubah menjadi terdakwa saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Selasa (13/12/2016).

Setelah Ahok menjadi terdakwa gelombang unjuk rasa anti Ahok terus bergulir. Massa dari berbagai ormas yang dikoordinir Forum Umat Islam (FUI) menggelar Tausiyah Nasional di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (11/2/2017).

FUI kembali menggelar massa berunjuk rasa di Gedung DPR/MPR pada Selasa (21/2/2017). Selain menuntut Ahok dipenjara, dalam aksi ini juga menuntut Ahok dipecat dari jabatannya.

Karena tuntutannya tak dipenuhi, massa yang dikoordinir FUI yang kembali menggelar demonstrasi besar-besaran di sekitar Istana Presiden pada Jumat (31/3/2017).

Pada Jumat (5/5/2017) GNPF MUI menggelar unjuk rasa besar-besaran di sekitar Gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat. Demo yang dikemas dengan label Aksi Simpatik 55 ini menuntut Ahok dipenjara.

Dalam sidang ke-20 kasus dugaan penodaan agama yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/4/2017), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti melakukan perasaan kebencian di muka umum dan menyinggung golongan tertentu.

“Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama terbukti bersalah menyatakan perasaan kebencian,” ujar ketua tim jaksa Ali Mukartono.

Ahok dianggap jaksa terbukti melakukan penodaan agama karena menyebut Surat Al-Maidah saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Penyebutan Surat Al-Maidah ini, menurut jaksa, dikaitkan Ahok dengan Pilkada DKI Jakarta.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun,” ujar jaksa.

Ahok menyampaikan pledoi (pembelaan) dalam sidang  ke-21, Selasa (25/4/2017) di tempat yang sama.  Dalam pledoi yang berjudul Tetap Melayani Walaupun Difitnah, Ahok mengibaratkan dirinya sebagai ikan kecil Nemo yang berenang di Jakarta.

Dalam sidang ke-22, Selasa (9/5/2017), Ahok dinyatakan terbukti bersalah melakukan penodaan agama tentang Alquran Surat Al Maidah 51. Untuk itu dia dihukum 2 tahun penjara. Hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto menyatakan Ahok  terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penodaan agama dengan penyebutan surat Al Maidah 51.

“Dari ucapan tersebut terdakwa telah menganggap surat Al Maidah adalah alat untuk membohongi umat atau masyarakat, atau surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan dan dengan adanya anggapan demikian maka menurut pengadilan terdakwa telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat 51,” papar hakim dalam pertimbangan hukum.

Setelah divonis dua tahun penjara, sang Ahok  langsung meringkuk di hotel prodeo.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini bermakna orang yang mendapat musibah secara beruntun.  Itulah nasib Ahok. Ia kalah dalam Pilkada DKI 2017 putaran kedua yang digelar pada Rabu (19/4) lalu. Ahok yang berpasangan dengan Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat takluk melawan duet Anies-Baswedan. Setelah kalah di Pilkada ia masuk penjara.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4). Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara atau 57,96%. Sedangkan Ahok-Djarot mendapat 2.350.366 suara atau 42,04%.

Jumat (5/5) KPU DKI menetapkan Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih. Anies-Sandi akan dilantik pada Oktober mendatang untuk periode 2017-2022.

Setelah kalah di Pilkada DKI 2017, kini Ahok meringkuk di penjara. (kapoy/arh)

 

Baca Juga:

Ahok Penggusur Paling Brutal dalam Sejarah Indonesia

Amien Rais: ‘Ahok Itu Songongnya Menyundul Langit’

Ahok Harus Segera Diadili dalam Dugaan Korupsi RS Sumber Waras

Ahok Bukan Sosok Bersih

Amien Rais Duga Ahok Lakukan Korupsi‎

FOTO Peluncuran Buku Dugaan Korupsi Ahok

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.