Kamis, 23 Januari 20

Turunkan Intelijen, Polisi Selidiki Seluk Beluk Keraton Agung Sejagat

Turunkan Intelijen, Polisi Selidiki Seluk Beluk Keraton Agung Sejagat
* Susana di dalam Keraton Agung Sejagat (Foto; Merdeka))

Semarang, Obsessionnews.com – Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tengah diramaikan dengan kabar berdirinya kerajaan baru bernama Keraton Agung Sejagat. Pihak keraton mengaku daerah kekuasaan mencakup seluruh dunia.

Kemunculan keraton baru itu membuat resah warga. Polisi juga turun tangan menyelidiki lebih dalam motif di balik berdirinya Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo.

“Kami ingin mengetahui motif apa di balik deklarasi keraton tersebut,” kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel di Semarang, Selasa (14/1/2020).

Intelijen dan reserse kriminal umum pun diterjunkan untuk mengumpulkan data-data berkaitan dengan keraton pimpinan Totok Santosa Hadiningrat tersebut. Pengumpulan data berkaitan dengan profil sekaligus aspek legalitasnya.

“Negara kita adalah negara hukum. Pertama-tama kita akan mempelajari aspek legalitas,” ucap Rycko.

Tidak hanya itu, kata dia, aspek sosial kultural, termasuk kesejarahan. Jangan sampai kemunculan Keraton Agung Sejagat meresahkan warga, dan membuat masalah baru. Sehingga semua info tentang keraton ini harus diselidiki.

Sebelumnya diberitakan, Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, Jumat (10/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).

Keraton Agung Sejagat dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja.

Berdasarkan informasi, pengikut dari Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang.

Penasihat Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat menegaskan, Keraton Agung Sejagat bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.

Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang Barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518

Joyodiningrat mengatakan, dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan barat mengontrol dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II.

Itu mengapa kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.