Sabtu, 4 Desember 21

Tradisi Unik Masyarakat Biak di Festival Muara Wampasi 2019 Sedot Perhatian Wisatawan

Tradisi Unik Masyarakat Biak di Festival Muara Wampasi 2019 Sedot Perhatian Wisatawan
* Festival Biak Muara Wampasi VII di Kepulauan Biak, Papua, 1-6 Juli 2019. (Foto: Kemenpar)

Jakarta, Obsessionnews.com Tradisi unik masyarakat di Kepulauan Biak, Papua, menyedot perhatian bagi wisatawan yang mengunjungi Festival Biak Muara Wampasi VII di Kepulauan Biak, 1-6 Juli 2019.

Sekretaris Daerah Kepulauan Biak Markus Mansnebra saat di Biak, Rabu (3/7/2019), mengatakan, Biak mempunyai tradisi seni dan kebudayaan yang beragam, antara lain snap mor atau menangkap ikan di air laut surut, dan apen beyeren atau berjalan kaki di atas batu panas. Budaya unik masyarakat Biak ini ditampilkan pada Festival Biak Munara Wampasi 2019.

“Selain atraksi yang dihadirkan pada festival tersebut, wisatawan pun bisa melakukan snorkeling untuk mengamati biota laut dan terumbu karang di Spa Biak. Daerah ini juga memiliki destinasi wisata unggulan lain, yaitu Telaga Samares, Pantai Batu Picah, dan Gua Jepang,” tuturnya

Dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Sabtu (6/7), disebutkan pagelaran budaya yang berbalut pariwisata ini semakin membuka mata masyarakat untuk senantiasa mengubah haluan dari bidang kelautan di mana masyarakatnya lebih banyak bekerja sebagai nelayan, kini perlahan mulai berfokus kepada pariwisata.

“Sebagian besar masyarakat di Biak sudah semakin sadar, bahwa pariwisata membawa dampak yang baik terlebih dengan mengutip ungkapan Menteri Pariwisata Arief Yahya, bahwa pariwisata semakin dilestarikan semakin menyejahterakan. Hal tersebut, semakin nyata bahwa pariwisata bisa memberikan dampak besar bagi perekonomian selain sebagai nelayan,” tandasnya.

Di tempat yang sama, anggota Calender of Event Kemenpar Raseno Arya mengungkapkan, festival ini juga semakin memperlihatkan keberadaan pariwisata Indonesia dari sisi yang lain, yakni sisi budaya.

“Biak menjadi salah satu pulau paling indah di Indonesia Timur. Selain kekayaan alam, ada juga pulau tiga warna. Kita melihat bahwa kekuatan budaya sangat menonjol, sehingga sangat layak untuk dipelihara dan dilestarikan, nuansa budaya juga harus lebih dikentalkan lagi,” katanya.

Dengan melihat latar belakang sebelumnya, di mana di tahun 1990-an di Biak pernah didaratkan maskapai asing yang bertujuan ke Honolulu maupun Jepang. Oleh karena itu perlu dihidupkan kembali, sehingga Biak semakin dikenal kembali karena keindahan alam yang dimilikinya.

“Kita bisa lihat, selain pesawat ATR dan bombardier maka pesawat boeing sudah mendarat di Bandara Biak Artinya pasokan wisatawan yang datang juga semakin besar dan mudah untuk menikmati pariwisatanya. Belum lagi Biak memiliki wisata sejarah, di dalamnya salah satunya adalah Goa Jepang,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.