Rabu, 13 November 19

Tito Karnavian Polisi Cerdas yang Dipercaya Jadi Mendagri

Tito Karnavian Polisi Cerdas yang Dipercaya Jadi Mendagri
* Tito Karnavian bersama Habib Luthfi dan Almarhum KH. Maimun Zubair. (Foto: Humas Polri)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sukses memimpin kepolisan, eks Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian akhirnya dipilih Presiden Joko Widodo untuk menduduki jabatan barunya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menggantikan Tjahjo Kumolo. Tak ada yang menyangka jenderal bintang empat itu akan duduk sebagai pejabat eksekutif.

Pasalnya, penunjukan Tito berlangsung secara cepat. Sehari setelah Presiden Jokowi dilantik, Senin (21/10/2019) Tito langsung mengajukan pengunduran diri melalui Surat Presiden Jokowi kepada DPR. Surat itu langsung disetujui oleh anggota DPR dalam sidang paripurna Selasa (22/10).

Memang bukan tanpa alasan jika Jokowi mengangkat pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964 itu sebagai menteri di Kabinet Indonesia Maju. Terlebih sebagai Mendagri. Jabatan itu dianggap tepat. Sebab, saat menjadi Kapolri Tito banyak terlibat melakukan urusan dalam negeri, khususnya dalam pengamanan negara dan pemerintahan.

Tidak hanya itu, selain cerdas, di bawah kepemimpinan Tito citra polisi semakin baik dan dekat dengan masyarakat. Banyak prestasi memukau selama menjalankan tugasnya di kepolisian. Termasuk kariernya di dunia kepolisan juga dibilang kinclong.

Bagaimana tidak, Tito termasuk seorang polisi yang mendapatkan kenaikan pangkat cukup cepat. Saat masih menyandang pangkat AKBP, ia memimpin tim Densus 88 yang berhasil melumpuhkan teroris Dr. Azahari di Batu, Malang,  Jawa Timur, pada 9 November 2005.

Dengan kinerjanya tersebut pria lulusan Massey University, New Zealand itu mengalami kenaikan pangkat tecepat dari Kapolri saat itu yang masih dijabat Jenderal Pol. Sutanto, serta dengan para kompatriotnya, seperti Idham Azis, Saiful Maltha, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel, dan lainnya.

Dia juga pernah memimpin sebuah tim khusus kepolisian yang berhasil membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M. Top. Atas prestasi tersebut, pangkatnya dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal Polisi dan diangkat menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri.

Karier Tito semakin terlihat jelas dan mendapat apresiasi dari masyarakat, memang saat dia menjabat Kepala Densus 88. Pria berusia 54 ini dikenal gigih dan pantang menyerah dalam menjalankan suatu pekerjaan. Karenanya wajar, Tito selalu dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.

Sebelum menjadi Kapolri, ia sempat menjabat Kapolda Papua dan Kapolda Metro Jaya. Pada 14 Maret 2016, dia kembali diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggantikan Komjen Pol Saud Usman Nasution yang memasuki masa pensiun.

Tak lama menempati posisinya yang baru saat itu, ternyata Presiden Jokowi mengirimkan surat kepada DPR, yang isinya menunjuk Tito sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Jenderal Pol. Badrodin Haiti yang akan segera pensiun.

Akhirnya anak kedua dari enam bersaudara itu dilantik sebagai Kapolri oleh Jokowi pada 13 Juli 2016. Dengan jabatan tersebut, Tito menjadi lulusan AKPOL angkatan 1987 tercepat yang menyandang pangkat bintang empat.

Kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai Kapolri, Tito berhasil menciptakan keamanan dan ketertiban dalam negeri. Puncaknya, ia sukses menjadikan Pemilu 2019 berlangsung dengan aman, dan tentram tanpa ada gejolak dalam sekala yang besar dari masyarakat. Ia juga dikenal dekat dengan ulama.

Dipandang sukses dalam karier, suami Tri Suswati juga cerdas dalam pendidikan yang ditempuhnya. Tito pernah bersekolah di SMA Negeri 2 Palembang. Saat duduk di kelas tiga SMA, dia mulai mengikuti ujian perintis dan hasilnya semua tes yang dijalaninya lulus.

Hal itu dimulai dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Kedokteran di Universitas Sriwijaya, Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Sangat membanggakan, Tito lulus dalam keempat tes tersebut. Tetapi yang dipilih adalah AKABRI, terutama Akademi Kepolisian. Dia melanjutkan sekolahnya itu pada tahun 1987 karena gratis dan tidak ingin membebankan biaya orang tuanya.

Tahun 1993, ayah tiga anak ini menyelesaikan pendidikan di Universitas Exeter di Inggris dan meraih gelar MA dalam bidang Police Studies. Lalu dia juga menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di Jakarta tahun 1996 dan meraih Strata 1 dalam bidang Police Studies.

Tito mengakui awalnya keinginannya menjadi polisi tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya, Muhammad Saleh dan Supriatini. Orang tua Tito ingin anak kesayangannya itu bisa menjadi dokter. Harapan orang tuanya rupanya tidak sesuai dengan cita-citanya ingi jadi polisi.

Namun, pencapaiannya Tito tidak sia-sia. Dengan kegigihannya menjalankan tugas, dia mampu membuktikan prestasi yang gemilang mulai dari dihadiahi kenaikan pangkat secara bertahap dan puncaknya kini Tito sudah menjadi Kapolri.

“Kepada masyarakat mari kita dukung upaya-upaya untuk mewujudkan Polri yang lebih professional dan amanah. Kami membuka diri, menampung aspirasi dan pandangan dari semua elemen masyarakat, untuk mendudukan Polri menjadi pelindung dan pengayom bagi segenap warga bangsa,” ujar Tito dilansir dari situs resmi Polri, saat pengangkatannya menjadi Kapolri baru saat itu.

Sekarang tugas berat kembali menanti Tito. Namun dengan segudang pengalaman dan prestasinya, publik banyak yang percaya Tito mampu mengemban amanah barunya sebagai Mendagri. Tito pun mampu mencetak sejarah, ia adalah Kapolri pertama yang ditunjuk sebagai menteri. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.