Sabtu, 13 Agustus 22

Tangkal Bully dengan Humor

Tangkal Bully dengan Humor
* Acara seminar edukasi berjudul ‘Perempuan: Tangkal Bully dengan Humor’ pada Sabtu (25/6/2022) secara virtual. (Foto: LSPR)

Obsessionnews.com – Kasus kekerasan yang menimpa perempuan di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Selama 2021, kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan dua kali lipat, apabila dibandingkan dengan 2020. Tercatat 4.500 kasus yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan.

Isu kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terbatas pada tindak kekerasan fisik saja, tetapi juga berupa kekerasan verbal.

Menanggapi hal ini, LSPR melalui Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) bekerja sama dengan mitra Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat untuk mengedukasi para perempuan untuk menghadapi bully melalui seminar edukasi berjudul ‘Perempuan: Tangkal Bully dengan Humor’ pada Sabtu (25/6/2022) secara virtual.

Baca juga: LSPR Kembali Selenggarakan PAC dan Teater Festival

Peserta yang hadir secara virtual 100% adalah perempuan yang berdomisili di berbagai daerah di Indonesia, seperti: Jabodetabek, Malang, Yogya, Bandar Lampung, Medan, Mojokerto, Sidoarjo, Bali dan Tanjung Balai. Termasuk dari Luar Negeri, yaitu Auckland dan Kairo.

Dalam keterangan tertulis LSPR yang diterima obsessionnews.com, Selasa (28/6) menginformasikan, seiring dengan perkembangan teknologi internet, kekerasan verbal juga terjadi di dunia maya. Keberadaan media sosial makin memperkuat sosok perempuan yang dibingkai dalam pemberitaan yang memperburuk citra wanita di tengah masyarakat.

Realita bahwa perempuan Indonesia hidup di masyarakat yang kental dengan budaya patriarki, sehingga menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua, tidak kompeten untuk bisa berpikir, hingga pemberitaan media seputar kasus kekerasan yang menggunakan pilihan diksi yang tidak berpihak dan menyudutkan korban.

Identifikasi permasalahan terkait kekerasan pada perempuan, yang dibagi menjadi 3 hal, yaitu: 1) Kurangnya kesadaran akan bentuk-bentuk kekerasan verbal dan teks terhadap perempuan; 2) Kurangnya edukasi mengenai humor dan komedi bagi pemberdayaan perempuan; 3) Kurangnya wadah yang aman dan nyaman untuk menyuarakan aspirasi anti kekerasan terutama verbal dan teks.

Baca juga: Terus Fasilitasi UMKM Mahasiswa Goes Digital, Bhinneka dan LSPR Communication & Business Institute Luncurkan Lokapasar LSPR Plaza

Hadir sebagai narasumber yang semuanya perempuan, Dosen LSPR terdiri dari Novrita Widiyastuti, Grace Wattimena dan Emilya Setyaningtyas.

Dalam kesempatan itu, Grace menjelaskan, bullying verbal menggunakan kata – kata dan lisan, seperti mengancam, mempermalukan, sarkasme, merendahkan, mencela, memberikan panggilan nama dan mengintimidasi. Pelaku tindakan bullying juga terjadi dari lingkungan terdekat hingga di media sosial.

“Tindakan bullying verbal bersifat irreversible, sekali terucap maka tidak bisa ditarik kembali. Bullying memiliki dampak yang dirasakan oleh korban seperti kecemasan, insomnia, stres, depresi, menyendiri, hilang kepercayaan diri, rentan sakit, mengkonsumsi alkohol dan narkoba,” ujar Grace.

Melalui seminar ini, pembicara mengajak untuk merespon bully dengan interaksi. Interaksi ini sebagai respon nyata untuk menunjukkan kekuatan diri. Interaksi dapat dilakukan dengan humor, sebagai suatu sarana interaksi antara penutur dan lawan tutur.

Humor bukan hanya sekedar mengundang tawa orang lain, tetapi juga bentuk komunikasi untuk pertahanan diri.

Baca juga: Kerja Sama di Bidang Pendidikan, LSPR dan NYFA Gelar Hybrid MoU Signing Ceremony

Sementara itu, Novrita menjelaskan, bagaimana cara menangkal bully dengan humor. Korban bully dapat mencari cara untuk menemukan hal yang lucu, dengan cara membaca sekeliling dan situasi, mendapatkan referensi melalui menonton dan observasi, serta perlu memiliki toples lelucon, sebagai bahan lelucon yang dapat digunakan.

“Unsur humor menjadi penting dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan, sekaligus antisipasi dampak gangguan psikis akibat kekerasan. Pengalaman banyak orang mengenai humor bisa mendukung kesehatan mental yang baik, karena humor diyakini dapat melepaskan seseorang dari tekanan depresi dan keadaan mental yang buruk,” ujar Novrita.

Dalam kasus bullying, kalau korban merasa diserang, humor bisa berfungsi menjadi pertahanan, dengan menerapkan metode de-escalate dan self-enhancing. De-escalate, situasi terjadi konflik dan bully, di mana situasi memanas, maka bisa menggunakan humor dengan jenis jokes bapak-bapak.

Humor di sini berperan untuk menurunkan kadar tingkat tensi situasi. Sedangkan self-enhancing digunakan untuk bertahan tetapi menggunakan pesona diri sebagai bahan humor.

Novrita menambahkan, gaya humor terdiri dari empat, affiliative, menggunakan lelucon atau candaan untuk memperkuat ikatan interpersonal (tidak ada yang jadi korban), aggressive dengan menggunakan sarkasme dengan menjatuhkan orang lain yang memang bertujuan untuk menyakiti dan memanipulasi. Self-enhancing menggunakan humor untuk menghibur diri sendiri dan menemukan kelucuan hidup.

“Self-defeating menyenangkan orang lain dengan mengolok dirinya secara berlebihan. Seminar ditutup dengan studi kasus terkait kasus bully yang pernah terjadi di kalangan peserta yang dipandu oleh Emilya. Sesi dibuat secara interaktif, sehingga mengundang keterlibatan peserta untuk turut menjawab,” ucapnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.