Minggu, 25 Agustus 19

Taman Ismail Marzuki sebagai Taman Peradaban

Taman Ismail Marzuki sebagai Taman Peradaban
* Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: Humas Pemprov DKI).

Renungan Dalam Rangka Temu Kangen Aktivis 80-90

 

Oleh :  Khalid Zabidi, Aktivis 98 ITB

 

Gubernur DKI Ali Sadikin memindahkan binatang-binatang yang berada di Kebun Binatang Jakarta yang berada di kompleks rekreasi umum yang dikenal Taman Raden Saleh (TRS) ke Kebun Binatang Ragunan.

Kemudian Bang Ali, begitu dia dipanggil dan dikenang, mendirikan ruang publik untuk ekspresi kebudayaan dan kesenian bagi dan untuk warga Jakarta.

Dengan tanah seluas 9 hektare Bang Ali membangun fasilitas gedung pertunjukan, sekolah dan fasilitas pendukung untuk berkegiatan kesenian.

Pada tanggal 10 November 1968 berdirilah sebuah ruang kebudayaan dan kesenian di Jakarta yang boleh jadi adalah ruang kebudayaan dan kesenian pertama di Indonesia di era Indonesia merdeka.

Bang Ali Sadikin yang berlatar belakang militer tapi tak surut mempromosikan nilai nilai keterbukaan, persamaan dan demokrasi dalam setiap programnya menjadikan  Taman Ismail Marzuki bukan hanya sebagai pusat pergerakan kebudayaan dan kesenian,  namun  kerap kali bersinggungan dengan dinamika pergerakan sosial politik.

Ruang-ruang keterbukaan yang dinamis adalah ciri dari Taman Ismail Marzuki sejak dulu hingga kini, berisi pertemuan dan diskusi dari para budayawan, seniman dan aktivis sosial. Ide-ide kesenian dan sosial politik berpilin, berajut dan bersenyawa menjadi inspirasi bukan hanya pada medan sosial seni saja melainkan melebar dan meluas pada medan sosial kemasyarakatan.

Sejarah mencatat dari Taman Ismail Marzuki telah lahir budayawan dan seniman unggul berkelas dunia dengan kerendahhatian dan mengakar pada pribadi nasional, sebut saja WS. Rendra, Gus Dur, Salim Said, Sutardji Chalzoum Bachri, Sardono, Jose Rizal Manua, Ratna Sarumpaet, Chaerul Umam,  dan nama-nama besar lainnya yang telah menghidupkan dan mengharumkan nama kebudayaan dan kesenian di Jakarta secara khusus maupun Indonesia.

Pergulatan pemikiran estetika, kritisisme dan kemasyarakatan beradu dan berpadu, dalam musik, sastera, film, drama dan kesenian lainnya tidak hanya mengejar kebaruan dan eksperimentasi instrinsik seni melainkan juga mempertanyakan nilai nilai soal misalnya terkait dengan keadilan sosial di dalam masyarakat.

Aktivis 80-90, Anies Baswedan dan Indonesia Berkeadilan Sosial

Hari ini, Jumat 2 Maret 2018, Taman Ismail Marzuki kembali akan menjadi saksi terjadinya pertukaran idealisme dan gagasan antara medan kesenian dan medan sosial kemasyarakatan. Di mana ratusan aktivis dari dua  generasi berbeda, para aktivis mahasiswa tahun 80-an dan para aktivis mahasiswa 90-an dari berbagai kota, walau acara ini berjudul  “Temu Kangen” melepas rindu bertahun tidak berjumpa namun tidak sedikit kalangan aktivis pergerakan ini gelisah dan bersikap kritis terhadap kondisi bangsa dan negara.

Kegelisahan dan kekritisan adalah ciri mendasar para aktivis sejak masa lalu. Bila merujuk perjalanan pergerakan mahasiswa sejak tahun 80-an dan 90-an adalah cerita keras tentang jalan yang terjal mendaki melawan kekuasaan yang lalim.

Siang malam melihat dan mengalami sikap keras aparat militer, represifitas aparat, kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, hingga penumpukan modal kekayaan hanya pada segelintir orang.

Melakukan kerja kerja konsolidasi, latihan-latihan pengkaderan dan mendampingi warga tergusur, mendampingi buruh tertindas jadi ciri gerakan mahasiswa 80-an dan 90-an. Waktu, tenaga dan uang orangtua dikeluarkan demi sebuah cita-cita sebuah bangsa negara yang demokratis,  adil dan makmur.

Hari ini, di Taman Isma Marzuki, semoga kangen-kangenan para aktivis mahasiswa 80-an dan 90-an bukan sekadar menjadi nostalgia namun dapat menjadi ajang bertukar gagasan, beradu visi dan persenyawaan harapan tentang bagaimana negara bangsa ini di kelola sebaik-baiknya.

Tentu harapan kita, pemikiran- pemikiran Anies Baswedan, Syahganda Nainggolan, Fahri Hamzah, Ferry Juliantono, Andi Arief dan nama-nama besar aktivis lainnya yang akan hadir di Taman Ismail Marzuki hari ini akan melahirkan pemikiran terobosan yang dapat membuka mata rakyat tentang persoalan mendasar yang mendera bangsa.

Kekuasaan telah silih berganti,  perubahan yang diharapkan tidak terlalu berarti. Kini kita paham, kekuasaan bukan hanya diperebutkan, perubahan bukan hanya diucapkan.

Kekuasaan harus di pastikan bisa membuat perubahan yang berarti, kekuasaan harus menggerakkan anak bangsa untuk bangkit,  kekuasaan harus mewujudkan Indonesia yang berkeadilan sosial.

Taman Ismail Marzuki akan kembali menjadi saksi lahirnya sebuah peradaban.

 

TIM, 2 Maret 2018.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.