Kamis, 6 Oktober 22

Sukarno-Natsir, Parkindo-Masyumi-Soekiman: Hari-hari indah Persatuan Nasional

Sukarno-Natsir, Parkindo-Masyumi-Soekiman: Hari-hari indah Persatuan Nasional
* Soekiman.

Oleh: Lukman Hakem, Penulis Buku Biografi

Pengantar Penulis: Setelah diinterupsi oleh stroke yang menyebabkan saya harus beristirahat total selama tiga bulan, alhamdulillah buku ini selesai ditulis dan sekarang sudah dihadapkan pada pembaca yang Budiman.

Ketika tangan kiri tidak bisa digerakkan, saya sudah pesimis apakah penulisan buku ini dapat diselesaikan. Untuk hal ini saya harus menyebut sebuah nama, kawan karib : Dr. Ir. Sabar Sitanggang. Suatu senja, Bung Sitanggang menelepon saya, bertanya kabar dan perkembangan kesehatan saya. “Alhamdulillah,” jawab saya.

“Berangsur pulih, hanya tangan kiri belum bisa digerakkan. Padahal saya masih punya PR menyelesaikan Biografi Dr. Soekiman Wirjosandjojo,” ujar saya pesimis.

Dengan semangat seperi biasanya, Bung Sitanggang menyemangati dan membesarkan hati saya. “Abang” demikian Bung Sitanggang menyapa saya. “Jangan berkecil hati. Abang masih ingat senior kita Dr. Kuntowijoyo? Beliau sakit hingga tidak menggerakkan seluruh tubuhnya. Tapi, dalam ketidakberdayaannya Pak Kuntowijoyo makin produktif, tulisan-tulisannya makin jernih dan bermutu. Saya doakan abang bisa mengikuti jejak Dr. Kuntowijoyo.”

Nasihat Bung Sitanggang sungguh-sungguh membangkitkan semangat saya.

Segera saya kumpulkan buku-buku yang beberapa saya tulis, lalu saya minta anak-anak saya untuk membaca bahan-bahan itu dan mengetik. Tidak cuma anak, cucu sekaligus asisten kecil saya, Alizha Wardatunnisa Hakiem (13 tahun), kebagian tugas. Cucu pertama yang secara otodidak relatif bisa berbahasa Inggris lisan dan tulisan, saya minta menerjemahkan penggalan pendapat Dr. Abu Hanifah. Hasilnya dapat dibaca ditulisan pertama buku ini pada bagian kedua: Seranai Apresiasi.

Mohon doa agar Alizha yang pada 22 Juli 2022 mulai memasuki jenjang pendidikan SMP di Pondok Pesantren Darul Ulum Lido mendapat ridho, bimbingan dan perlindungan Allah SWT dalam meraih cita-citanya.

Mengapa Soekiman?

Soekiman adalah fenomena. Meskipun  tidak mengategorikan aktivis Partai Syarikat Islam sebagai santri, tetapi peserta Kongres Ummat Islam Indonesia pada awal November 1945 dengan bersemangat menaruh Soekiman dengan mendudukkannya di kursi Ketua Umum Pengurus Besar Masyumi. Partai yang mewarisi perjuangan umat Islam Indonesia.

 

Baca juga:

Soekiman Wirjosandjojo: Mengapa Saya Dikecualikan?

NU dan Masyumi Berpisah tetapi Tetap Kompak

Fraksi PKS DPR Gelar Lomba Baca Teks Proklamasi Mirip Suara Presiden Soekarno

 

 

Soekiman yang dikategorikan sebagai priyayi ternyata sukses memimpin Masyumi. Di bawah kepemimpinannya Masyumi bukan saja bertambah besar secara kuantitatif, tetapi juga cukup disegani lawan dan dihormati lawan lantaran sikap politiknya yang tegas menolak berunding dengan Belanda dalam hal dasar pengakuan Kedaulatan RI.

Soekiman yang priyayi tetapi sangat pro kepentingan nasional ini yang pada saatnya kelak mendapat dukungan dari hampir seluruh tokoh politik di tanah air, kecuali PKI dan golongan kiri untuk menjadi Perdana Menteri NKRI (berdaulat).

Soekiman menjadi Perdana Menteri NKRI tidak hanya didukung oleh Masyumi, tetapi juga oleh PNI yang dengan menjadikan Ketua Umumnya, Mr. Soewirjo, untuk menjadi Wakil Perdana Menteri mendampingi Perdana Menteri Soekiman.

Selain itu, Soekiman didukung oleh Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik dan Fraksi Demokrat.

Ini jelas fenomena politik yang sangat menarik. Seorang pemimpin partai Islam ideologis didukung oleh hampir semua kekuatan politik di Indonesia.

Yang lebih menarik, Soekiman mampu mempertahankan dukungan dengan keutuhan kabinetnya hingga akhir masa jabatan. Kemampuan Soekiman menjaga keutuhan pemerintahannya menjadi penting, karena kelak Soekiman mampu menjadikan soliditas itu sebagai modal untuk menyatukan sikap politik yang apa adanya.

Ketika pecah pergolakan daerah, Soekiman mampu menyatukan pendapat para pemimpin partai politik, bahwa “PRRI inkonstitusional, pembentukan Kabinet Djuanda oleh Dr. Ir. Sukarno juga inkonstitusional.”

Hanya mereka yang telah selesai dengan dirinya mampu berkata jujur di depan penguasa yang sedang sedang sangat kuat.

Tokoh yang sudah selesai dengan dirinya yang dengan tegar menolak penunjukkan dirinya menjadi anggota DPR Gotong Royong atas dasar solidaritas yang perwira.

 

Bagaimana Dengan Natsir?

Membicarakan Soekiman, tentu tidak lengkap jika tidak menyinggung M. Natsir, Ketua Umum Masyumi sesudah Soekiman. Jika Soekiman surplus dukungan dari berbagai kekuatan politik, Natsir justru surplus dukungan dari kekuatan politik utama Tanah Air, yaitu Presiden Sukarno.

Ketika ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk menjadi formatur kabinet, Natsir berpendapat jika ingin kuat, kabinetnya harus didukung oleh Masyumi dan PNI. Saat Natsir sulit mendapat dukungan PNI, dia menganggap tugasnya sudah gagal. Karena itu dia menghadap Presiden Sukarno untuk mengembalikan mandat.

Dua kali Natsir menghadap Presiden, dua kali pula Presiden menolak pengembalian mandate. “Terus saja,” kata Bung Karno.

“Tanpa PNI?” tanya Natsir.

“Ya, tanpa PNI,” jawab Presiden tegas.

Itulah untuk pertama kalinya Bung Karno meninggalkan PNI yang didirikannya pada 1927.

Kepada juru bicara Masyumi, Anwar Harjono, Natsir mengeluh: “Apa dosa saya kepada PNI, hingga mereka tidak mau mendukung saya?”

Keluhan yang wajar, karena dibujuk dan diyakinkan oleh Presiden Sukarno pun PNI dan partai-partai lain tetap tidak mau mendukung Natsir. Keluhan Natsir adalah misteri sejarah yang suatu saat harus dikenang untuk diambil pelajaran darinya.

Terbitnya buku ini melengkapi dua karya saya sebelumnya tentang M. Natsir dan Prawoto Mangkusasmito.

Dengan buku ini tuntaslah “tugas” saya menulis dan menyunting biografi tiga Ketua Umum Masyumi – Partai Poiltik yang hanya berusia 15 tahun, yang keharumannya melampaui usianya.

Insya Allah buku ini bermanfaat untuk menjadi modal mewujudkan sila “Persatuan Indonesia.”

 

Cicurug, pada HUT ke-65

23 Juli 2022

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.