Rabu, 1 Desember 21

Sudah Tepat Hukuman Mati bagi Mafia Narkoba

Sudah Tepat Hukuman Mati bagi Mafia Narkoba
* Giat Wahyudi, Ketua Dewan Pakar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

Jakarta, Obsessionnews – Vonis mati sebagai ketetapan hukum yang diputus pengadilan wajib dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Hukuman mati bagi delapan mafia narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2015) dini hari sudah tepat. Walau masih menyisakan satu terpidana mati dari Filipina. (Baca Juga: Delapan Terpidana Mati Dieksekusi, Mary Jane Ditunda)

“Munculnya reaksi kekanak-kanakan dari Australia bukan ancaman. Penarikan duta besar yang dilakukan Perdana Menteri Australia akan menampar muka mereka sendiri. Dari sisi apa pun Australia membutuhkan Indonesia. Dengan penarikan duta besarnya, seluruh armada dagang Australia tidak bisa melintasi wilayah perairan Indonesia yang menjadi gerbang lalu lintas jalur perdagangan dunia,”kata Ketua Dewan Pakar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Giat Wahyudi kepada obsessionnews.com di Jakarta, Kamis (30/4/2015).

Begitu pun kecaman dari Brazil dan Perancis, tidak akan mengurangi hubungan ekonomi internasional perdagangan kita. Perkaranya dua pertiga dari armada dagang dunia berurusan dengan wilayah perairan Indonesia.

“Apapun perkaranya bagi suatu negara berdaulat, keputusan yang telah diambil seyogianya tidak terpengaruh dengan ‘ancaman’ negara mana pun. Apalagi urusan vonis mati bagi penyelenggara narkoba yang menjadi musuh bagi kelangsungan hidup manusia beradab,” ujarnya.

Menurut Giat, hukuman mati dalam konteks ini tak ada sangkut-pautnya dengan HAM, sebab narkoba itu sendiri mengancam jiwa dan masa depan manusia. Apalagi kini narkoba tengah menjadi gurita mafia psikotropikana yang menjelma dalam rupa kejahatan lintas negara dan benua.

Dia mengatakan, menghadapi kejahatan mafia narkoba melalui jalur hukum, tak pertu khawatir. Pasalnya, hukuman mati tidak hanya terjadi di Indonesia, di Amerika Serikat saja masih berlaku. Masyarakat hukum internasional pun masih mengakui hukuman mati.

“Oleh karena itu, penundaan hukuman mati bagi warga negara Filipina jangan dilandasi keraguan. Adanya pengakuan bandar narkoba sebagaimana terungkap dan terbukti di pengadilan Filipina, berkaitan dengan terpidana mati di sini, penyelesaiannya pun harus sesuai dengan hukum yang berlaku di sini, tanpa mengurangi vonis yang telah ditetapkan,” tandasnya. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.