Rabu, 16 Oktober 19

Skandal Seks: “Perkosa Mereka Semua Biar Kapok”

Skandal Seks: “Perkosa Mereka Semua Biar Kapok”
* "Ia memperlihatkan kepada saya obrolan daring penuh ancaman perkosaan yang sudah berlangsung selama satu setengah tahun" (BBC)

“Perkosa saja semua yang tinggal di apartemen itu supaya mereka kapok,” tulis sebuah pesan di obrolan daring.

“Ya Tuhan. Saya bakalan benci sekali ada di situ kalau saya punya vagina,” tulis yang lainnya.

Anna – bukan nama sebenarnya – sedang menggulir ratusan pesan bermuatan kekerasan seksual di sebuah obrolan berkelompok di Facebook.

Anna melihat namanya dan nama teman-teman perempuannya disebut puluhan kali di obrolan itu.

Para laki-laki yang menulis pesan itu – seperti halnya Anna – adalah mahasiswa ilmu humaniora di Universitas Warwick di Inggris.

Yang mengerikan: mereka bukan cuma teman satu kuliah. Mereka adalah teman-teman dekat Anna.

Beberapa pekan sesudah Anna menemukan obrolan itu, omongan mulai beredar di seluruh kampus. Hal yang tadinya merupakan obrolan pribadi “anak laki-laki” segera mengalami eskalasi.

Anna dan seorang teman perempuannya – yang juga dijadikan sasaran di obrolan itu – mengadukan soal ini ke pihak universitas.

Sesudah penyelidikan internal, seorang mahasiswa dipecat dari kampus dan dilarang memasuki kampus seumur hidup, dua orang lain juga dipecat dan dilarang memasuki kawasan kampus selama 10 tahun. Dua orang lagi dilarang masuk kampus selama setahun.

Namun dua orang yang mendapat larangan masuk 10 tahun dikurangi hukumannya menjadi 12 bulan, dan sejak itu pihak kampus mendapat pertanyaan serius mengenai cara mereka menangani kasus ini.

Setahun berjalan, pihak universitas masih mendapat serangan dari para mahasiswa dan staf akademis yang bertanya: apa yang demikian salah dengan Universitas Warwick?

Obrolan ‘anak laki’
Awal tahun lalu Anna, ketika itu 19 tahun, duduk di sofa di rumah kosnya ketika pesan-pesan tak senonoh mulai bermunculan di laptop temannya.

Ketika pesan-pesan itu semakin banyak, ia bertanya kepada temannya apa isi pesan-pesan itu, dan temannya – seorang mahasiswa laki-laki – tertawa.

“Kalau kamu pikir pesan-pesan ini buruk, coba saja lihat obrolan cowok-cowok,” kata Anna menceritakan jawaban temannya itu.

“Di situlah kemudian temanku itu memperlihatkan obrolan yang sudah berlangsung selama satu setengah tahun yang penuh ancaman perkosaan,” kata Anna.

Anna kemudian duduk membaca obrolan Facebook itu dan melihat teman-teman laki-lakinya mengganti nama mereka dengan nama pembunuh dan pemerkosa berantai terkenal.

“Mereka membicarakan seorang mahasiswi. Mereka bicara tentang menculik dia, merantainya ke tempat tidur dan membuatnya mengencingi diri sendiri, hingga ia tertidur di atasnya,” kata Anna.

Beberapa obrolan itu bahkan lebih eksplisit lagi. “Obrolan itu bukan cuma komentar sembrono,” kata Anna. “Seluruh komunitas daring itu terlibat… mereka bangga dengan isinya yang mengerikan.”

Anna kemudian mencari namanya di dalam obrolan itu. Ternyata namanya muncul disebut ratusan kali.

Awalnya teman laki-laki Anna itu menganggap ringan isi obrolan itu dan bilang bahwa itu adalah “cara anak-anak cowok ngobrol”, sambil berkata bahwa obrolan itu gurauan saja.

Anna terus menggulirkan obrolan, seraya membuat screenshot. “Lalu kubilang ke temanku itu screenshot ini kubuat untuk menenangkan diri,” kata Anna. “Ia bisa melihat aku mulai marah dan terus makin marah. Lalu kupikir di situlah ia mulai sadar masalahnya mungkin lebih besar daripada yang ia duga.”

Segera teman Anna itu mulai berubah suaranya. Ia bilang ia tahu bahwa isi obrolan itu tak bisa diterima, dan ia memperlihatkan pada Anna untuk melindunginya.

Namun ketika Anna melihat sejumlah besar isi obrolan tentang perkosaan beramai-ramai dan mutilasi alat kelamin, insting Anna mulai berkata sebaliknya.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan karena orang-orang di dalam obrolan ini adalah bagian sangat besar dari hidupku,” kata Anna.

Beberapa hari kemudian Anna kembali ke rumah orangtuanya untuk libur Paskah. Namun ketika memikirkan harus kembali ke kampus dan bertemu teman-teman laki-lakinya, Anna terkena serangan panic attack.

“Saya mengemas barang-barang dan siap berangkat, tapi saya tak sanggup melewati pintu rumah,” kata Anna.

Di situlah ia memutuskan untuk membuat pengaduan ke pihak universitas.

Potensi konflik
Anna dan seorang teman perempuannya yang juga disebut-sebut di dalam obrolan itu kemudian memasukkan pengaduan ke universitas. Pihak universitas mengatakan kepada keduanya bahwa mereka akan diwawancara secara resmi.

Namun satu hal tampak mengganggu: orang yang akan mewawancara mereka adalah direktur media di universitas Warwick. “Langsung terpikir oleh saya, aneh sekali direktur media menjadi petugas penyelidik,” kata Anna.

Sebagai direktur media, Peter Dunn bertanggung jawab berurusan dengan media dan melindungi reputasi Universitas Warwick sebagai salah satu universitas top di Inggris.

Sedangkan sebagai petugas penyelidik, ia bertanggung jawab untuk menyelidiki tuduhan perbuatan jahat dan menyarankan hukuman seperti apa – jika terbukti – yang harus dijatuhkan kepada pelaku.

Peter Dunn memegang dua peran ini sekaligus, sesudah kasus ini mendapat perhatian media sesudah dilaporkan oleh koran mahasiswa The Boar.

Pada bulan Februari 2019, pihak universitas mengakui “potensi konflik” dalam peran ganda Peter Dunn, tetapi di saat yang sama mereka berkeras bahwa tugas-tugas media sudah “didelegasikan” selama penyelidikan.

Namun, dalam satu email yang dilihat oleh BBC, Dunn meminta masukan untuk sebuah pernyataan pers yang rencananya akan ia edarkan kepada media dan isi pernyataan pers itu berkaitan dengan kasus yang sedang ia selidiki.

“Rasanya ini benar-benar melanggar,” kata Anna. “Orang yang menulis pernyataan pers ini mengetahui detil yang intim tentang hidup saya. Ini pengalaman yang tidak nyata.”

Pihak universitas mengatakan kepada BBC, “kami menghargai pertanyaan yang absah tentang cara pihak universitas menangani kasus yang sangat rumit ini. Kami terus mendukung petugas penyelidik kasus ini, Peter Dunn.”

Sesudah Anna dan temannya diwawancara, lima orang yang terlibat dalam obrolan itu dilarang masuk ke kampus. Dua orang dilarang untuk sepuluh tahun, dua lagi dilarang satu tahun, dan seorang dilarang masuk kampus seumur hidup.

Anna dan temannya mengatakan mereka tidak diberitahu hasil penyelidikan dan mengetahui hukuman itu dari media. Dengan kata lain mereka tidak tahu hukuman mana yang dijatuhkan kepada siapa.

Namun kasusnya ternyata belum tuntas. Dua orang yang dilarang masuk kampus selama 10 tahun mengajukan banding terhadap putusan itu.

#ShameOnYouWarwick
Sesudah menunggu empat bulan, hukuman kedua orang itu dikurangi dari 10 tahun menjadi satu tahun.

“Saya tak pernah diberi penjelasan. Kepada kami dikatakan bahwa ada bukti baru, tapi kami tak tahu apa bukti itu,” kata Anna. “Saya mulai merasa saya akan menyerah… Ini rasanya seperti saya dan seorang pengadu lainnya sedang melawan seluruh institusi yang tak akan pernah mendengarkan kami.”

Anna dan temannya membuat satu upaya terakhir untuk menguraikan kekhawatiran mereka tentang penyelidikan ini kepada pihak universitas.

Namun pemimpin tertinggi universitas, vice chancellor Profesor Stuart Croft, menulis kepada keduanya mengatakan bahwa ia “tak menemukan bukti kekeliruan prosedur atau bias” seraya menyatakan penyelidikan ditutup.

Tiga minggu kemudian seorang mahasiswi mengangkat kasus ini di Twitter dan segera saja tagar #ShameOnYouWarwick mulai trending.

Sekali lagi kisah ini menjadi perhatian media. Pihak akademis universitas mulai menarik jarak dari manajemen kampus.

Segera sesudahnya Profesor Croft merilis pernyataan di mana ia bicara tentang reaksinya membaca obrolan itu dan menyebutnya “sangat membuat jijik”.

Namun komentarnya ini dipandang oleh para mahasiswa sebagai “tak paham persoalan”. Para korban tidak pernah mendapat permohonan maaf secara personal dari pihak universitas.

Kasus Universitas Warwick ini menimbulkan pertanyaan bagaimana kampus menangani kejahatan seksual. Pihak universitas sejak itu melakukan tinjauan ulang terhadap proses penerapan disiplin dan banding mereka.

Namun Anna dan temannya yang membuat pengaduan tidak pernah merasa bahwa urusan ini sudah selesai. Anna, kini di tahun ketiga, sedang belajar untuk mempersiapkan ujian akhirnya pada Jumat (31/5) ini.

“Masa universitas saya menyebabkan rasa sakit dan kerugian yang harus saya bawa terus lebih dari setahun kemudian,” kata Ana.

“Saya tak ingin datang ke acara wisuda saya. Saya tak sabar menunggu agar saya tidak perlu mengunjungi Universitas Warwick lagi untuk selamanya.” (BBC)

Sumber: BBC News Indonesia

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.