Jumat, 3 Juli 20

Setelah Hong Kong, Gantian Taiwan ‘Melawan’ China

Setelah Hong Kong, Gantian Taiwan ‘Melawan’ China
* Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. (BBC)

Setelah rakyat Hong Kong menantang intervensi China, kini giliran pemimpin Taiwan melawan invansi China. Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, yang baru terpilih kembali untuk masa jabatan kedua sebagai presiden, mengatakan bahwa China harus “menghadapi kenyataan” dan menunjukkan rasa “hormat”.

Tsai yang berusia 63 tahun, memperoleh suara mutlak dalam pemilihan presiden Taiwan setelah menitikberatkan ancaman Beijing terhadap Taiwan dalam kampanyenya.

Partai Komunis China sejak lama mengklaim kedaulatan atas Taiwan dan berhak mengambilnya secara paksa jika diperlukan.

Namun, Tsai berkeras bahwa Taiwan punya kedaulatan penuh yang tidak bisa dinegosiasikan.

“Kami tidak punya keperluan untuk mendeklarasikan diri kami sebagai negara merdeka,” kata Tsai dalam wawancara eksklusif dengan BBC.

“Kami sudah menjadi negara merdeka dan kami menyebut diri kami sebagai Republik China, Taiwan,” tandas Presiden Taiwan.

Pernyataan semacam itu membangkitkan amarah Beijing, yang menghendaki prinsip ‘Satu China”. Prinsip tersebut juga digaungkan rival Tsai dalam pilpres, Han Kuo-yu, dari Partai Kuomintang.

Partai itu berakar dari kaum nasionalis yang kalah dalam perang sipil China dan kemudian kabur ke Taiwan, namun masih memandang pulau tersebut sebagai bagian dari China daratan.

Dalam beberapa tahun terakhir, prinsip Satu China terbukti sebagai kompromi yang berguna, seperti dipaparkan para pendukungnya di Taiwan.

Pemerintah China berkeras penerimaan prinsip itu adalah syarat awal bagi hubungan ekonomi dengan Taiwan lantaran pengakuan pada prinsip tersebut sama saja membantah keberadaan Taiwan sebagai negara de facto.

Akan tetapi, Tsai meyakini kemenangannya merupakan bukti bahwa hanya sedikit rakyat Taiwan yang mengakui prinsip Satu China dan ambiguitasnya pada status Taiwan sebenarnya. “Situasinya telah berubah. Ambiguitasnya tak lagi melayani tujuan awalnya,” paparnya.

Sejatinya yang benar-benar berubah, menurut Tsai, adalah China. “Karena [selama lebih dari] tiga tahun kami menyaksikan China telah meningkatkan ancamannya…mereka punya kapal-kapal militer dan pesawat yang menjelajah di sekitar pulau,” ujarnya.

“Dan kemudian, hal-hal yang terjadi di Hong Kong, khalayak mendapat pemahaman bahwa ancaman ini nyata dan menjadi semakin dan semakin serius.”

Kepentingan Taiwan, menurut Tsai, tidak diwujudkan dalam kata-kata tapi dengan menghadapi kenyataan, khususnya aspirasi kaum muda Taiwan yang mendukung perjuangannya.

“Kami punya identitas terpisah dan kami adalah negara sendiri. Jadi jika ada sesuatu yang berlawanan dengan ide ini, mereka akan berdiri menantang dan berkata kami tidak bisa menerima itu.”

“Kami adalah demokrasi yang sukses, kami punya ekonomi yang cukup baik, kami berhak mendapat rasa hormat dari China.”

Bagi kalangan oposisi, sikap Presiden Tsai dianggap sebagai provokasi yang tidak perlu dan justru meningkatkan risiko bahaya yang dia peringatkan—permusuhan secara terbuka.

Akan tetapi, Tsai mengaku dirinya sudah menahan diri. Misalnya, dia tidak mewujudkan deklarasi kemerdekaan, mengubah konstitusi, serta mengubah bendera—yang diinginkan para anggota Partai Demokrasi Progresif.

China sudah menyebut bahwa mereka akan menganggap langkah semacam itu sebagai pemicu aksi militer.

“Ada begitu banyak tekanan, begitu banyak tekanan di sini sehingga kita harus maju lebih jauh,” ujarnya.

“Namun, [selama] lebih dari tiga tahun, kami telah mengatakan kepada China bahwa mempertahankan status quo tetap menjadi kebijakan kami…Saya pikir itu adalah sikap yang sangat bersahabat kepada China.”

Walau Tsai mengaku dirinya terbuka untuk berdialog, dia juga paham bahwa Beijing mungkin akan meningkatkan tekanan terhadap Taiwan setelah dirinya meraih kemenangan pada pilpres.

China menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsinya dan berkeras akan “mengembalikan” Taiwan ke China. (BBC)

Sebagai tanggapan, dia mencoba memperbanyak mitra dagang Taiwan dan meningkatkan ekonomi domestik, khususnya dengan mendorong para investor Taiwan yang membangun pabrik di China untuk mempertimbangkan merelokasi pabriknya di Taiwan.
Dia juga memperhitungkan semua kemungkinan. “Saya tidak bisa mengesampingkan kemungkinan perang sewaktu-waktu,” katanya.

“Namun, masalahnya adalah saya harus mempersiapkan diri dan mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan diri.”

“Kami telah mencoba sangat keras dan banyak berupaya untuk memperkuat kemampuan kami,” balasnya. “Menginvasi Taiwan adalah sesuatu yang akan sangat mahal bagi China.” (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.