Kamis, 19 September 19

Sepak Terjang Nurdin Basirun, Gubernur Kepri yang Kebal Kritik

Sepak Terjang Nurdin Basirun, Gubernur Kepri yang Kebal Kritik
* Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun. (Foto; Humas Kepri))

Jakarta, Obsessionnews.com – Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun menjadi kepala daerah ke-3 yang terjaring operasi tangkap tangan ( OTT) yang dilakukan KPK di tahun 2019. Ia diduga terlibat transaksi suap dalam terkait izin lokasi rencana reklamasi di Kepulauan Riau. Dari penangkapan itu, KPK telah mengamankan uang sebesar 6.000 dollar Singapura. Selain gubernur, KPK juga memeriksa pihak-pihak terkait dari unsur kepala dinas.

Nama Nurdin memang bukan orang baru dalam dunia pemerintahan, dia sebelumnya menjabat dua sebagai Bupati Karimun dua periode pada 2005 hingga 2015 lalu. Kemudian pada akhir Mei 2016 ia menjabat Gubernur Kepri menggantikan Muhammad Sani yang meninggal dunia pada April 2016. Sebelumnya, Nurdin menjabat sebagai Wakil Gubernur Kepri mendampingi Sani. Dia hanya mendampingi Muhammad Sani selama dua bulan sejak dilantik pada 12 Februari 2016.

Menjadi gubernur diusia yang belum matang membuat banyak orang ragu Nurdin bisa mengikuti jejak para pendahulunya dengan baik. Ternyata keraguan itu benar, meski mengaku tidak kesulitan memimpin Kepri. Namun sepak terjang Nurdin memimpin Kepri kerap mendapat kritik dari berbagai pihak karena kebijakannya yang dianggap kontroversi. Anehnya, Nurdin cuek ia merasa kebal dengan berbagai kritik.

Salah satu kebijakan yang disorot, yakni pada 2017 Nurdin mengeluarkan kebijakan kontroversial yang mengundang kemarahan ASN karena mutasi pejabat eselon II-IV Pemerintah Kepri yang dilaksanakan mendadak pada 7 November 2016. Anggota legislatif pun merespons laporan itu dan melakukan investigasi.

Sedikitnya ada sembilan ketentuan yang dilanggar Pemprov Kepri dalam melakukan mutasi tersebut. Temuan pelanggaran ini yang menginisiasi 22 anggota legislatif untuk mengajukan hak interpelasi. Sejak Provinsi Kepulauan Riau dibentuk 2002, untuk pertama kali gubernur diinterpelasi oleh DPRD Kepri.

Pada waktu bersamaan, pada Mei 2017, masyarakat Kepri juga dikejutkan dengan pernyataan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik yang mencatat pada triwulan I-2017, pertumbuhan ekonomi Kepri hanya 2,02 persen, jauh lebih buruk dibanding triwulan IV-2016 yang mencapai 5 persen. BI mencatat, pertumbuhan ekonomi Kepri pada saat itu terburuk dalam sejarah di pemerintahan Kepri.

Komunikasi Gubernur Kepri Nurdin Basirun dengan wali kota dan bupati dinilai tersendat sehingga akan menyulitkan pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Contoh yang diambil, ketika Gubernur Nurdin setuju tarif listrik di Batam naik, Wali Kota Batam Rudi malah tidak mengetahuinya, padahal Nurdin dan Rudi sama-sama dari Partai Nasdem.

Permasalahan lain rencana reklamasi kawasan Teluk Keriting Tanjungpinang oleh Gubernur Nurdin. Namun, Wali Kota Tanjungpinang menolaknya karena belum melihat secara terperinci konsep reklamasi dan tujuan dari reklamasi itu sampai 2017.

Tidak hanya itu saja, pada Maret 2019, Nurdin juga mengeluarkan kebijakan yang menjadi perhatian publik, yaitu menerapkan fingerprint atau sidik jari saat shalat subuh berjemaah di masjid, khususnya untuk pejabat eselon II yang beragama Islam. Kebijakan finger print tersebut berdasarkan SK sehinga berdampak pada kinerja kepala dinas. Shalat subuh berjemaah nyatanya tidak dilaksanakan setiap hari, tetapi hanya pada Jumat.

Kebijakan tersebut untuk mendorong pejabat eselon II shalat berjamaah di masjid sekaligus untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Namun, banyak pejabat yang enggan shalat subuh berjemaah mengikuti Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan memilih shalat subuh di masjid dekat rumahnya.

“Shalat itu urusan pribadi kita dengan Allah SWT, bukan karena fingerprint. Shalat tidak perlu ikut gubernur, karena jam kerja pegawai itu 8 jam, dimulai pada pagi hari, bukan subuh hari,” kata salah seorang pejabat eselon II seperti dikutip dalam kompas. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.