Semangat Suksma Ratri yang Luar Biasa

Semangat Suksma Ratri yang Luar Biasa

Didiagnosis positif mengidap HIV tak membuat Suksma merasa hidupnya akan segera berakhir. Semangatnya tetap luar biasa. Dia justru menjadi aktivis HIV/AIDS yang memperjuangkan nasib para buruh karena tertular virus HIV.

Jakarta, Obsessionnews.com - Pada suatu momen, Suksma Ratri bertutur, “HIV mungkin menutup satu pintu dalam hidup saya, tapi di saat yang sama membuka seribu jendela.” Kisah perjuangannya berawal pada tahun 2006, dia didiagnosis HIV tertular dari mantan suaminya yang dulu pecandu narkoba suntik. Meskipun dirinya terkena HIV, ibu satu anak ini tidak pernah putus semangat dan terus berkarier. Tanpa terpuruk dengan hasil vonis, Ratri memilih untuk bangkit. “Syukurlah saya tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif dari siapa pun sehubungan dengan status HIV ini. Dari awal saya selalu terbuka dan tidak ada yang ditutupi. Saya tetap bisa beraktivitas seperti biasa dan teman-teman tetap menemani saya,” ungkapnya. Ratri tergabung dengan Rumah Cemara, LSM yang memperhatikan masalah kaum marginal. Selain itu juga menjadi communications and consultations facility programme assistant di UNAIDS. Lalu, dia pun aktif sebagai general operating director dalam Inspirasi Indonesia (NSPR12), yakni kelompok kerja yang memfokuskan diri pada kampanye Hak Asasi Manusia dananti kekerasan seksual dan berprofesi sebagai communication officer pada sebuah organisasi non profit. Bahkan, Ratri terpilih menjadi pembicara di depan forum PBB, sebagai perwakilan dari Coordination of Action Research on AIDS and Mobility (CARAM) wilayah Asia. Di dalam forum PBB tersebut, dia dengan tegas berbicara tentang hak-hak pengidap HIV/AIDS. Terjangkit virus HIV tak lantas membuat Ratri berkecil hati dan berhenti berkarya. Wanita berumur 43 tahun ini pun bersahabat dengan virus tersebut. “Saya memang HIV positif, namun hidup saya tetap berwarna dan dinamis, tidak berbeda dengan ketika saya tak tahu berstatus tersebut,” ujar ibu dari Adinda Srikandhi yang genap berusia tujuh tahun ini. “Saya rasa untuk memerangi stigma dan diskriminasi itu harus dengan keterbukaan, kejujuran, dan penerimaan diri. Saya selalu bersikap positif. HIV itu bukan vonis mati,” ujarnya. Dia berpendapat kemajuan ilmu kesehatan kini memungkinkan orang-orang yang terinfeksi HIV memiliki harapan hidup lebih tinggi, punya anak yang negatif HIV dan menjaga pasangannya tidak tertular. Bekerja di LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS mengisi hari-harinya, dia sering mendapatkan tugas dan training di berbagai negara. Tahun 2014, dia menemukan pasangan yang dapat menerima dirinya apa adanya. Sementara, untuk memberitahukan status HIV kepada putrinya, Ratri menunggu sampai umur anaknya 10 tahun. “Karena pada umur demikian biasanya sudah mempunyai daya pikir dan analisa, sehingga mampu mengerti tentang infeksi HIV dengan baik,” katanya. (Angie Diyya) Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2018