Selasa, 14 Juli 20

Selama Darurat Covid-19, Pengelola Destinasi Diajak Tata Ulang Tempat Wisata

Selama Darurat Covid-19, Pengelola Destinasi Diajak Tata Ulang Tempat Wisata
* Salah satu destinasi pariwisata di Indonesia. (Foto: Dok Kemenparekraf)

Jakarta, Obsessionnews.com – Ditutupnya destinasi wisata terkait pandemi Covid-19 harus menjadi momentum bagi para pengelola destinasi di tanah air untuk dapat mengevaluasi dan menata ulang tempat wisatanya sehingga menghadirkan kesan yang lebih baik untuk wisatawan termasuk mulai menerapkan pariwisata berkelanjutan.

Terlebih akan hadirnya kondisi ‘new normal’ atau tren baru dalam berwisata pascapandemi, di mana wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata, terutama yang terkait dengan kesehatan, keamanan, kenyamanan, sustainable and responsible tourism, authentic digital ecosystem, dan lainnya.

“Hal-hal seperti ini akan menjadi platform kita ke depan, bagaimana pariwisata berkelanjutan jadi sebuah konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Frans Teguh dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/5/2020).

Frans menjelaskan, dalam penerapan pariwisata berkelanjutan sudah terdapat pedoman-pedoman yang dikeluarkan oleh Global Sustainable Tourism Council. Indonesia juga secara aktif berkoordinasi dengan UNWTO hingga terbentuknya Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC).

Bahkan pemerintah juga telah menyusun pedoman dalam penerapan pariwisata berkelanjutan, yakni melalui Permenpar Nomor 14 tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.

Kemenparekraf pun telah memiliki framework serta action plan hingga sertifikasi yang bekerja sama dengan universitas. Dimana usaha tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sustainable tourism destination di berbagai daerah tanah air.

“Hasilnya, sudah banyak sebenarnya penggiat pariwisata, pelaku desa wisata, serta komunitas yang telah berhasil menerapkan pariwisata berkelanjutan sehingga dapat memberikan nilai tambah dalam perkembangan ekonomi maupun pengembangan secara umum,” katanya.

Hanya saja, untuk menerapkannya lebih luas lagi dibutuhkan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

Dia menambahkan, kerja pariwisata berkelanjutan bukan hanya kerja sektoral, tapi harus menyeluruh baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan lainnya atau yang biasa kita sebut pentahelix.

Berbagai disiplin ilmu harus bekerja bersama-sama dan memperbaiki pendekatan-pendekatan kita untuk tidak hanya meningkatkan daya saing tapi juga daya keberlanjutan dari kegiatan kepariwisataan.

“Saat ini jadi momentum yang baik untuk menyiapkan destinasi pariwisata kita ke depan,” katanya.

Menurut dia, saat ini momentum yang tepat untuk membenahi, reopening atau rebound untuk menyiapkan strategi.

“Yang kami tawarkan dari pemerintah adalah menerapkan dan mengaplikasikan pola kerja pariwisata berkelanjutan dengan parameter dan indikatornya secara komprehensif,” kata Frans. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.