Selasa, 21 September 21

Samsung Prediksi Laba Melorot 25%

Samsung Prediksi Laba Melorot 25%

Seoul – Samsung Electronics memperkirakan penurunan laba sebesar 25% pada kwartal kedua akibat penurunan penjualan smartphone dan penguatan kurs mata uang Korea Selatan, won terhadap dollar AS. Selama periode April-Juni lalu, Samsung mencetak laba operasi sebanyak 7,2 triliun won (Rp83,1 triliun). Jumlah tersebut merosot jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sebesar 9,5 triliun won (Rp 109,7 triliun).

Perusahaan asal Korea Selatan itu menyatakan telah mengalami dampak kelesuan pasar telepon seluler pintar dan peningkatan kompetisi pada pasar ponsel di China dan Eropa.

Pada saat bersamaan, penguatan kurs mata uang Korsel juga mempengaruhi pendapatan Samsung. Sebab ketika mata uang asing yang diperoleh dari ekspor ditukar ke mata uang Korsel, nilainya menjadi turun.

Mata uang won menguat lebih dari 11% terhadap dollar Amerika Serikat dan nyaris 7% terhadap euro antara Juli 2013 dan akhir Juni 2014. Pertumbuhan pendapatan Samsung beberapa tahun terakhir praktis dimotori oleh divisi ponsel.

Kesuksesan produk-produk ponsel seri Galaxy, ditambah dengan peningkatan permintaan ponsel pintar di pasar global, membuat Samsung menggeser Nokia sebagai penyandang status pembuat ponsel terbesar di dunia pada 2012. Akan tetapi, laju pertumbuhan pasar ponsel pintar telah menurun. Kompetisi di sektor tersebut pun meningkat. Akibatnya, pembuat ponsel harus memangkas ongkos produksi guna menarik konsumen.

“Era keemasan ponsel pintar high-end jelas sudah berakhir. Padahal, peranti semacam itu yang membuat perusahaan seperti Samsung dapat mencetak laba besar,” kata Ajay Sunder, wakil direktur lembaga konsultan Frost & Sullivan yang fokus pada sektor telekomunikasi.
Persaingan

Kepada BBC, Sunder mengatakan pasar ponsel kini diwarnai persaingan ketat pada peranti low-end. “Pada ranah itu, kompetisinya semakin ketat setiap hari.”

Perusahaan-perusahaan Cina, seperti Xiaomi, Huawei, dan ZTE, menurut Sunder, kini mampu memberikan perlawanan sengit.

Dengan dilatarbelakangi faktor-faktor tersebut, Sunder menyarankan Samsung menguatkan eksistensi di bidang-bidang lain jika ingin mempertahankan pertumbuhan laba tinggi.

“Ketergantungan pada divisi telepon seluler harus diakhiri,” tutupnya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.