Jumat, 25 September 20

Salat di Masjid Uighur, Turis Malaysia Ditangkap Polisi China

Salat di Masjid Uighur, Turis Malaysia Ditangkap Polisi China
* Perjalanan turis Malaysia ke Xinjiang dan mencari masjid untuk salat. (BBC)

‘Meneteskan air mata di masjid yang tak akan kami lupakan’, kisah turis Malaysia yang sempat ditahan aparat China karena Salat di masjid Uighur.

Sejumlah turis Malaysia ditahan setelah salat di masjid di Provinsi Xinjiang, China, pengalaman yang menurut mereka menakutkan dan sekaligus menyedihkan.

Kepala rombongan Khir Ariffin – dalam tulisan berseri di akun Facebooknya – mengatakan lega namun kecewa karena hak beribadah dihalangi di Provinsi China dengan penduduk mayoritas Muslim Uighur itu.

Lebih dari satu juta Muslim Uighur disebut PBB ditahan di kamp-kamp rahasia namun China menyebutnya sebagai kamp pendidikan kembali.

“Kami lega dibebaskan, namun kami juga kecewa karena hak kami ditolak sebagai Muslim untuk salat di masjid,” tulis Khir melalui akun Facebooknya dalam sejumlah tulisan berseri yang dimulai pada awal Desember dan masih berlanjut.

Khir dan sejumlah orang dari Malaysia, termasuk satu orang wartawan, melewati wilayah China dalam perjalanan menuju Mekkah, dengan jarak 16.000 kilometer dan melalui 10 negara.

Masjid Turpan Xinjiang, tempat sejumlah warga Malaysia ditangkap polisi China. (BBC/FB)

Di China saja, perjalanan melintasi negara ini, melalui Yunnan yang berbatasan dengan Asia Tenggara, melewati Xinjiang yang berbatasan dengan Asia Tengah, memerlukan 17 hari, tulis Khir.

Masjid yang mereka masuki di Xinjiang adalah “satu-satunya yang kami boleh masuk dan salat dengan aman,” tulisnya.

“Inilah masjid yang tidak akan kami lupakan…saat kami memasuki masjid tiba-tiba cuaca mendung. Angin ribut berpusar menerbangkan debu di sekeliling masjid.”

“Ada satu perasaan yang sangat lain. Kami merasai perasaan yang sama ketika salat. Satu perasaan sayu (terharu) yang menyebabkan kami semua meneteskan air mata ketika salat bagaikan titisan air hujan dari celah bumbung yang usang,” tulis Khir mengisahkan pengalaman salat di masjid Uighur itu.

Khir bersama rombongannya beberapa kali mencoba untuk mencari masjid untuk salat di Xinjiang namun gagal.

Mereka akhirnya bisa masuk ke masjid itu “tanpa halangan” karena tak ada polisi di desa yang terletak di kampung di pelosok Gurun Gobi, tulisnya lagi.

Namun kegembiraan tak lama karena selesai salat mereka ditunggu oleh aparat bersenjata yang menanti di luar masjid.

Xinjiang seperti penjara terbuka
“Kelihatan seorang imam berusia (lanjut) lengkap berjubah sedang dimarahi oleh seorang pegawai yang sangat bengis,” cerita Khir dan menambahkan bahwa imam tersebut berupaya menjelaskan bahwa mereka hanya salat di masjid tersebut.

Pemandu wisata mereka selama 17 hari – Andy – kata Khir berusaha meyakinkan petugas bahwa mereka hanya beribadah.

Tetapi mereka akhirnya dibawa ke lokasi yang tidak diketahui. Mereka mengaku dibawa oleh aparat bersenjata serta polisi, dan mereka terkejut melihat tempat yang “dikelilingi pagar di tengah desa terpencil dengan pejabat militer dan polisi menanti kedatangan mereka.”

Mereka ditahan di ruangan yang dikunci “dan menyerupai penjara” sementara pemandu wisata mereka, Andy, berbicara dengan para pejabat China. Mereka dibebaskan setelah beberapa jam.

Khir Ariffin mengatakan mereka akhirnya menyadari bahwa mereka diikuti sepanjang perjalanan mereka di China oleh para petugas yang menyamar sebagai ‘pembersih, warga biasa, dan pemilik tokoh’. “Kami terus diikuti dan diawasi,” tulisnya.

Karena China membatasi akses ke Xinjiang, media kesulitan memperoleh informasi maupun konfirmasi independen dari provinsi tersebut.

Para pejabat negara itu belakangan mengatakan pemerintah tidak menghalang-halangi siapa pun yang ingin mengetahui kondisi di sana.

Wartawan senior BBC China, Jinxi Cao mengatakan masalah Xinjiang sangat sensitif dengan Beijing menghadapi tekanan internasional terkait isu Muslim Uighur.

“Merupakan hal yang biasa turis atau pendatang diikuti dalam perjalanan mereka di Xinjiang khususnya turis dari negara-negara dengan penduduk Muslim dan juga turis Barat,” jelas Jinxi.

“Ibaratnya seperti penjara terbuka, pendatang diikuti secara fisik. Ada yang di depan, ada yang di belakang dan alat eletronik disadap.”

“Isu Uighur sangat sensitif sekarang ini, dengan adanya kamp untuk yang disebut pemerintah China re-edukasi, namun di sisi lain mereka ingin memberikan kesan seolah semuanya baik-baik saja,” tambah Jinxi.

Ia menduga para turis Malaysia dibebaskan karena pemerintah China tidak mau insiden ini menjadi besar terlebih lagi ada seorang wartawan dalam rombongan turis Malaysia ini.

Agustus lalu, panel HAM PBB mengatakan mereka menerima banyak laporan yang dapat dipercaya bahwa satu juta etnik Uighur China ditahan di “kamp rahasia”.

Negara-negara Barat mengecam langkah China dalam memperlakukan Muslim Uighur, sementara sejumlah bintang olah raga juga turut mengecam termasuk pemain Arsenal Mesut Ozil.

Khir Ariffin mengatakan “Allah mengizinkan kami melihat seperti apa pengalaman orang Uighur sehingga dapat kami bagikan.” (BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.