Kamis, 21 Maret 19

Respons Adhi Karya Setelah JK Marah-marah Soal LRT

Respons Adhi Karya Setelah JK Marah-marah Soal LRT
* Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata saat sedang menunjuk peta pembangunan LRT (Foto Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – PT Adhi Karya (Persero) Tbk merespons kritik yang disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) soal pembangunan LRT Jabodebek. JK menilai proyek LRT yang menghubungkan Jabodebek terlalu mahal. Karena menelan biaya Rp 500 miliar per kilometer (km).

Menanggapi hal itu, Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan, biaya LRT Jabodebek yang digarap oleh perusahaan konstruksi pelat merah itu masih cukup bersaing dengan negara-negara lain. Ia juga menilai tidak ada yang boros dari biaya Rp 500 miliar per kilometer.

 

Baca juga:

Pembangunan LRT 1 Km Telan Biaya Rp500 Miliar, JK Marah-marah

Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk Budi Harto

Realisasi Kontrak Baru Adhi Karya Rp1,7 Triliun

 

“Kalau bicara per km Rp 500 miliar, dibandingkan dengan MRT dan sebagainya, apalagi dibandingkan di Singapura, harga kita cukup kompetitif,” kata dia dalam paparan di Pabrik Precast LRT Jabodebek, Pancoran, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Pundjung menjelaskan, dalam melihat biaya Rp 500 miliar tersebut harus secara menyeluruh. Biaya tersebut tidak hanya yang dikeluarkan untuk pembangunan jalur LRT, tapi meliputi teknologi yang digunakan. Juga biaya oprasional lainnya. Ia berharap publik tidak menilai sepihak.

“Dalam menerima informasi cost (biaya) harus paham dulu skop pekerjaannya apa, teknologi yang dipakai apa,” sebutnya.

Selain itu, dalam nominal biaya Rp 500 miliar per km juga meliputi biaya penyediaan stasiun dan pembangunan Depo LRT. Depo ini digunakan untuk menyimpan kereta, tempat perbaikan, dan perawatan.

“Jadi cost tadi sudah mengandung cost untuk depo, biayanya nggak murah itu. Cost itu termasuk depo dan stasiun,” ujarnya.

“Cost memang selalu jadi isu. Kita ingat pembangunan MRT tahun 2012 ada jejak digital sempat ada perdebatan. Saya hanya ingin ingkatkan isu seperti ini masih sering terjadi sehingga perlu penjelasan yang jelas dalam melihat cost,” tambahnya.

Sebelumnya JK geram dengan pembangunan LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek). Ia menilai pembangunan ini tidak efisien karena terlalu boros anggarannya.

“Jangan asal bangun saja,” ujar JK di hadapan para konsultan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, (11/1/2019).

Moda transportasi yang merupakan tanggung jawab pemerintah pusat serta dibangun BUMN PT Adhi Karya itu dibangun untuk menghubungkan Jakarta dan kota-kota satelit melalui rel melayang (elevated).

Menurut JK, tidak efisiennya pembangunan ini bisa dilihat dari keputusan pembangunan rel secara melayang. Padahal, harga tanah yang tidak terlalu mahal di perbatasan Jakarta dan wilayah-wilayah di luar Jakarta bisa membuat pembangunan rel reguler dilakukan dengan lebih murah.

“Kalau di luar kota, lahan masih murah kok. Masa, penduduk tidak ada, kenapa mesti (dibangun) elevated di luar kota?” ujar JK.

Kemudian pembangunan rel tepat di samping jalan tol Jakarta-Cikampek juga dinilai tidak efisien. JK menyampaikan bahwa infrastruktur kereta ringan biasanya dibangun di lokasi berbeda dengan infrastruktur perhubungan yang sudah ada.

“Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?” ujar JK.

JK menegaskan, inefisiensi-inefisiensi itu membuat biaya pembangunan melambung tinggi, mencapai Rp500 miliar per kilometer. Adhi Karya pun diperkirakan akan sulit mengembalikan modal investasi. Ia pun mempertanyakan kecakapan konsultan yang merancang proyek.

“Siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya Rp500 miliar per kilometer? Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?” ujar JK. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.