Perkuat Kemitraan Strategis, Indonesia–Selandia Baru Sepakati Eksplorasi Sektor Potensial

Obsessionnews.com — Hubungan diplomatik dan perdagangan antara Indonesia dan Selandia Baru telah terjalin selama lebih dari setengah abad. Namun, pertemuan bilateral yang digelar di kantor Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, pada Kamis (7/8/2025) , yang menandai langkah baru menuju kemitraan strategis yang lebih dalam, terukur, dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Menteri Perdagangan serta Investasi Selandia Baru Todd Michael McClay duduk bersama membahas agenda besar: memperluas kerja sama di sektor-sektor yang menjadi denyut nadi pembangunan kedua negara mulai dari pangan dan pertanian, energi panas bumi, pendidikan, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Potensi kolaborasi kita sangat besar. Bukan hanya di sektor perdagangan barang, tetapi juga dalam pengembangan sumber daya manusia, inovasi energi terbarukan, dan pemberdayaan pelaku usaha skala kecil agar mampu menembus pasar global,” ujar Mendag Budi.
Indonesia dan Selandia Baru menjalin hubungan diplomatik resmi sejak 1958, namun intensitas kerja sama ekonomi mulai meningkat pesat pada dua dekade terakhir. Kedekatan geografis di kawasan Asia-Pasifik, keanggotaan bersama di forum multilateral seperti ASEAN Regional Forum dan APEC, serta keterlibatan aktif dalam perjanjian perdagangan bebas ASEAN–Australia–New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) menjadi fondasi penting.

Di sisi lain, Selandia Baru memandang Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara, bukan hanya karena ukuran pasar domestiknya yang besar, tetapi juga perannya sebagai salah satu ekonomi terbesar di kawasan. Hubungan ini semakin menguat dengan penandatanganan Indonesia–New Zealand Comprehensive Partnership Plan of Action (PoA) yang diperbarui untuk periode 2025–2029.
Pertemuan kali ini tidak lepas dari pembahasan isu perdagangan global yang kian rumit. Gelombang proteksionisme, kebijakan tarif sepihak, dan rivalitas geopolitik mengancam stabilitas rantai pasok internasional.
Mendag Budi menegaskan bahwa kepastian berusaha adalah kunci bagi pelaku usaha untuk berinovasi dan tumbuh. “Kita perlu memastikan perdagangan berjalan dengan prinsip keterbukaan, transparansi, dan prediktabilitas. Tanpa itu, pelaku usaha akan sulit mengambil keputusan jangka panjang,” ujarnya.
Menteri McClay sependapat. Ia menekankan bahwa Selandia Baru juga menolak praktik perdagangan yang tidak adil dan siap bekerja sama dengan Indonesia untuk menjaga arus barang dan jasa tetap lancar. “Kami mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mendorong transparansi kebijakan. Ini penting untuk menjaga kepercayaan di pasar internasional,” katanya.
Kedua negara menargetkan perdagangan bilateral mencapai NZD 6 miliar atau USD 3,6 miliar pada 2029. Angka ini bukan sekadar target simbolik, melainkan hasil perhitungan berdasarkan tren pertumbuhan perdagangan yang dalam lima tahun terakhir menunjukkan kenaikan signifikan.
Pemanfaatan maksimal dua instrumen perdagangan utama yakni AANZFTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) menjadi strategi utama. Keduanya memberikan fasilitas penghapusan tarif, penyederhanaan prosedur kepabeanan, dan pengakuan standar teknis, yang akan mengurangi hambatan perdagangan.

Selain itu, dukungan Selandia Baru terhadap proses aksesi Indonesia ke CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership) dan keanggotaan di OECD memberi dimensi strategis tambahan. Dukungan ini mencakup asistensi teknis, pertukaran pengalaman kebijakan, dan pendampingan regulasi agar selaras dengan standar internasional.
Data Kementerian Perdagangan RI menunjukkan bahwa pada periode Januari–Juni 2025, perdagangan kedua negara mencapai USD 963,23 juta, naik 21,56 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia tercatat USD 374,89 juta, sementara impor dari Selandia Baru mencapai USD 588,35 juta.
Pada 2024, total perdagangan mencapai USD 1,92 miliar. Ekspor utama Indonesia meliputi bungkil minyak, batu bara, monitor dan proyektor, trafo listrik, serta kayu. Sementara impor dari Selandia Baru didominasi susu dan krim, peralatan radar, mentega, keju dan dadih, serta tepung dan pelet.
Pertemuan ini menegaskan bahwa hubungan Indonesia–Selandia Baru bukan hanya soal nilai transaksi, tetapi juga soal membangun kepercayaan, berbagi teknologi, dan menciptakan ketahanan ekonomi bersama.
Di tengah ketidakpastian global, kedua negara memilih jalur kolaborasi yang berorientasi pada keberlanjutan dan saling menguntungkan. Jika target perdagangan 2029 tercapai, kerja sama ini bukan hanya akan menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi masyarakat di kedua negara dari petani dan nelayan, hingga mahasiswa dan wirausahawan muda.
“Dengan komitmen bersama, kita tidak hanya memperkuat kemitraan ekonomi, tetapi juga membangun jembatan persahabatan yang akan bertahan puluhan tahun ke depan,” tutup Mendag Budi Santoso. (Ali)





























