Duo Lilie-Elsa: Taklukkan Cartenz Sampai Mati

Obsessionnews.com - Menggapai puncak gunung tertinggi merupakan impian para pendaki di planet Bumi ini. Duo Lilie-Elsa menggapainya hingga menuju keabadian. Keduanya meninggal dunia selepas menapaki puncak Cartenz, Papua Tengah pada Sabtu (1/3). Peristiwa tersebut boleh jadi tragis, namun menegaskan predikat keduanya sebagai ratu pendaki (the hiking queens).
Jenazah kedua ratu itu telah berhasil dievakuasi dari puncak Cartenz pada Minggu (2/3) dan Senin (3/3). Elsa lebih dulu dievakuasi, sedangkan Lilie menyusul. Kini jenazah duo pendaki gaek itu sedang menuju Jakarta dan Bandung untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan.
Suami Lilie, yakni Frigard tak memiliki firasat kepergian sang istri bakal berlanjut ke alam baka, selepas memuncaki Cartenz. Dia mengaku mengizinkan istri pergi karena Lilie memiliki reputasi sebagai pendaki ulung.
Lilie Wijayati dan Elsa Laksono, keduanya berumur 60 tahun, meninggal dunia karena kedinginan di Puncak Cartens, dekat Timika, Papua. Lilie perancang busana di Bandung, Elsa dokter gigi di Jakarta. Mereka alumni SMA Dempo Malang tahun 1984 https://t.co/InLFkMKwt7pic.twitter.com/EEWYhowKdf
— Andreas Harsono (@andreasharsono) March 1, 2025
"Izinnya sudah lama karena memang naik ke Puncak Cartenz merupakan cita-citanya yang belum tercapai," kata Frigard kepada wartawan.
Baca Juga:
Sebanyak 13 Ribu Pendaki Sampai di Puncak Bulu Baria, Gunung Terbersih yang Dikelola EIGER
The hiking queens merupakan julukan yang disematkan sendiri oleh Lilie Wijayanti Poegiono yang bersahabat dengan Elsa Laksono sedari remaja. Keduanya gemar mendaki sejak SMP. Pengakuan ini bisa dilacak melalui unggahan Lilie dalam Instagram pribadi @mamakpendaki.
“Kami gak bisa menari, menarinya jelek karena bukan Dancing Queen tapi kami adalah Hiking Queen,” begitu penggalan tulisan Lilie.
Lilie menulis itu sambil mengunggah konten video bersama Elsa menaklukkan Gunung Slamet, Jawa Tengah. Konten tersebut diunggah pada 8 November 2024. Terlihat betapa keduanya bahagia berdansa di gunung. “Hutan adalah lantai dansa kami,” tulis keterangan dalam video itu.
Melalui unggahan tersebut, Lilie membagikan kisah persahabatannya dengan Elsa. Berkat kekuatan media sosial, keduanya bisa kembali menjalin persahabatan dan melanjutkan hobi naik gunung setelah sempat putus komunikasi karena kesibukan masing-masing.
Komunikasi terputus karena Lilie melanjutkan karier di Telkom sedangkan Elsa kuliah kedokteran di Jakarta. Persahabatan yang kembali terjalin membangkitkan gairahnya menaklukkan gunung. Tepat ketika Elsa berulang tahun ke-50, keduanya merayakan dengan menaklukkan puncak Semeru, namun gagal.
Hobi naik gunung ini terus berlanjut hingga keduanya membentuk komunitas Kura-Kura Gunung. 10 tahun setelah peristiwa Semeru, keduanya masuk tim menuju puncak Cartenz yang tingginya 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dan maut datang menjemput kedua sahabat ketika menuruni puncak Cartenz.
Lilie-Elsa dan tim mulai merangkak naik pada 28 Februari pada pukul 04.00 WIT dari Basecamp Yellow Valley. Tim berhasil mencapai puncak pada pukul 14.00 WIT. Tak terbayang kebahagiaan mereka menikmati alam dari salah satu gunung tertinggi di dunia. Namun petaka dimulai ketika komunikasi terputus akibat handy talky habis baterai dan seorang pendaki terserang hipotermia terlebih dulu.
Pada malam hari dua orang pendaki turun ke basecamp untuk meminta bantuan. Proses penyelamatan tak berlangsung mulus akibat cuaca buruk. Tim kesulitan untuk menjemput rombongan. Nyawa Lilie-Elsa tak tertolong akibat terjangkit hipotermia, namun semangat kedua nenek berusia 60 tahun patut ditiru. Selamat berdansa dalam pelukan Cartenz. (Erwin)





























