Nasib Tragis Sektor Migas;Pilunya Hati Rakyat

Nasib Tragis Sektor Migas;Pilunya Hati Rakyat
* Ilustrasi migas. (Antara)

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Satu dekade terakhir benar benar menjadi masa paling memilukan bagi sektor migas. Walau terlihat pesta pora kekayaan pejabat dalam lingkungan sektor migas yang tidak akan habis 7 turunan, namun kenyataan pahit harus dihadapi oleh negara republik tercinta Indonesia.

Apa itu? Semua hal yang berkaitan dengan migas menurun, hanya harga BBM dan rekan rekannya yang naik. Produksi minyak  menurun, ekspor minyak menurun, sumur-sumur minyak makin lama hanya mengeluarkan setetes minyak. Semua kenyataan di depan mata terpuruk dan semua pejabat dalam lingkungan migas hanya bisa menonton.

Hal yang sangat menyakitkan hati di tengah kemewahan hidup pejabat migas adalah pendapatan negara dari bagi hasil migas yang tinggal secuil. Makin lama pendapatan ini hanya seupil. Sekarang berapa besar pendapatan negara dari migas? Tinggal setahi kuku dibandingkan kontribusi sektor lain.

Tahun 2014 kontribusi sektor migas dalam APBN mebcapai 14,19 persen.  Masih lumayan, meskipun di masa yang lampau kontribusi migas bisa 70-75  persen terhadap APBN. Tahun 2023 pendapatan negara dari migas hanya 4,75 persen. Ini sungguh aneh, industri makin bertambah, kendaraan bermotor makin banyak, penduduk makin banyak, sebaliknya sektor energi migasnya hanya menyumbang setahi kuku kepada APBN.

Akibat hancur leburnya sektor mingas tanpa ada pengganti yang signifikan mengakibatkan negara terpaksa berhutang untuk membiayai pemerintahan dan memungut pajak sedalam dalamnya kepada  masyarakat hingga ke tulang, hingga ngilu. Pajak telah merampas daya beli masyarakat dan orang miskin.

Padahal jika migas dikelola dengan benar, dengan jujur dan transparan, bersama kekayaan alam yang lain diusahakan dengan patriotik, dengan semangat cinta tanah air dan bangsa, semangat tidak memperkaya diri sendiri, maka seharusnya rakyat tidak perlu bayar pajak. Rakyat Indonesia pada zaman perjuangan kemerdekaan dulu cita-citanya adalah lepas dari pajak kolonial. Mengapa sekarang ada lagi. sementara kekayaan migas Indonesia siapa yang colong? []