Garuda ‘Diopname’ Bintang Emon, Pancasila Telah Mati

Garuda ‘Diopname’ Bintang Emon, Pancasila Telah Mati
* Ahmad Khozinudin. (Foto: ARH/obsessionnews.com)

Oleh: Ahmad Khozinudin, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Baru saja ada video menarik lewat di laman tik tok penulis. Video itu reupload dari akun Instagram komika Bintang Emon.

Video itu diberi title “Momen Bintang Emon Memeriksa Burung Garuda Yang Tengah Sakit di Hari Kemerdekaan”.

Dikisahkan, ada asien Burung Garuda di periksa dokter Bintang Emon. Menurut diagnosa dokter, kondisi Garuda sudah sakit parah. Ada sel-sel jahat yang merusak dari dalam.

Memang sudah diupayakan dengan menyuntikan vaksin untuk mengusir sel-sel jahat. Tapi ternyata vaksin itu kalah, sel-sel jahat sudah terlalu banyak dan sistemis.

Saat diupayakan dibongkar, kerusakannya makin luas. Penyakitnya sudah sangat parah.

Ketika keluarga pasien Garuda bertanya kepada dokter Bintang Emon, apakah Garuda bisa diselamatkan?

Sang dokter hanya mengatakan: “Pokoknya nanti bisa diiniinlah, habis diiniin baru diituin. Lalu di inilah…pokoknya aman.”

Tidak berselang lama, indikator alat deteksi jantung memberikan alarm, tanda makin melemahnya detak jantung. Dan akhirnya detak itu pun berakhir.

Satire yang dibuat komika Bintang Emon ini sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang terjadi di hari kemerdekaan ini. Saat bangsa ini mendeklarasikan keberagaman dalam kesatuan, melambangkannya dengan slogan ‘Bhineka Tunggal Ika’, Kepala BPIP Yudian Wahyudi sebagai pejabat lembaga Pembina Pancasila justru memberangus keberagaman dengan dalih keseragaman uniform dalam kasus pencopotan jilbab Muslimah Paskibraka.

Peristiwa ini sebenarnya bukan klimaks yang menandakan Pancasila telah mati. Pancasila telah lama mati.

Budayawan Sujiwo Tedjo bahkan pernah mempertanyakan. Di mana itu Pancasila? Pertanyaan ini justru mengonfirmasi bahwa Pancasila itu bukan mati. Tapi memang tak pernah ada.

Surya Paloh bahkan pernah menyatakan bangsa ini adalah bangsa kapitalis yang liberal. Dengan nada pejoratif, Surya Paloh juga mempertanyakan. Pancasila, Pancasila, di mana itu Pancasila? Ungkapnya.

Penulis sendiri telah mengendus sejak lama bahwa Pancasila memang tak pernah ada. Tidak pernah diyakini, apalagi diamalkan.

Mereka yang sok Pancasilais, ternyata maling semua. Sebut saja koruptor seperti Setya Novanto, Idrus Marham, Romi Romahurmuzy, Imam Nahrawi, dan lain_lain, itu semua teriak paling Pancasila. Ternyata koruptor!

Belum lagi Jokowi dan keluarganya T?teriak Pancasila, ternyata oligarki tambang. Blok Medan punya Bobby dan Kahkyang semakin membuka tabir Pancasila itu cuma omong kosong belaka.

Dalam konteks sejarah bangsa, secara politik Pancasila hanya dijadikan alat. Alat untuk membungkam dan menggebuk umat Islam.

Di Orde lama Pancasila digunakan untuk menggebuk Masyumi. Orde baru, Pancasila digunakan untuk membungkam HMI. Era Jokowi, HTI dan  FPI juga direpresi oleh Jokowi berdalih Pancasila.

Karena faktanya Pancasila telah mati, bahkan dianggap tak pernah ada oleh sebagian yang lain, maka bangsa ini butuh narasi untuk menyatukan sekaligus membangkitkan. Karena negeri ini mayoritas muslim, maka tak ada pilihan lain selain menyatukan bangsa dan negeri ini dan membangkitkannya dengan narasi Islam.

Islam yang bagaimana? Islam, yang menerapkan syariah secara kaffah dalam naungan Daulah Khilafah. Sudah saatnya, mengakhiri narasi Pancasila yang menipu, kita satukan dan bangkitkan negeri ini, dengan seruan syariah dan Khilafah. Allahu Akbar ! []