Muhammadiyah Itu Berkemajuan Bukan Jumud

Oleh : As'ad Bukhari, S.Sos., MA, Alumni Pendidikan Intensif Muballigh Muda Berkemajuan Paham keagamaan Muhammadiyah itu tidak banyak yang mau mengakuinya, termasuk di beberapa kalangan warga Muhammadiyah itu sendiri juga tidak paham pandangan keagamaan Muhammadiyah. Indonesia itu saat dulu kalah, umat Islam sangat tertinggal jauh dari segi saintifik dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Ulama terdahulu lebih banyak mengajarkan tradisi yang sifatnya tidak mencerdaskan, mencerahkan dan menggerakkan umat agar lebih maju dan unggul. Pendekatan ulama terdahulu lebih banyak mengajarkan pemahaman pasrah layaknya aliran jabariyyah atau mirip komunisme dan pemahaman pemisahan antara urusan dunia dan agama layaknya qadariyyah atau mirip sekularisme. Era di mana saat itu tak banyak ulama yang berani mengambil peran pembaharu tajid dan peran islam sebagai pandangan utama atau disebut pula Islamisme non versi arab spring. Suatu keadaan di mana Islam hanya menggunggulkan romantisme sejarah kejayaan masa lalu ketimbang kembali melahirkan peradaban islam baru di tengah era modernisme. Saat itu masyarakat memandang Islam sebagai agama yang tertutup oleh takhayul, bid'ah dan khurafat. Umat Islam sama sekali jumud dan beku. Sehingga muncul pertanyaan di kalangan masyarakat luas: inikah Islam? Inikah agama yang dikatakan agama pamungkas bagi umat manusia? Namun tidak mampu menjadikan bangsa-bangsa yang menganut agama ini menjadi bangsa-bangsa yang merdeka, yang berdaulat, yang makmur, yang sentosa dan pantas dikagumi. KH Ahmad Dahlan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam pada hubungan erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara dan masyarakat. Terjadinya kemunduran umat Islam disebabkan karena paham jumud atau keadaan membeku, statis, tak ada perubahan. Paham jumud menyebabkan umat Islam tidak menghendaki perubahan, tidak mau menerima perubahan dan berpegang teguh pada tradisi. Muhammadiyah itu berkemajuan bukan jumud apalagi latah dan malah kembali ikut-ikutan sama yang lain yang justru Muhammadiyah melalui generasi awal dan KH Ahmad Dahlan memberantasnya dengan pesanan dakwah yang lemah lembut, cerdas, dan tidak grusa-grusu melainkan arif nan bijaksana. Akan tetapi hari ini banyak warganya yang tidak lagi mampu mendalami sejarah dan literasi Muhammadiyah secara detail, mendalam serta penuh penghayatan. Padahal slogan utama yang selaku didengar bahwa Muhammadiyah itu berkemajuan yang membawa misi Islam Berkemajuan mencerahkan semesta dengan sains dan agama yang menyatu dalam integrasi keilmuan Islam dengan sains. Jumud cenderung pada kondisi klasik, tradisional, statis, kaku, beku, tidak mencerahkan, melemahkan akal, hanya doktrin kultus, dan sangat berkemunduran yang akibatnya bisa menjadi jahiliyah modern akibat dari agama hanya dijadikan simbol ritual tradisi semata tanpa ada tajid kemajuan. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah di berbagai kitab Siroh Nabawiyah, bahwa Rasulullah itu tidak menginginkan Islam dan umatnya menjadi jumud, lemah dan hanya mampu ikutan sebagai taqlid buta tanpa ilmu, akal dan iman. Sering kali tradisi jumud itu dibungkus keagamaan, sehingga paham keagamaan yang seharusnya mencerahkan menjadi sirna akibat tradisi keagamaan yang jumud tadi. Bukan berarti Islam anti tradisi, adat, budaya, Al urf, dan sebagainya tapi bukan berarti melahirkan kejumudan baru dalam agama sehingga Islam hanya dianggap mengurusi surga, mati, dan sabar saja layaknya pandangan diskriminasi terhadap wanita yang hanya hidup untuk kasur, sumur dan dapur saja. Ternyata tantangan dakwah tajid berkemajuan baik era kenanian, era kekhilafahan sampai pada era modernisasi jauh semakin berat, sulit, payah, susah, dan penuh onak duri. Sudah seharusnya Muhammadiyah itu berkemajuan yang kembali justru sebagai pelopor pembaharu sesuai kontekstual kontemporer yang diciptakan dalam kemajuan sains dan agama, bahkan malah kembali jumud ikut tradisi yang dulunya Muhammadiyah tidak perlu melakukannya karena ada hal lain yang lebih ilmiah, progresif dan mencerahkan. Jangan sampai tradisi jumud masuk di Muhammadiyah akibat merasa banyaknya amal usaha Muhammadiyah, sehingga membutuhkan banyak kader Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah walaupun jumud dalam beragama. Sebab kejumudan itu yang kelak akan membuat semakin lemah bahkan hancur nya amal usaha Muhammadiyah jika tidak memapu untuk kembali ke jalan tajdid berkemajuan. Àgama Islam dan Muhammadiyah itu mencerahkan bukan malah menjumudkan, Agama Islam dan Muhammadiyah itu berkemajuan bukan justru berkemunduran, Agama Islam dan Muhammadiyah itu tajid mencerdaskan bukan pula tajhal membodohkan membodohkan. Namun bukan berarti Muhammadiyah melawan kejumudan layaknya seperi pasukan perang militer, bukan pula dengan intrik politik kekuasaan, serta bukan dengan jalan bisnis keuntungan melainkan caranya dengan lemah lembut, arif bijaksana dan elegan egaliter menyikapi nya disesuaikan dengan kondisi kultur nya secara bersahabat. Muhammadiyah tidak ada dalam sejarahnya bermusuhan dengan siapa pun termasuk kelompok jumud, justru di dalam sejarah Muhammadiyah itu yang lebih banyak dimusuhi, ditolak, dihina, diremehkan, ditertawakan, dijauhi, disepelekan, dan dihindari baik era dulu bahkan mungkin masih ada sampai hari ini. Semoga dakwah Muhammadiyah terus berkemajuan dan tidak latah taqlid kembali menghidupkan tradisi jumud yang membuat islam dan umatnya kembali menjadi arah yang berkemunduran. []





























