Bawa Pesan Ki Hadjar Dewantara, Ridwan Hisjam Tetap Berpolitik, Meski Tidak di DPR

Bawa Pesan Ki Hadjar Dewantara, Ridwan Hisjam Tetap Berpolitik, Meski Tidak di DPR

Obsessionnews.com - Ini adalah tahun terakhir di mana politisi senior Partai Golkar Ridwan Hisjam akan menyelesaikan masa jabatannya sebagai anggota DPR RI di Komisi VII. Tidak sebentar bagi seorang Ridwan untuk bisa menduduki posisi sampai sekarang ini.

Perjalanan politiknya sudah dimulai sejak zaman Orde Baru, sekitar tahun 80-an, kala itu, Ridwan bersama para pengusaha muda di Jawa Timur yang tergabung dalam HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) masuk dalam Sekber Golkar.

Sebagai seorang Insiyur jebolan ITS, Ridwan rupanya bukan hanya orang yang ahli dalam bidang teknik, tapi dia rupanya juga berbakat dalam dunia bisnis dan politik. Buktinya, lebih dari separuh hidupnya dihabiskan sebagai seorang politisi yang punya banyak kawan.

Tak pelak, murid dari Akbar Tandjung ini, bisa tetap survive sebagai seorang politisi melintasi berbagai zaman. Dari Orde Baru, Reformasi, sampai zaman Milenial ini. Ia bahkan sampai saat ini masih menjadi anggota dewan untuk kelima kalinya atau lima periode sejak Orde Baru.

Fakta ini, membuktikan, sosoknya bukanlah seorang politisi yang kaleng-kaleng. Konsistensinya berlayar bersama Golkar juga menjadikan dia dikenal sebagai politisi atau kader yang militan, bukan kutu loncat. Berpegang teguh, pada prinsip-prinsip dan ideologi Partai Golkar.

"Menurut saya Golkar adalah partai yang punya komitmen kebangsaan yang sangat tinggi, sejak awal berdiri Golkar selalu memposisikan diri sebagai partainya wong cilik. Karenanya, Golkar dari dulu sampai sekarang selalu punya tempat di hati masyarakat,"ujar Ridwan, dalam keterangannya, Sabtu (4/5/2024).

Ridwan menuturkan, banyak orang mengira pada saat Reformasi, Golkar akan dihilangkan. Namun ternyata tidak. Golkar tetap bisa mengikuti Pemilu Legislatif 1999, dan hasilnya pun Golkar masih menduduki rangking 2, partai pemenang Pemilu dengan perolehan 120 kursi di DPR, PDI-P diurutan pertama 153 kursi.

Kemudian hebatnya lagi, kata Ridwan, Golkar mampu menjadi partai pemenang Pemilu pada 2004 saat diketuai Akbar Tandjung. Saat itu, Golkar berhasil meraih 128 kursi di Parlemen, sementara PDIP turun jadi peringkat dua dengan perolehan 109 kursi.

"Inilah menurut saya hebatnya Golkar, partai yang sudah sangat matang berpolitik. Semua orang mengira suara Golkar akan hancur lebur pasca Reformasi, tapi di bawah kepemimpinan Bung Akbar, Golkar tetap exsis, bahkan masih mampu menjadi partai pemenang Pemilu,"ujarnya.

Hal ini menunjukan, Golkar masih dicintai rakyat sampai detik ini, meski perolehan kursi Golkar di Parlemen pasca kepemimpinan Akbar Tandjung masih menempati rangking kedua. "Inilah yang menjadi PR dan tantangan kita bersama, bagaimana bisa mengembalikan suara Golkar sebagai partai pemenang Pemilu," terang Ridwan.

Pada Pemilu 2024, Mantan Ketua DPD Golkar Jawa Timur ini memutuskan untuk tidak lagi mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Ia merasa kariernya di DPR sudah cukup, dan saatnya untuk regenerasi, memberi kesempatan bagi kader-kader muda untuk berkiprah di Senayan.

Menurutnya, untuk membesarkan Partai Golkar menjadi pemenang Pemilu, caranya adalah, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak muda bergabung dalam Partai Bringin. Sebab, era mileninal, adalah eranya anak muda untuk memimpin, menempati posisi-posisi strategis di negeri ini.

Ridwan pun mengaku senang, jika di Parlemen banyak diisi politisi-politisi muda, meski tidak lama lagi, ia akan turun dari kursinya di DPR. Namun demikian, bukan berarti Ridwan akan berhenti sebagai seorang politisi.

Baginya, menjadi politisi adalah hobi, karenanya, darah politisinya akan tetap mengalir sampai akhir hidupnya.

Ridwan menuturkan, politik yang akan terus dibangun, dalah politik kebijaksanaan, seperti ungkapan bijak yang disampaikan seorang tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, yakni "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"

Ungkapan ini memberi arti bahwa seorang guru, atau pemimpin yang ada di depan haruslah memberi contoh yang baik (Ing Ngarsa Sung Tuladha). Kemudian yang di tengah harus bisa memberikan ide atau (Ing Madya Mangun Karsa). Serta terakhir, yang di belakang harus bisa memberikan dorongan, menyemangati yang di depan (Tur Wuri Handayani).

"Karena itu tugas saya ke depan sebagai orangtua adalah harus bisa memberikan contoh yang baik bagi yang muda-muda, memberikan ide atau nasihat yang baik kepada mereka, dan yang terakhir adalah mendorong, memberi semangat anak-anak muda ini untuk tampil dalam panggung politik. Inilah pesan yang kita tangkap dari seorang tokoh Pendidikan kita KH. Hadjar Dewantara," tukasnya. (Al)