Poppy Dharsono Semangat Majukan Perekonomian Melalui Fashion

Obsessionnews.com - Dibesarkan dengan melihat sang ibu menjahit di rumah, membuat kecintaan pada tata busana adalah sesuatu yang wajar bagi Poppy Dharsono. Kiprahnya di industri fashion Indonesia bisa dianggap sebagai bagian sejarah mode Tanah Air. Keterlibatannya dalam berbagai ajang fashion, baik di dalam maupun luar negeri, menorehkan jejak yang mengagumkan. Perempuan yang telah menggeluti fashion selama 40 tahun ini masih aktif di usia senjanya. Baca juga: Poppy Dharsono Miliki Semangat Kembangkan Industri Fashion Tanah Air Poppy Dharsonomengungkapkan kiprahnya di dunia fashion itu kepada jurnalis senior Elly Simanjuntak dalam acara podcast Oh My God yang ditayangkan kanal Youtube TV OMG News. https://www.youtube.com/watch?v=-iEITW2cDEQ&t=276s Pendidikan formalnya dalam bidang mode di Ecole Supérieure des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) di Paris pada tahun 1976 merupakan langkah awal yang serius di bidang ini. Setelah lulus pada tahun 1977, dia kembali ke Jakarta dengan tekad kuat untuk memulai kariernya sebagai seorang desainer mode. Dengan lima mesin jahit sebagai modal awal, Poppy memulai perusahaan desain fashion pertamanya. Langkah kecil ini menandai awal dari perjalanan menuju kemandirian dan menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1980, Poppy bersama keempat sahabatnya mendirikan PT Rana Sankara, sebuah perusahaan garmen yang memproduksi denim tanpa merek untuk dipasarkan ke Amerika Serikat dan Eropa. Peran Kun Mawira, salah satu sahabatnya, sangat berpengaruh bagi Poppy dalam mengembangkan bisnisnya. Kun Mawira diakui sebagai mentornya dalam berbagai hal terkait dengan teknik bisnis. Dorongan dan bimbingannya menjadi faktor penting dalam membawa kesuksesan bagi PT Rana Sankara. Meskipun sudah memasuki usia senja, semangat Poppy Dharsono dalam menggeluti industri fashion tidak pudar. Kiprahnya yang panjang dan kontribusinya yang signifikan telah menjadikannya salah satu tokoh penting dalam dunia mode Indonesia, dan jejaknya akan terus dikenang dalam sejarah industri fashion Tanah Air. Poppy pun terus mengembangkan bisnisnya dengan matang dan terlatih seiring berjalannya waktu. Selain fokus dalam industri fashion, dia juga membangun perusahaan-perusahaan penunjang yang beragam. Salah satunya adalah PT Pesona Sinjang Kencana, yang memproduksi produk tekstil buatan. Dengan kualitas produk yang unggul, perusahaan ini berhasil menembus pasar lokal dan internasional. Sementara itu, PT Poppy Dharsono Cosmetics merupakan perusahaan kosmetik yang masih erat kaitannya dengan industri kecantikan. Namun, eksplorasi Poppy dalam dunia bisnis tidak berhenti di situ. Melalui PT Spinindo Mitradaya, yang didirikannya 34 tahun lalu, dia merambah ke bidang properti komersial. Perusahaan ini bergerak dalam penyediaan gudang, bangunan perkantoran, dan kawasan industri, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri properti di Indonesia. Tak hanya berbisnis, Poppy juga memiliki semangat untuk mengembangkan industri fashion Tanah Air. Pada tahun 1997, dia bersama Hariyadi Sukamdani menggagas LaSalle College Indonesia. Sebagai bagian dari jaringan LCI Education yang berpusat di Kanada, LaSalle College Indonesia menjadi sekolah tinggi desain kelas internasional di Jakarta dan Surabaya. LaSalle College Indonesia menawarkan berbagai bidang studi, termasuk bisnis fashion, desain fashion, artistic make-up, desain media digital, desain interior, fotografi, dan program sinematografi. Dengan pengalaman sekolah selama 26 tahun, LaSalle College Indonesia mampu mendukung kesuksesan program studi sinematografi, menjawab kebutuhan akan pekerja kreatif yang memiliki kompetensi profesi yang berlaku di industri film. Dengan keragaman bisnisnya, Poppy Dharsono terus membuktikan dirinya sebagai salah satu pengusaha sukses yang berperan penting dalam mengembangkan industri mode dan properti di Indonesia. Dinilai sukses sebagai pebisnis, Poppy tak menampik saran dari salah satu sahabatnya, Rizal Ramli yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia. Ekonom senior itu sempat berujar bahwa Poppy sudah mencapai tujuan pribadinya, sekarang saatnya melakukan sesuatu untuk rakyat. “Dia menyarankan saya untuk mencalonkan diri sebagai gubernur di Jawa Tengah dengan dukungan Partai Kebangkitan Bangsa. Saya pun memulai prosedur untuk menjadi calon gubernur,” ujar Poppy dikutip dari Majalah Women’s Obsession, Selasa (26/3/2024). Awal dirinya terjun ke politik, Poppy beberapa kali menyambangi kediaman Almarhum Gus Dur untuk meminta arahan dari sang pendiri partai. Dia kemudian mengikuti prosedur dan menyelesaikan prosedur hingga Musyawarah Kebangkitan (Muskit), yakni semacam kongres pemangku kepentingan PKB guna memilih calon yang paling memenuhi syarat untuk menjadi gubernur Jawa Tengah. Sayangnya, dia tidak lolos kualifikasi seperti yang diperkirakannya. Namun dia mengungkapkan telah mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami bagaimana politik bekerja. Pantang berputus asa, anak pertama dari delapan bersaudara ini mencoba peruntungannya mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI pada 2009. “Saya berhasil, karena sebelumnya bertemu banyak konstituen di Jawa Tengah untuk pencalonan gubernur, mewakili 35 juta orang,” katanya. Pada Januari 2009-Agustus 2011, Poppy masuk anggota komite V yang membidangi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), pajak, perimbangan keuangan pusat dan daerah, lembaga keuangan, dan koperasi, usaha mikro, kecil, serta menengah. Lalu pada Agustus 2011 hingga 2014, dia termasuk dalam Komisi II DPD RI. Komisi ini membidangi pertanian dan perkebunan, perhubungan, kelautan dan perikanan, energi dan sumber daya mineral, kehutanan dan lingkungan hidup, pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan daerah tertinggal, perindustrian dan perdagangan, penanaman modal, dan pekerjaan umum. Indonesia Fashion Week Salah satu legacy yang diinisiasi Poppy melalui Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di dunia mode adalah Indonesia Fashion Week (IFW). Gelaran fashion yang telah memasuki tahun ke-11 pada 2024 ini, konsisten mengangkat adibusana dan wastra Nusantara, agar tetap aktual, berkelas dan punya dampak ekonomi di seluruh ekosistem kreatif dalam negeri maupun internasional. “Indonesia Fashion Week adalah platform yang diadakan untuk menguji industri fashion dari hulu ke hilir. APPMI sendiri sudah memiliki 21 cabang di berbagai provinsi. Di setiap cabang organisasi harus berkolaborasi dengan Dekranasda dan dengan para artisan setempat, seperti pembatik, penyulam, penenun, dan lainnya. Kolaborasi ini harus mampu menggali, kemudian mengembangkan hingga menghasilkan karya yang bisa diterima pasar,” papar Poppy. Lebih lanjut dia menyampaikan secara brand mungkin tidak bisa mengalahkan nama-nama besar, seperti Chanel yang sudah lebih advance secara teknologi dan memiliki penunjang industri yang komplet. “Apa yang harus kita berikan adalah fashion yang memiliki karakteristik, dari berbagai wastra di Indonesia. Jadi, fashion yang memiliki kepribadian Indonesia, tetapi bisa diterima pasar internasional dan mengikuti tren,” jelasnya. Sempat diadakan secara virtual akibat pandemi, ajang ini kembali diadakan secara offline tahun ini dengan mengangkat tema ‘Langgam Jakarta Teranyam’. “Apa yang harus kita berikan adalah fashion yang memiliki karakteristik, dari berbagai wastra di Indonesia,” ujarnya. Fokus pada kultur Jakarta, Poppy menilai berbagai unsur, seperti corak budaya hingga turisme, bisa dipadukan dan dinaikkan di platform IFW, menjadi sesuatu yang bisa mem-branding Jakarta. Sedangkan Teranyam terinspirasi dari konsep Jakarta sebagai melting pot, tempat meleburnya anak semua bangsa sejak ratusan tahun silam. Orang-orang dari Melayu, India, Cina, hingga Eropa membawa tradisi masing-masing ke kota Jakarta dan menciptakan akulturasi budaya. “Lihat saja kebaya encim yang jadi ciri khas Jakarta. Ada unsur Jawa bercampur Cina dan Eropa. Penggunaan selendang pada kebaya misalnya, terpengaruh dari ‘sari’ India, bedanya sari merupakan satu kesatuan dengan kain yang mereka gunakan. Jadi, desainer harus belajar juga tentang sejarah sebagai sebuah identitas. Sejarah adalah jendela untuk melihat ke masa depan, sehingga generasi berikutnya memiliki kepribadian yang bisa memberikan nilai tambah pada kreativitas-kreativitas yang dilahirkan di Indonesia,” terangnya dengan bersemangat. (arh)





























