Jokowi akan Minta Megawati Agar PDIP tak Ikut Pemakzulan?

Obsessionnews.com - Joko Widodo (Jokowi) “dibesarkan” Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Siapa yang bisa bantah? Menjadi Wali Kota Solo dua periode, dicalonkan oleh PDIP. Menjadi Gubernur Jakarta, juga dicalonkan oleh PDIP. Menjadi Presiden dua periode, juga dicalonkan oleh PDIP. Tidak hanya Jokowi, anak dan mantunya juga mulai dibesarkan PDIP. Gibran, anak belum cukup umur, bisa menjadi Wali Kota Solo karena PDIP. Begitu juga Bobby Nasution, menjadi Wali Kota Medan juga karena PDIP. “Memang tidak salah pernyataan Megawati, ketua umum PDIP. Tanpa PDIP, Jokowi bukan siapa-siapa. Benar. Jokowi bukan tokoh nasional, bukan tokoh pemikir, bukan pemuka agama. Jokowi, memang bukan siapa-siapa,” kata Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Prof Dr Anthony Budiawan, Senin (22/1/2024). Menurutnya, Jokowi hanya penikmat reformasi, penikmat demokrasi hasil reformasi. “Tetapi, Jokowi lupa daratan. Pepatah Indonesia bilang, kacang lupa kulit. Tidak ingat asal-usulnya,”ungkap anggota Petisi 100 ini. Ia pun menilai, Jokowi kini berkhianat. Berkhianat terhadap reformasi dan demokrasi, terhadap rakyat, terhadap partai politik yang membesarkannya. “Jokowi cawe-cawe politik, cawe-cawe pemilu dan pilpres, mematikan demokrasi, untuk kepentingan dirinya dan keluarganya,” paparnya. Jokowi mau minta perpanjangan masa jabatan presiden sampai 2027, lanjutnya, tetapi untungnya kandas. Mau tambah periode jabatan menjadi tiga periode, juga kandas. Terakhir, Gibran dijadikan calon wakil presiden dengan cara memanipulasi dan melanggar konstitusi, melalui bantuan adik ipar Jokowi di Mahkamah Konstitusi, dengan melanggar hukum, etika dan moral. Gibran dicalonkan sebagai wakil presiden oleh Golkar, mendampingi Prabowo, melawan calon presiden dari PDIP, partai yang membesarkannya. Padahal status Gibran ketika itu masih sebagai anggota PDIP, dan masih sebagai Wali Kota dari PDIP. “Apa namanya kalau bukan pengkhianat? Bahkan Bobby Nasution menyatakan mendukung Prabowo-Gibran. Sehingga dipecat dari PDIP. Lengkap sudah pengkhianatan Joko Widodo dan keluarga terhadap PDIP,” tandas Anthony. Diungkapkan, Jokowi juga menjadi musuh sebagian besar rakyat Indonesia. “Banyak kebijakannya yang menyusahkan rakyat, khususnya kelompok bawah. Tingkat kemiskinan naik. Tapi Jokowi ‘membeli’ popularitas dengan bantuan sosial!?” bebernya. Menurutynya pula, Jokowi juga menjadi musuh sebagian besar partai politik. Karena mau mengatur urusan internal partai, dengan memasang ketua umum boneka yang bermasalah korupsi untuk mendukungnya. “Pilpres 2024, Jokowi mendukung Prabowo sebagai calon presiden 2024. Bukan hanya mendukung, bahkan terkesan menjadi tim pemenangan, dengan memberdayakan kekuasaannya,” jelasnya. Dukungan kepada Prabowo, lanjut dia, tentu saja bukan untuk kepetingan Prabowo atau rakyat Indonesia. Tetapi, untuk kepentingan Jokowi dan keluarganya sendiri. Prabowo mungkin hanya alat saja untuk menjadikan Gibran sebagai calon wakil presiden, dan untuk melindungi dirinya setelah tidak menjabat lagi. “Prabowo juga pernah dikhianati Jokowi. Prabowo dan Gerindra ikut mendukung Joko Widodo sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada 2012. Tapi akhirnya Jokowi melawan Prabowo di Pilpres 2014. Ketika itu, Jokowi baru menjabat dua tahun sebagai Gubernur DKI Jakarta,” tuturnya. Memang Jokowi sekarang mendukung Prabowo, meninggalkan Megawati. Itu karena Jokowi tidak ada pilihan lain. Prabowo saat ini dianggap paling menguntungkan untuk dirinya. Pada saatnya, kalau tidak menguntungkan lagi, Prabowo akan ditinggal Jokowi lagi. Karena politik Jokowi sepertinya hanya untuk kepentingan dirinya saja. “Tanda-tanda ke situ mulai nampak. Setelah ditinggal banyak pihak, Jokowi sekarang terlihat melemah. Banyak partai politik mulai bangkit meninggalkan Jokowi,” tegas Anthony. Bahkan, jelasnya, partai politik yang tergabung Koalisi Indonesia Maju terlihat setengah hati mendukung Prabowo-Gibran. “Hampir semua baliho dan papan reklame partai politik pendukung Prabowo-Gibran tidak memasang gambar mereka. Bahkan ada baliho yang hanya menampilkan gambar Prabowo sendiri, tanpa Gibran,” ujar Anthony. Semua ini, menurutnya, menunjukkan Gibran tidak populer. Kalau populer, pasti gambar Gibran dipasang di mana-mana, di setiap sudut baliho dan papan reklame. “Tapi, anehnya, sudah tidak populer, pendukungnya malah teriak menang satu putaran. Ilusi,”sindir Anthony. Ia menambahkan, Jokowi paham sekali, kontestasi pilpres kali ini tidak menguntungkan posisinya. Prabowo-Gibran, pada akhirnya, diperkirakan akan kalah di putaran kedua pilpres. Untuk mencari selamat, Joko Widodo berupaya mendekati Megawati lagi. Seperti diungkap Tempo, dan Bocor Alus. “Demi kepentingannya sendiri, mungkin Prabowo akan ditinggal lagi, untuk kedua kalinya, oleh Jokowi. Mungkin juga, upaya bertemu dengan Megawati sekaligus untuk memohon agar PDIP tidak menerima permintaan pemakzulan Jokowi yang sedang bergaung sampai pelosok Indonesia,” prediksi Anthony. Anthony mengawati bahwa kali ini, Megawati sepertinya menolak untuk bertemu Jokowi. “Pengkhianatan Jokowi kepada PDIP sudah di luar batas normal. Bagaimana selanjutnya? Rakyat berharap DPR dapat segera mengevaluasi keberlanjutan jabatan Jokowi: lanjut atau diberhentikan?” (ARS/Red)





























