Lagi! Penembakan Massal Semakin Marak di Amerika

Penembakan massal semakin marak terjadi di Amerika Serikat (AS) menyusul penembakan di sekolah, supermarket, kampus dan rumah sakit. Kini terjadi lagi penembakan di tempat umum, yaitu di kelab malam dan kemudian penembakan di jalan. Tiga orang tewas dan 14 luka-luka dalam penbakan di sebuah kelab malam di Tennessee, AS, pada Minggu (5/6/2022) dini hari. Di hari yang sana, terjadi penembakan di kota Philadelphia, Pennsylvania, AS, yang menewaskan tiga orang dan 11 luka-luka. Sedikitnya tiga orang tewas dan 14 lainnya menderita luka tembak dan cedera lainnya dalam insiden penembakan di dekat sebuah klub malam di Tennessee Minggu dini hari (5/6). Kepala Kepolisian Chattanooga Celeste Murphy mengatakan 14 orang menderita luka tembak dan tiga lainnya tertabrak kendaraan ketiga berupaya melarikan diri dari lokasi penembakan. Dua orang tewas akibat luka tembak di lokasi kejadian, satu lainnya tewas setelah tertabrak kendaraan. Enam belas korban adalah orang dewasa, satu orang remaja. Sebagian korban luka-luka masih berada dalam kondisi kritis. Walikota Chattanooga Tim Kelly, yang menggambarkan dirinya sebagai seorang “orang yang rajin berburu” dan memiliki senjata api, menyeruka Kongres untuk memberlakukan aturan hukum untuk mengatasi kekerasan senjata api. Kelly adalah seorang independen. Ia mengatakan dalam beberapa minggu ke depan, pemerintahannya akan mengumumkan langkah-langkah baru untuk mengurangi kekerasan senjata api di tingkat lokal. Polisi menanggapi laporan penembakan sekitar pukul 02.42 pagi waktu setempat di McCallie Ave. dekat klub malam. Ketika tiba di lokasi, sudah banyak korban bergelimpangan. Murphy mengatakan polisi segera memberi bantuan dan mengamankan tempat kejadian. Murphy meminta siapa pun di komunitas itu yang memiliki informasi tentang penembakan tersebut, diminta untuk melapor. Ia mengatakan polisi percaya ini merupakan insiden yang terisolasi dan tidak ada ancaman keamanan publik. Namun ia menambahkan bahwa penembakan ini akan menjadi penyelidikan yang rumit ke depan. “Ini akan menjadi musim panas yang panjang, dan kita harus menghadapi dan menghentikannya,” tegas Murphy. Tiga orang tewas dan 11 lainnya luka-luka Sabtu (4/6) malam di kota Philadelphia, Pennsylvania, AS, setelah beberapa pelaku melepaskan tembakan ke arah kerumunan orang di sebuah jalan yang ramai, kata polisi. Peristiwa itu menjadi penembakan massal terbaru yang mengguncang Amerika, negara yang dicengkeram epidemi kekerasan bersenjata yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan ketika Kongres sedang berupaya mencari cara mengurangi aksi pembantaian yang telah merenggut ribuan nyawa di Amerika tahun ini. Inspektur Polisi Philadelphia D.F Pace mengatakan kepada wartawan bahwa dua laki-laki dan seorang perempuan tewas dalam peristiwa itu. Ia menyatakan, polisi yang menanggapi insiden itu “melihat beberapa penembak aktif yang melepaskan tembakan ke kerumunan.” “Bisa Anda bayangkan, ada ratusan orang yang sedang menikmati suasana South Street, seperti yang biasanya kita lihat setiap akhir pekan, ketika penembakan terjadi,” kata Pace. Gubernur Michigan Gretchen Whitmer di Lansing, Michigan. Seorang pria bersenjata yang diduga menembak mati seorang pensiunan hakim county di sebuah rumah di Wisconsin, memiliki daftar target termasuk Gretchen Whitmer dan Pemimpin Minoritas Senat Mitch McConnell. (Foto: AP) Banyak polisi, yang berpatroli di kawasan yang terkenal dengan kehidupan malamnya itu, sudah berada di lokasi ketika rentetan tembakan awal terdengar. Keberadaan polisi itu disebut Pace sebagai protokol “standar” di kawasan yang ramai pada malam-malam akhir pekan selama musim panas. Salah seorang polisi lantas menembak salah satu pelaku, yang menjatuhkan pistolnya dan melarikan diri, meski belum jelas apakah pelaku sendiri tertembak, kata Pace. Media setempat melaporkan belum ada satu orang pun yang ditangkap dan hingga Minggu (5/6) pagi jalan-jalan tempat terjadinya penembakan masih ditutup. Pace mengatakan polisi menemukan dua pistol semi-otomatis di lokasi, salah satunya dengan magasin yang diperpanjang. Ia menambahkan polisi juga akan memeriksa rekaman kamera pengawas dari toko-toko yang tutup pada Sabtu malam. Pace mengatakan bahwa penyelidikan itu masih “cair,” karena masih “banyak pertanyaan yang belum terjawab.” AS telah diguncang serangkaian penembakan massal besar dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di sebuah sekolah dasar di Uvalde, Texas, sebuah gereja di California, sebuah pasar swalayan di New York dan sebuah rumah sakit di Oklahoma. Secara keseluruhan puluhan orang tewas dalam beberapa insiden itu. Menurut Arsip Kekerasan Bersenjata, yang melacak insiden penembakan di seanteri negeri, hingga berita ini diturunkan, kekerasan bersenjata di AS pada tahun 2022 ini telah menewaskan 18.564 orang. Hampir 10.300 di antaranya akibat bunuh diri. Sejak pembantaian di Uvalde, Texas pada 24 Mei, terdapat setidaknya 26 kasus penembakan massal baru di Amerika, menurut data yang sama. (VOAIndonesia/Red)





























