Inilah Umrah 'Backpaker' yang Bisa Menekan Biaya

Pelaksanaan ibadah umrah ke Tanah Suci tampaknya menjadi salah satu impian bagi setiap umat muslim. Oleh karena itulah tidak semua orang yang berkesempatan untuk menunaikannya, bisa jadi terhalang waktu, dana ataupun kesehatan. Walaupun biaya umrah pun juga terbilang tak kecil, namun umrah backpacker yang menawarkan perjalanan umrah dengan biaya lebih efisien yakni jamaah umrah bisa mewujudkan perjalanan umrah secara mandiri pergi ke Tanah Suci Mekkah dengan biaya yang relatif murah dibandingkan dengan umrah reguler yaitu mulai dari memesan tiket pesawat, visa, durasi tinggal di (Makkah dan Madinah), hotel, dan rutenya. "Dalam umrah backpaker, jamaah bisa mengerjakan umrah meski tanpa pembimbing, jika mengetahui tata cara umroh dari awal sampai akhir," ungkap Humas Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto Ir H Alief Einstein M.Hum, sembari menambahkan. Ia menjelaskan, salah satu Jamaah Masjid Agung Baitussalam Rif'an Ali Hafidz,A.Ma.B.Ar. mengaku memilih Umrah Backpacker, yaitu pihak travel hanya menyediakan tiket pesawat dan visa saja, selain itu seperti hotel, guide dan makan harus cari sendiri sesampainya di Mekah. Berikut pengalaman menunaikan Ibadah "Umrah Backpaker" yang dapat menekan biaya yang dilakukan oleh Rif'an Ali Hafidz, Mahasiswa S1 Khartoum Internasional Institute for Arabic Language Sudan. Cerita diawali ketika Rif'an memutuskan untuk tidak lagi menjalani ibadah puasa Bulan Ramadan di Sudan untuk kelima kalinya di tahun 2022 ini. Ya, bagi Rif'an pribadi, ini adalah tahun kelima Rif'an menetap tinggal di Negeri Dua Nil sejak kedatangan Rif'an yang pertama di Sudan pada akhir Bulan November 2017, itu artinya sudah empat Ramadan dan lebaran Rif'an jalani di Sudan. Pilihan Rif'an untuk pergi melakukan perjalanan di luar dari kebiasaan di Sudan pada Bulan Ramadan empat tahun ini semata-mata karena ingin mencari pengalaman baru. Ketika itu dibimbangkan dengan 2 objek tujuan perjalanan yang ingin Rif'an lakukan selama Bulan Ramadan, apakah Arab Saudi atau Mesir. Arab Saudi untuk melaksakan ibadah umroh atau Mesir untuk wisata unik dan sejarah yang ingin juga Rif'an kunjungi, terlebih banyak kawan Rif'an yang juga melanjutkan studi disana, inginnya Rif'an, jalan-jalan dapat, reunian dengan teman juga dapat, he he he. Namun saat itu, hati condong untuk pergi ke Mesir. Perjalanan ke Jedah Singkat cerita, setelah Rif'an berdiskusi dengan orangtua lalu melakukan riset dari berbagai sumber tentang apa saja kebutuhan untuk bisa sampai ke Mesir, ternyata Rif'an putuskan untuk memilih Arab Saudi sebagai tujuan. Di samping proses dan kebutuhannya yang lebih cepat dan mudah......, ya walaupun memang sedikit lebih mahal, tapi sangat sebanding dengan apa yang akan Rif'an dapatkan di sana. Bayangkan, Anda bisa beribadah sekaligus berkunjung ke Mekkah dan Madinah. Bukankah itu adalah impian seluruh kaum muslimin di dunia?. Kala itu tepatnya di Bulan Maret 2022, broadcast iklan tentang biro paket perjalanan umroh bulan Ramadan bertebaran melalui Whatsapp Grup warga Indonesia di Sudan, ada yang memasang tarif 900 dolar (fasilitas visa umroh 30 hari, penginapan 3 hari Mekkah 3 hari Madinah, makan 6 hari), 560 dollar (fasilitas hampir serupa dengan yang sebelumnya, namun tanpa tiket pesawat) dan ada pula yang memasang tarif 700 dollar (fasilitas tanpa penginapan dan catering). Tentunya, jiwa kemahasiswaan Rif'an condong memilih yang lebih murah dengan fasilitas yang mumpuni. Bukan 560 dollar, tapi 700 dollar (Rp10.500.000). karena kalau dihitung-hitung untuk mendapatkan tiket pewasat pulang pergi Khartoum-Jeddah, membutuhkan biaya kira-kira 350 dollar. Apalagi memang tujuan Rif'an pergi itu untuk "membolang", pastinya mengusahakan untuk mengeluarkan biaya yang seminim mungkin, atau kata orang Backpaker-an lah. Namun, pada akhirnya Rif'an malah mendapatkan biaya sebesar 850 dollar (Rp12.500.000) dari biaya awal yang tertera 700 dollar itu. Katanya karena ketika mendaftar saya sudah dekat dengan Bulan Ramadan maka biaya juga semakin naik. Segala macam berkas Rif'an siapkan, mulai dari paspor, surat pernyataan perjalanan, surat kuning perjalanan, dan kepengurusan visa kembali ke Sudan, yang kira-kira jika Rif'an estimasikan sekitar Rp300.000. Hal itu Rif'an lakukan sebagai syarat kepengurusan perjalanan. Bergabunglah 8 orang lainnya dalam perjalanan Rif'an, tentunya mereka semua juga berstatus sebagai pelajar Indonesia yang ada di Sudan. Tiket pesawat pulang-pergi sudah siap. Visa Umroh sudah siap. Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, kami dipusingkan dengan persoalan PCR dan Vaksin sebagai syarat perjalanan. Bukan karena adanya persyaratan dari pihak bandara, melainkan karena semata-mata pertanyaan dari kami sendiri sebagai tanda waspada, melihat bagaimana kenyataan di luar yang telah banyak berubah disebabkan efek domino dari pandemi Covid-19 yang melanda. Apalagi melihat biaya untuk PCR dan Vaksin di Sudan yang memang lumayan tinggi untuk kami lakukan. Demi menjawab kegelisahan tentang hal tersebut, Rif'an dan teman Rif'an memutuskan untuk pergi langsung menuju kantor maskapai penerbangan Saudi Airlines di Jalan Ebid Khatim di samping Restauran Luxury untuk menanyakan secara langsung perihal PCR dan Vaksin sebagai persyaratan dalam penerbangan. Di samping itu, Rif'an juga berkepentingan untuk mencetak tiket perjalanan. Setelah Rif'an menanyakan ke pihak karyawan maskapai, ternyata Arab Saudi sekarang sudah tidak mensyaratkan PCR dan Vaksin dalam perjalanannya. Dalam artian, Arab Saudi sudah secara bertahap kembali menuju normal. Hal itu melegakan Rif'an. Tiket pesawat tercetak pada hari Selasa, 12 April 2022 pukul 04.15 CAT. Rif'an dan rombongan berangkat dari pos berkumpul di depan Restoran Syekh Mindi pukul 01.00 CAT dini hari, dengan menggunakan mobil Hiace kami berangkat menuju Bandara Khartoum. Sesampainya di sana terlihat bandara cukup renggang, tidak terlalu ramai. Tidak banyak orang yang menggunakan masker, penerapan protokol kesehatan karena pandemi memang sudah lama dikendorkan oleh pemerintahan Sudan. Tapi untuk berjaga-jaga, Rif'an selalu sedia membawa masker. Kami langsung masuk dan melakukan cek in untuk mendapatkan tiket. Passpor, kertas cetakan visa umroh, dan kartu kuning perjalanan Rif'an lampirkan. Tidak ada muatan bagasi yang Rif'an masukkan, semuanya di kabin, ya, karena Rif'an berfikir untuk tidak terlalu membawa banyak barang ketika melakukan perjalanan. Setelah mendapatkan tiket, Rif'an kembali keluar. Menemui beberapa rombongan yang sudah mendahului. Kami menunggu disana hingga pukul 03.30 untuk menyantap hidangan sahur yang sudah disiapkan sebelumnya. Sesuai itu, kami masuk untuk menganteri melalui beberapa pemeriksaan, sama seperti bandara pada umumnya yang setidaknya ada 3 pemeriksaan yang dilakukan sebelum akhirnya kami masuk ke bus yang mengantarkan kami ke pesawat yang akan Rif'an naiki menuju Jeddah, Arab Saudi. Pukul 04.30 CAT kami terbang. Sepanjang perjalanan awal hanya awan gelap menyelimuti. Rif'an putuskan untuk tidur saja selama perjalanan udara. Dua (2) jam perjalanan kira-kira kami tempuh. Sebuah perjalanan yang singkat mengingat Sudan dan Arab Saudi hanya dipisahkan oleh Laut Merah saja. Pukul 07.00 WAS kami mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Di hadapan kami terbentang pemandangan megah dan mewah. Kami keluar dari pesawat lalu berjalan menggunakan semacam terowongan penghubung untuk masuk ke dalam bandara. Berbagai kerajinan dan hiasan unik memanjakan mata tersaji dalam perjalanan menuju gate selanjutnya. Berbagai pemeriksaan kami jalani. Mulai dari pemeriksaan visa masuk, barang bawaan, kelengkapan berkas perjalanan, dan berbagai hal yang memang biasa dilakukan sedang mengantri pengecekan surat menyurat. Terlihat bilik-bilik kosong berjajar rapi dan bersih sepanjang dinding bandara bagian pengecekan berkas. Tertulis pada masing-masing biliknya “PCR”, Rif'an pikir dahulu bilik-bilik itu pasti digunakan untuk melakukan PCR para penumpang bandara. Namun sekarang nampak kosong dan tak ada aktifitas di sana. Arab Saudi benar-benar menuju fase normalnya kembali. Seusai menjalani pemeriksaan, kami diarahkan menuju stasiun kereta bawah tanah. Hal serupa yang dulu pernah Rif'an dapatkan ketika berada di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Kereta datang, sangat halus dan tanpa suara. Semuanya rapi, bersih dan tertata. Kami masuk menuju salah satu gerbongnya. Semua sisinya terdapat jendela. Namun jendela pada sisi moncong depan dan belakang kereta ukurannya lebih besar. Saat kereta bergerak, Rif'an merasakan seolah sedang berada di wahana taman bermain dengan kereta sebagai objek permainannya, sangat menyenangkan. Perjalanan ke Madinah Sesampainya di tempat tujuan, kami keluar. Kemudian kami langsung berjalan menuju gate 9 untuk menunggu pesawat yang akan membawa kami menuju Kota Madinah. Selama kami menunggu, kami memanfaatkan fasilitas wifi gratis bandara. Cukup mudah untuk mengaksesnya, namun susah untuk bisa masuknya. He he he kalian tinggal masuk ke jaringan wifi gratis bandara, lalu masuk ke websitenya, masukkan nomor telpon Anda, jangan lupa dengan menggunakan kode internasionalnya ya, kemudian tunggu pesan konfirmasi dari penyedia jaringan. Setelah itu masukkan angka yang ada dalam pesan itu, tunggu beberapa saat hingga jaringan bisa kalian nikmati. Namun sepertinya jaringan gratis ini terbatas penggunaannya. Karena tiba-tiba jaringan yang saya gunakan hilang. Saya coba lagi namun sama saja. Tidak bisa terhubung lagi. Jadi, buat teman-teman gunakan wifi jaringan gratis dengan bijak ya. Setelah kami menunggu selama kurang lebih 6 jam, jadwal penerbangan menuju Madinah akhirnya datang juga. Satu jam perjalanan udara kami lewati, alhamdulillah kita bisa sampai ke Kota Nabi dengan selamat. Melihat tulisan selamat datang di Kota Madinah membuat Rif'an sangat senang. Tak percaya kalau Rif'an sekarang sudah menginjakan kaki di kota Rasul, kota impian Rif'an sejak kecil. Kami berjalan keluar bandara. Seketika segerombolan orang menawari kendaraanya masing-masing untuk disewakan. Kami tahu bahwa kami masih baru di sini, tapi kami harus tetap tenang dan jangan panik. Bisa-bisa harga asli untuk menuju ke tujuan kami adalah 100 real malah jadi 300 real kan repot, he he he. Setelah memilah dan memilih kendaraan dan harga yang cocok. Kami berangkat menuju Universitas Islam Madinah (UIM). Biaya yang kami keluarkan untuk menyewa kendaraan Hiace ini sebesar 100 real (Rp400.000). Sesampainya di kampus UIM. Rif'an langsung menghubungi sahabat karib Rif'an dulu ketika di Indonesia. Berhubung Rif'an belum mempunyai paket internet di Saudi, Rif'an menelepon dia dengan menggunakan pulsa kartu Sudan yang Rif'an bawa. Tidak bisa berlama-lama menelepon karena pulsanya keburu sudah habis duluan, he he he. Rif'an dan rombongan berpisah. Mereka pergi menuju ke tempat penginapan yang sudah disediakan sebelumnya. Sedang Rif'an dan dua teman Rif'an putuskan untuk pergi menetap di asrama sahabat Rif'an ini. Rif'an akhirnya bertemu dengan sahabat karib Rif'an. Lima tahun lamanya kami tak jumpa. Hanya mendengar dia menikah, mempunyai anak, lalu mempunyai anak lagi. Membuat hati Rif'an begetar kala itu, he he he. Rif'an di antar menuju kamar tempat tinggalnya selama menjadi mahasiswa di UIM. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, bahwa seluruh mahasiswa yang bersekolah di Arab Saudi selalu mendapatkan fasilitas terbaik dari pihak kampus. Hal itu yang kadang membuat Rif'an iri dalam artian baik. Mulai dari adanya mukafaah/gaji yang diberikan setiap bulannya, kamar yang mewah, lingkungan yang mendukung untuk belajar, wifi internet gratis, dan lain sebagainya. Belum lagi mahasiswa Arab Saudi sangat dimudahkan untuk bisa berkunjung ke Mekkah dan Madinah setiap waktunya. Bisa merasakan wifi gratis dan tempat tinggal saja sudah membuat Rif'an sangat senang, he he he. Malam harinya kami langsung diajak pergi mengunjungi Masjid Nabawi. Dengan menggunakan Bus Saptco (transportasi yang disediakan negara) kami berangkat. Biaya yang kami keluarkan untuk pulang pergi adalah 6 real (Rp12.000) untuk setiap orangnya. Setelah sekitar 10 menit perjalanan kami tiba di tempat tujuan kami turun, memang tidak langsung di pelataran Masjidnya, melainkan perlu berjalan kaki lagi sekitar 10 menit untuk bisa sampai di Masjid Nabawi. Puas berjalan-jalan mengagumi setiap sudut Masjid Nabawi, kami diajak menuju ke sebuah hotel. Ketika saya tanya apa yang akan kita lakukan di sana, katanya untuk bertemu dengan senior kami dahulu ketika masih di SMA yang sedang melaksanakan umroh. Sesampainya di hotel, kami langsung naik menggunakan tangga menuju ruang makan hotel. Lalu tiba-tiba kami diminta untuk makan terlebih dahulu di sana. Sontak Rif'an kaget. Kenapa begitu? padahal Rif'an bukan bagian dari mereka. Sahabat Rif'an bilang, tidak apa-apa, selama kalian mendapatkan izin salah seorang dari jamaah umroh, silakan kalian makan. Toh makanan yang disediakan memang sangat banyak dan selalu tersisa. Rupanya hal itu pula yang sering dilakukan oleh para mahasiswa di sini. Tanpa pikir panjang kami sambut ajakan itu dengan gembira. Semalam penuh kami saling bercerita bertukar pengalaman. Sampai akhirnya kita berpisah pada pukul 01.00 WAS. Hari-hari Rif'an selama berada di Kota Madinah Rif'an habiskan untuk berkeliling pada setiap sudut masjidnya. Mulai dari mengunjungi Raudah Nabi Muhammad, berkeliling di bawah payung khas Masjid Nabawi, shalat fardu dan tarawih di dalam masjidnya, dan pengalaman lainnya yang saya lakukan sendiri ataupun bersama teman. Oh ya, catatan buat teman-teman yang ingin melakukan perjalanan umroh ke Arab Saudi, pastikan teman-teman ketika sudah sampai langsung saja membeli kartu (HP) lokal ya, karena Rif'an merasakan betapa susahnya berjalan tanpa alat komunikasi. Bukan karena apa, melainkan karena Rif'an tentunya masih sangat asing di sini dan tidak tahu apa-apa, repot kalau Rif'an nanti hilang dan tersesat kan? he he he. Perjalanan ke Mekkah Di hari ke empat Rif'an dan rombongan putuskan pergi melanjutkan perjalanan menuju Mekkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Umroh. Setelah kami memakai kain ihram dan mendapatkan pengarahan dari para senior di kampus Universitas Islam Madinah (UIM), kami putuskan berangkat pada pukul 00.30 WAS dengan menggunakan mobil Hiace menuju Mekkah dengan biaya 480 real, atau 60 real setiap penumpangnya. Tak disangka ternyata banyak sekali peraturan ketat yang berlaku di Arab Saudi ini. Sebagai informasi, mobil yang kami sewa rupanya tidak memegang surat izin melewati Kota Mekkah. Sebagaimana yang berlaku di sini, setiap pengendara yang hendak menuju Mekkah diwajibkan membawa surat izin melewati perbatasan kota. Hal ini dilakukan demi menertibkan arus perjalanan menuju dan dari Kota Mekkah. Walhasil, diputar-putarkanlah kami di Kota Madinah. Ketika ditanyakan kenapa, kata sang supir ingin meminjam surat izin melewati batas Kota Mekkah milik temannya, namun sampai 30 menit menunggu dia belum juga memperolehnya. Kami gusar, perjalanan yang kami perkirakan akan sampai sebelum subuh tiba rupanya akan semolor ini. Beruntungnya di samping Rif'an ada salah seorang penumpang juga senior mahasiswa UIM. Beliau menekan sang supir untuk lekas membawa kami ke Kota Mekkah. Setelah ada sedikit perdebatan dengan sang supir, dipindahkanlah kami ke kendaraan lain dengan biaya tambahan 20 real, jadi kami berdelapan membayar 500 real kepada supir yang baru ini. Sepanjang perjalanan Rif'an tertidur dan baru terbangun ketika ada pengecekan Tasrih Tawakalna (semacam aplikasi peduli lindungi) di perbatasan antar kota. Sebagai informasi, setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah Umroh, diwajibkan untuk mendaftarkan dirinya di aplikasi tersebut. Di dalamnya terdapat informasi mengenai jadwal padat atau tidaknya aktivitas umroh dan masuk Raudoh pada waktu-waktu tertentu. Tapi sesuai dengan apa yang saya dengar dari senior di Arab Saudi bahwa persyaratan ini sudah mulai diabaikan oleh petugas. Terbukti ketika kami melewati pengecekan di perbatasan tidak ada permintaan petugas untuk pendaftaran itu. Walhasil kami melewati perbatasan itu dengan mudah. Setelah 20 menit perjalanan dari Madinah atau 11 kilometer darinya kami berhenti di Masjid Biir Ali, Dzulkhulaifah untuk menunaikan shalat sunnah 2 rakaat dan mengambil miqot niat umroh. Kemudian, Rif'an dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kota Mekkah yang berjarak sekitar 450 kilometer dari Masjid Bir Ali. Kami sempat singgah untuk menyantap sahur dan menunaikan shalat subuh. Sebelum sampai akhirnya kami tiba di Terminal Kudi bawah Masjidil Haram pada pukul 07.00 WAS. Pemandangan luar biasa dan tak terbayangankan sebelumnya terbentang di depan mata. Zam-zam Tower yang menjulang tinggi dan Masjidil Haram yang sangat megah membuat Rif'an takjub tak ada habisnya. Inilah pemandangan yang selalu Rif'an lihat di youtube dan televisi selama ini. Perjalanan yang selalu Rif'an impikan dan panjatkan pada setiap do'a akhirnya Allah kabulkan, Alhamdulillah. Semua barang bawaan yang kami bawa kami tinggalkan di tempat penitipan barang sebelah WC 3 Masjidil Haram. Kami masuk ke dalam masjid dan berjumpa dengan Kabah untuk menunaikan thawaf salah satu rukun ibadah Umrah. Melihat Kabah dari dekat dengan ribuan orang di dalamnya ah rasanya tak bisa Rif'an tuliskan di sini. Semuanya bercampur. Setelah selesai menunaikan thawaf 7 putaran, Rif'an shalat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim, lumayan agak susah memang untuk mencari tempat shalatnya, karena ribuan manusia bersliweran kesana dan kemari. Kemudian Rif'an lanjutkan menunaikan Sai antara Sofa dan Marwa sebanyak 7 kali. Setelah usai Rif'an memotong rambut untuk menyempurnakan ibadah Umrah. Alhamdulillah, semua rangkain tadi Rif'an tunaikan kurang lebih 3 jam. Sekarang Rif'an dan rombongan tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Misfalah bagian Selatan Masjidil Haram. Dengan merogoh kantong 1.000 real untuk 2 kamar dan 1 kamar mandi selama 20 hari nampaknya sangat murah jika kita bandingkan dengan tempat peninapan lainnya. Terlebih Rif'an tinggal dengan rombongan berdelapan, jadilah setiap orang membayar sekitar 125 real (Rp500.000). Rif'an sempat pergi ke Jeddah untuk menemui teman Rif'an dengan menggunakan Taxi dengan biaya 35 real. Lalu Rif'an dan rombongan sempat pula pergi mengunjugi Jabal Nur dengan biaya 10 real setiap orangnya. Ya karena dari awal kami sudah memutuskan “Backpaker-an” untuk perjalanan ini. Jadi kami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran untuk bisa berpergian kesana-kemari. Kalau kata salah seorang teman Rif'an, “di sini kalau enggak mahal ya gratis,” dan Rif'an setuju itu, he he he. Itulah sedikit kilas perjalanan Rif'an selama ini. Sampai hari Selasa 03 Mei 2022 Rif'an masih di Kota Makkah dan Rif'an sudah menunaikan Shalat Idul Fitri di Masjidil Haram. Untuk kemudian Rif'an dan rombongan akan bertolak menuju Kota Madinah untuk menghabiskan waktu visa tinggal kami disini yang kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sudan pada tanggal 08 Mei 2022. (Red)





























