Beberapa Catatan Strategis dari Kunjungan 4 Hari di Maluku Utara

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) Salah satu masalah strategis bangsa yang krusial sekarang, bukan pada apakah kita punya sumber daya alam (SDA) dan sumnber daya manusia. Melainkan dalam ketidakmampuan kita untuk mengasetkan sumber daya. Kita tahu punya sumber daya, tapi belum melihat apa betul itu memang aset kita sesungguhnya. Waktu bulan lalu saya 4 hari di Ternate dan Halmahera Utara, diundang GMNI Maluku Utara, sinyalemen saya makin kuat. Melalui dialog dengan para mahasiswa maupun elite setempat, mereka memandang pertambangan maupun sektor pertanian seperti kelapa/kopra, pala dan cengkeh, merupakan sesuatu yang sama. Sama-sama sumber daya alam (SDA) milik Maluku Utara. Tentu saja benar. Tapi ketika mengaitkannya dengan karakteristik geografis Maluku Utara, mana yang sesungguhnya aset daerah itu sehingga harus menjadi prioritas? Di sinilah para stakeholders Maluku Utara menurut saya tidak punya rujukan buat mengasetkan sektor mana yang layak jadi aset. Kalau melihat kesejarahannya, dengan bertumpu pada rempah-rempah seperti kopra, pala dan cengkeh, sektor pertanianlah yang harus jadi SDA yang diasetkan. Karena memberdayakan rempah-rempah pada gilirannya juga memberdayakan kearifan lokal Maluku Utara. Di era Orde Baru, yang menekankan ekonomi sebagai primadona, berakibat buruk pada jangka panjang. Yaitu berpandangan materialistik dalam melihat segala sesuatu, dan berorientasi hasil. Sehingga mengabaikan satu hal, bahwa sumber daya yang kita miliki belum tentu aset kita sesungguhnya. Seperti ilustrasi dari pengalaman saya di Maluku Utara tadi, tampak jelas bahwa masalah krusial bukan pada apa kita punya SDA, tapi SDA apa yang kita layak kita asetkan. Dalam kasus kebangkitan Cina dari keterpurukan, strategi Deng Xiaoping di akhir 70-an berbeda dengan Soeharto Strategi Deng adalah memperioritaskan 4 komponen: pertanian, industri, iptek, dan pertahanan. Tak ada ekonomi dalam komponen strategis itu. Namun keempat komponen itu diberdayakan Deng secara terintegrasi sebagai bagian integral dari strategi kebudayaan mencinakan kembali komunis. Hasilnya? Cina sekarang negara adikuasa dalam bidang ekonomi akibat dari keberhasilan Deng mengasetkan sumber daya pada masing-masing komponen tadi sebagai aset daerah maupun aset nasional. Berarti bukan saja masing-masing dari 4 komponen tadi harus menginventarisasi sumber daya apa yang punya nilai sebagai aset, tapi masing-masing daerah pun ditantang untuk menginventarisir sumber daya apa yang layak diasetkan sesuai natur dan kultur daerahnya. Dengan begitu Cina maju bukan saja ekonominya, melainkan juga secara sosial dan budaya secara serentak. Maka itu dalam kuliah umum saya di depan peserta Kaderisasi Tingkat Menengah GMNI, saya tekankan kembali pentingnya menghidupkan kembali geopolitik sebagai ilmunya ketahanan nasional. Agar kita kenal diri, tahu diri, dan tahu harga diri. Keberhasilan Cina dan India sebagai the emerging giants, bukan karena bertitik tolak dari pembangunan ekonomi. Melainkan karena mampu mengasetkan sumber dayanya yang melekat dengan kearifan lokal masing-masing daerahnya.





























