Gol Fantastis Messi, PSG Kubur Rekor Man City

Gol Fantastis Messi, PSG Kubur Rekor Man City
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, memuji gol yang dicetak mantan anak asuhnya di Barcelona, Lionel Messi, dalam malam frustrasi di Paris. City lepaskan 18 tembakan kontra PSG, percobaan terbanyak tanpa cetak gol dalam laga UCL, jumlah yang sama saat ditahan Porto 0-0 pada Desember 2020. Man City dikalahkan Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 2-0 pada laga kedua Grup A di Stadion Parc des Princess, Rabu (29/9/2021) dini hari WIB. Gol kemenangan sang tuan rumah masing-masing dicetak oleh Idrissa Gueye pada menit kedelapan dan Messi pada menit ke-74. https://twitter.com/btsportfootball/status/1442952141212041217?s=03 Gueye lewat sepakan jarak dekat memanfaatkan umpan silang mendatar Kylian Mbappe. Sementara Messi melalui penempatan bola ke sudut gawang Ederson menyelesaikan kerja sama apik dengan nama yang sama. “Performa yang bagus. Kami melakukan segalanya, tapi kami tidak bisa mencetak gol,” ucap Guardiola pasca-pertandingan. “Kami bertahan dengan baik, mereka bertahan dengan dalam dan tentu saja serangan balik selalu berbahaya dengan kualitas yang mereka miliki.” “Kami mendominasi. Sayang, kami gagal mencetak gol. Ini sepakbola. Tidak ada yang perlu dikatakan lebih dari pujian terbesar saya untuk tim ini.” “Pada babak kedua, kami memiliki banyak [peluang]. Donnarumma melakukan penyelamatan bagus.” “Sayang sekali karena kami bermain untuk menang. Sayang, mereka tidak perlu banyak peluang untuk mencetak gol, dan mereka melakukannya.” "Gol [yang dicetak Messi] sangat fantastis,” tambahnya. You can't control PSG's superstars for 90 minutes - Guardiola after City's defeat Dengan hasil ini, The Citizens sekaligus menelan kekalahan pertama di fase grup UCL sejak September 2018, ketika mereka ditekuk Lyon 2-1. Sebelum rekor mereka disetop PSG, mereka tidak terkalahkan dalam 18 laga. Adapun pada laga lain di grup yang sama, Club Brugge mampu mengalahkan tuan rumah RB Leipzig dengan skor 2-1. Di tabel klasemen sementara, PSG naik ke puncak dengan koleksi empat poin diikuti Club Brugge dengan angka sama. Sedangkan City turun ke tempat ketiga dengan tiga poin dan Leipzig tersungkur di urutan terbawah tanpa poin. Messi Masih yang Terbaik Pep Guardiola tahu bagaimana cara mengeluarkan bentuk terbaik Lionel Messi saat masih muda dan pada Rabu (29/9) dini hari WIB, tampaknya sang pemain yang telah menua bakal bisa dihentikan. Ikon Argentina itu memiliki momen brilian di babak kedua dengan mencetak gol yang membantu PSG meraih kemenangan perdana di Liga Champions. Tapi ketakutan terbesar bos Manchester City tersebut adalah sang superstar baru Paris Saint-Germain hanya membutuhkan satu momen genius untuk membuktikan kualitasnya saat kedua tim bertemu di Liga Champions. Selama 70 menit di Parc des Princes, mantan superstar Barcelona itu belum menunjukkan tanda-tanda sinarnya dalam penampilan Eropa pertamanya di kandang bersama klub barunya. City mengurungnya dengan operan-operan, saat mereka berusaha menyamakan kedudukan setelah tertinggal lewat gol Idrissa Gueye pada menit kedelapan, Messi masih terlihat belum padu dengan rekan-rekan setimnya. Kemudian ketakutan Guardiola terjadi. Messi bangkit ketika laga menyisakan 15 menit, berlari membawa bola untuk pertama kalinya dalam laga tersebut sebelum bertukar umpan dengan Kylian Mbappe dan melepaskan tendangan melengkung ke sisi atas gawang. Itu adalah momen magis, aksi menonjol dari jalannya pertandingan yang menghibur. Gol pertama pemain berusia 34 tahun itu untuk klub barunya, namun yang ke-121 di Liga Champions dan yang ke-27 dalam 35 penampilan melawan tim-tim Inggris - 15 lebih banyak dari pemain lain mana pun. Dan itu menjadi penegasan mengapa Guardiola, di berbagai waktu, menggambarkannya sebagai seorang genius dan pemain terbaik sepanjang masa. Bersama-sama, Guardiola dan Messi memenangkan 14 trofi dalam empat musim di Camp Nou, termasuk dua Liga Champions - sesuatu yang belum pernah lagi diraih Guardiola sejak saat itu. Memang sudah menjadi argumen umum bahwa pelatih Catalunya itu tidak bisa berjaya di Eropa tanpa Messi. Harapan Messi untuk memenangkan trofi untuk kelima kalinya semakin memudar belakangan di Barcelona, dengan raksasa Spanyol itu berturut-turut mengalami kekalahan memalukan dari PSG, Bayern Munich, Liverpool dan AS Roma dalam beberapa musim terakhir. Kepindahan ke ibu kota Prancis diyakini bisa memperbesar peluangnya untuk kembali menjadi raja Eropa, bermain dalam skema trio penyerang yang hebat bersama Mbappe dan Neymar dan di klub di mana Liga Champions target utama mereka. Komitmennya juga terlihat jelas di laga tersebut, Messi mau rebahan dalam formasi pagar hidup PSG di masa injury time guna mencegah tendangan bebas City yang dieksekusi oleh Riyad Mahrez. Frustrasi dari sudut pandang City adalah mereka tidak dapat menghentikan Messi di saat ada wacana yang menyebutkan ketiga penyerang hebat Paris masih belum menemukan kekompakan. Lionel Messi Paris Saint-Germain PSG 2021-22 Memang, City masih bisa berdalih bahwa kekalahan ini tidak serta merta menutup kans mereka lolos dari Grup A, meski sekarang posisi mereka turun ke peringkat ketiga menjelang dua laga krusial versus runner-up grup, Club Brugge. Bagaimana pun, ini adalah kekalahan pertama City di fase grup dalam tiga tahun, dan yang pertama di laga tandang dalam empat tahun. Dan pekan ini jelas terasa berat bagi mereka karena sesudah menghadapi Chelsea dan PSG, The Cityzens bakal bertemu Liverpool di Liga Primer Inggris. Tentu Pep harus memutar otak guna menemukan momen kebangkitan timnya. Sebenarnya City punya kans untuk pulang dari Paris dengan hasil berbeda, tapi apa daya mereka tidak bisa memaksimalkan semua kans yang didapat saat mendominasi permainan atas pasukan Mauricio Pochettino. Setidaknya ada dua yang mengenai mistar gawang. Pertama, sundulan Raheem Sterling yang ditepis sedikit oleh Gianlugi Donnarumma hingga mengenai mistar, lalu disusul oleh sambaran Bernardo Silva yang tidak maksimal. Jelas terbukti, bahwa cukup satu momen magis yang ditunjukkan Messi menghancurkan harapan City untuk bisa meraup satu poin, dan PSG-lah yang membuat Parc des Princes percaya bahwa mereka telah menemukan bagian yang hilang untuk mengakhiri penantian mereka meraih kesuksesan di Liga Champions. (Goal.com/Red)