Ronaldo: "Saya Akan Jadi yang Terbaik di Dunia!"

Kembali ke 2005, tidak banyak orang yang akan meramalkan bahwa 16 tahun kemudian Cristiano Ronaldo bakal jadi pencetak gol terbesar dalam sejarah sepakbola internasional pria. Sang megabintang telah mencetak golnya yang ke-111 dalam seragam internasional, melampaui setiap pemain dan masih banyak yang akan hadir. Satu-satunya yang mungkin tahu adalah Ronaldo sendiri. Kala itu, Ronaldo muda telah berada di Manchester United selama dua musim. Selama periode pertamanya yang sarat trofi, hingga menghabiskan musim panas di Amerika Serikat saat dalam pemulihan cedera pergelangan kaki.Saat berada di sana, dia bertemu dengan mantan bek kanan Liverpool dan Everton, Abel Xavier, dan menjelaskan keinginannya kepada mantan rekan setimnya di timnas Portugal itu. “Saya pergi ke sebuah hotel dan berbicara dengannya dan dia melihat saya kemudian berkata: 'Abel, saya akan menjadi pemain terbaik di dunia'. Itu pada 2005!” ucap Xavier kepada Goal. "Cara dia mengungkapkan itu. Cara dia mengatakannya, terutama ketika dia cedera, menunjukkan mentalitasnya saat itu. Beberapa pemain mungkin sedikit kecil hati ketika mereka cedera, tapi dia menyatakan bahwa dia bertekad untuk melakukannya, menjadi yang terbaik,” tambahnya. Ronaldo sama sekali tidak salah. Keinginan untuk menjadi yang terbaik terbesit jauh sebelum 2005, tapi cedera yang dialaminya justru semakin memperkuat keinginannya untuk menggapai tujuan tersebut. Kembali ke masa remajanya di Sporting Lisbon, dia diberi julukan ’Bihun’ oleh rekan setimnya lantaran kondisi fisik yang kurus. Tidak senang dengan label tersebut, ia mulai berlatih sesi angkat berat untuk membangun otot. Ronaldo meneruskan ide yang sama ketika ia meneken kontrak dengan Manchester United untuk kali pertama pada 2003. Bekerja sama dengan Mick Clegg, mantan pelatih fisik di Man United, Ronaldo meminta bantuan untuk menjadi yang terbaik. Ronaldo berlatih dengan beban di pergelangan kaki untuk meningkatkan permainannya. Ia berlatih sendirian di lapangan di belakang bukit untuk menyempurnakan triknya tanpa tekanan untuk dinilai jika salah. Itu adalah sesuatu yang bakal identik dengannya. “Suatu hari, saya berada di Madrid menonton pertandingan Liga Champions. Kalau tidak salah itu adalah laga Real Madrid melawan Bayern Munich. Mereka melepaskan tembakan ke arah kiper dan, dalam 20 tembakan, dia [Ronaldo] cuma sekali gagal,” tutur mantan pemain timnas Portugal, Costinha, kepada Goal tentang aksi CR7 dalam sesi latihan bersama juara lima kali Liga Champions tersebut. “Sebagian besar pemain lain melewatkan enam atau sepuluh percobaan. Ketika dia gagal, semua orang mulai mengejeknya dan dia menjadi sangat kesal. Saya seperti: ‘Wow! Dia hanya melewatkan satu dari 20 percobaan’.” “Dia kemudian mengambil sekantong bola dan dia menembak sendirian ke gawang. Baginya, dia harus menembak semua 20 dengan baik. Berapa banyak pemain yang bisa melakukan itu? Dia tidak senang karena satu di antaranya meleset. Itu menunjukkan karakternya dan dia tidak membiarkan dirinya kehilangan satu kesempatan pun. Ini sangat penting.” “Beberapa orang melihat dia suka kesal di lapangan karena umpannya tidak bagus atau dia melakukan tembakan yang buruk, mereka salah paham. Karakternya memang seperti itu. Saya bahkan bertanya kepada [Jose] Mourinho setelah latihan: 'Apa yang terjadi dengan Cristiano? ' Dia berkata: 'Tinggalkan dia, dia akan siap’.” Api dalam diri Ronaldo untuk terus berkembang adalah sesuatu yang selalu dia miliki dan jauh melampaui sepakbola. Ketika rekan senegaranya Nani bergabung dengan Manchester United pada 2007 dia dan Anderson main bareng CR7. Winger Orlando City itu mengenang kegirangan yang dimiliki ketiganya di rumah Ronaldo di Cheshire kala mereka menetap di Inggris. "Ini luar biasa bagi kami, tiga pemain muda yang suka bersaing setiap hari dan kami memiliki segalanya untuk dinikmati," kata Nani kepada Goal. "Kami memiliki lapangan tenis, pingpong, kolam renang, kami memiliki segalanya. Jadi kami bersaing dengan segalanya bahkan di rumah dan itu membuat kami lebih baik setiap hari. Itu sempurna.” "Kami bahkan akan bersaing untuk siapa yang benar dalam situasi tertentu. Seseorang akan mengatakan sesuatu dan kami akan memperdebatkan apa yang benar dan siapa yang benar." Jelas, setiap kali Anda berbicara dengan siapapun yang pernah beririsan dengan pemain berusia 36 tahun itu, mentalitasnya lah yang membawanya ke tempat dia sekarang. “Kekuatan mental dan profesionalisme adalah yang membedakannya dari orang lain,” mantan rekan setimnya di Portugal, Nuno Gomes mengatakan kepada Goal. “Ketika Anda kembali ke masa lalunya, Anda berbicara tentang pemain yang kuat serta fokus secara mental dan sulit untuk mengubahnya.” “Dia terbantu dengan bermain untuk tim dominan dan klub dominan dengan pelatih bagus, lingkungan bagus. Tapi bagi saya, yang terpenting adalah pendekatan mental.” “Saya pikir kisahnya lebih dari karakteristik, bakat, atau kemampuan. Saya pikir itu adalah bagian besar dari kebesaran Ronaldo.” Sesi latihan ekstra, hasrat, dedikasi pada keahliannya, diet, teknik, dan lebih dari segalanya, tekad, mengubahnya menjadi binatang buas yang telah mendominasi di puncak sepakbola dunia selama satu setengah dekade. Keinginan untuk menang dan menjadi lebih baik dari orang lain tertanam padanya sejak belia. Nani ingat berada di kamp latih timnas kelompok umur Portugal yang sama dengan Ronaldo dan nama terakhir menangis di sisi lapangan karena tidak diberikan tendangan bebas pasca-dilanggar. “Dia berbeda dengan pemain muda lainnya yang pernah kami lihat sebelumnya datang ke timnas,” ujar Nani. “Dia selalu membuat kami terkesan dengan kemampuannya, keinginannya untuk menjadi lebih baik setiap hari, keinginan untuk berkembang dan belajar.” “Dia selalu menjadi pemain yang ingin belajar lebih banyak. Ketika dia pertama kali bergabung dengan tim, dia selalu suka berbicara dan mendengarkan yang lebih tua. Kami sering tetap di kamp setelah latihan, berlatih menendang bersama.” Dengan begitu, Ronaldo memulai usahanya untuk menjadi yang terbaik dengan gol internasional pertamanya kala melawan Yunani pada Euro 2004. Sundulan pada menit ke-93 meneruskan assist Luis Figo yang merupakan awal dari upaya untuk akhirnya melampaui rekor legenda Iran, Ali Daei, di puncak daftar pencetak gol internasional sepakbola putra. Apes, turnamen tersebut berakhir pahit bagi Ronaldo remaja. Portugal kalah di rumah sendiri dari Yunani pada partai final. Ia menyudahi debutnya pada ajang empat tahunan itu dengan dua gol. Sejak itu, rekan satu timnya mulai benar-benar memperhatikan bahwa dia adalah sesuatu yang istimewa. “Mungkin selama Euro 2004 kami mulai menyadari bahwa dia akan menjadi salah satu yang terbaik di dunia,” kata Gomes. “Dia masih merupakan pemain yang ambisius. Cara dia bekerja dan bermain, jelas bahwa dia akan menjadi pemain top. Saya dapat mengatakan bahwa seseorang yang istimewa ada di sana dan bahwa dia bakal bikin sejarah.” Semakin jauh dalam kariernya, semakin banyak gelar yang diilhami, dan semakin banyak rekor individu yang ia pecahkan, dan mulai menjadi jelas bahwa itu tinggal menunggu waktu untuk namanya masuk ke dalam buku-buku sejarah. Ada gelar Liga Champions bersama Man United dan Madrid. Ada gelar liga di Inggris, Spanyol, dan Italia bersama Juventus. Ada beragam gol internasional, termasuk hat-trick yang menggemparkan pada babak play-off jelang Piala Dunia 2014 kontra Swedia yang dikapteni Zlatan Ibrahimovic. Itu juga yang membantu Ronaldo menyabet salah satu dari lima Ballons d'Or-nya. Di atas semua itu, Ronaldo sukses antar Portugal meraih gelar senior untuk kali pertama dalam sejarah. Ia jadi bagian integral dalam kemenangan pada Euro 2016 dengan sumbangan tiga gol dalam perjalanan ke final, dan tiga lainnya pada final UEFA Nations League 2019 di Porto. Ronaldo sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Liga Champions dengan 134 gol dan final kompetisi tersebut dengan 14 gol. Namun ketika semua penghargaan pribadi telah berada dalam genggamannya, dia tetap menunjukkan komitmennya sebelum laga pembuka Portugal melawan Hungaria di Grup F, Euro lalu. “Saya tidak kewalahan, ini rekor yang bagus tapi lebih penting dari ini adalah untuk menjuarai Euro lagi,” ucap Ronaldo. Euro gagal dimenangkan beruntun, tapi dia mampu menyamai rekor dunia Daei. Pertanyaannya sekarang, setelah gol bersejarahnya melawan Republik Irlandia, Rabu lalu yang membuat koleksinya menjadi 111 gol berbalut jersey Portugal, adalah berapa banyak gol yang akan dia lewati? Santos confirms suspended Ronaldo won't travel to Azerbaijan “Ketika Anda melihat fisiknya, itu tidak sesuai dengan usianya,” kata Xavier. “Ketika Anda melihat penampilannya, dia masih segar dan muda. Untuk alasan itu mungkin dia akan terus bermain untuk waktu yang lama.” Pasca-laga tersebut, Ronaldo pun menegaskan bahwa ia masih mampu main hingga lima tahun ke depan. Maka menjadi sangat mungkin, kita masih akan menyaksikan aksi CR7 hingga usianya 40-an. (Goal.com/Red)





























