Apa yang Terjadi Jika Seluruh Data Digital Kita Hilang?

Selama bertahun-tahun, kita didorong untuk menyimpan data secara daring. Tapi kini, semakin jelas bahwa data-data itu tak akan bertahan selamanya - dan sekarang perlombaan dimulai untuk menghentikan kenangan-kenangan kita dihapuskan. Bagaimana usaha Anda untuk mempertahankan berbagai data digital milik Anda - berbagai surel, pesan pendek, foto, dan dokumen - jika Anda tahu semua data ini akan segera terhapus dalam sebuah badai listrik? Seperti itulah bencana di masa depan yang dibayangkan oleh Susan Donovan, seorang guru dan penulis fiksi ilmiah yang tinggal di New York. Dalam karya yang diterbitkannya sendiri, New York Hypogeographies, dia menggambarkan sejumlah besar data umat manusia terhapus karena gangguan listrik pada 2250. Pada tahun-tahun setelahnya, para arkeolog menyisir reruntuhan apartemen-apartemen kota yang rusak untuk mencari artefak dari masa lalu — era awal 2000-an. "Ini membuat saya berpikir, 'Bagaimana ini mengubah perilaku orang, bila semua data digital Anda terancam musnah selamanya?'" kata dia. Dalam cerita fiksi buatannya, bencana hilangnya data ini bukanlah peristiwa yang mengakhiri dunia. Tapi ini adalah jelas sangat mengganggu. Dan ini bisa mendorong perubahan dalam cara orang menyimpan data-data yang penting. Badai listrik ini, dalam kisah Donovan, membawa kebangkitan kembali kebiasaan mencetak. Namun ini juga membuat orang juga bertanya-tanya, bagaimana kita menyimpan barang-barang yang tidak dapat dicetak, seperti gim augmented reality (AR), misalnya. Data tidak pernah sepenuhnya aman dari pemusnahan. Kebakaran Perpustakaan Agung Alexandria, misalnya. Kerusakan dan kehilangan data yang berharga dari kejadian ini menjadi sebuah kerugian yang sangat besar. Data digital memang tidak akan hilang karena kebakaran, tapi kemungkinan dengan sebuah klik atau degradasi media penyimpanan dari waktu ke waktu. Saat ini, kita mungkin telah terbiasa dengan penghapusan data semacam itu. Ada banyak contohnya, seperti profil-profil yang menghilang dari MySpace pada 2019. Atau berbagai layanan Google yang ditutup selama beberapa tahun belakangan. Lalu ada pula perusahaan penyimpanan data daring yang menawarkan untuk menjaga keamanan data pelanggan. Ironisnya, terkadang mereka justru menutup layanan - seperti Briefcase milik Yahoo. Media sosial menawarkan banyak manfaat, tetapi juga mengandung bahaya kebocoran data pribadi. Dalam kasus lain, layanan-layanan ini bisa jadi tetap ada untuk waktu yang lama. Tapi para pengguna kehilangan detail login mereka. Bisa jadi mereka lupa kata sandi, bahkan sama sekali lupa pernah punya akun di layanan tersebut. Jika sudah begitu, mereka mungkin tidak akan pernah menemukan data yang sebelumnya tersimpan di sana, seperti mereka tidak mungkin menemukan surat-surat lama yang disimpan di loteng. Ketertarikan Donovan pada kefanaan data digital berasal dari pengalaman pribadinya. Dia belajar matematika di universitas dan memiliki salinan catatan tulisan tangannya. "Lalu ada titik di mana saya mulai membuat catatan secara digital, kemudian tidak bisa menemukannya," ujarnya sambil tertawa. Donovan juga memiliki buku harian daring yang mulai diisinya di akhir 1990-an. Seluruhnya telah hilang sekarang. Di masa lalu, dia juga mengerjakan berbagai proyek kreatif secara daring yang kini telah hilang entah ke mana. Saat dia membuatnya, Donovan mengira proyek ini akan tersimpan selamanya. Seperti film yang bisa diputar sampai kapan pun, ujarnya. Tapi kini, pengertiannya tentang data digital, dan berapa lama data itu bisa bertahan, telah berubah. "Sama seperti ketika saya memproduksi sebuah drama, dan Anda bisa menontonnya, lalu Anda hanya bisa mengingatnya dalam kenangan," ujarnya. Berkat keabadian prasasti batu, buku-buku kuno, dan pesan yang diukir di dinding-dinding gua oleh nenek moyang kita, ada bias dalam budaya kita yang menganggap kata-kata yang ditulis akan bertahan lama. Kita sering mengutip pernyataan yang dibuat berabad-abad lalu karena seseorang pernah menulisnya — dan menyimpan salinannya dengan aman. Tapi dalam bentuk digital, kata-kata yang ditulis tidak lebih dari sekadar proyeksi cahaya ke layar. Begitu lampu padam, mungkin kata-kata itu tidak akan kembali lagi. Namun, ada pula data daring yang bertahan sangat lama. Ada beberapa situs yang sudah berumur lebih dari 30 tahun. Dan kita pun menemukan data-data berceceran ketika kita tidak menginginkannya. Oleh karena itu muncullah "hak untuk dilupakan". Seperti yang dikatakan oleh penulis teknologi BBC, Simon Pitt, "Kenyataannya, hal-hal yang Anda inginkan akan hilang, sedangkan hal-hal yang tidak Anda inginkan akan ada selamanya." Seseorang yang mencoba untuk menyeimbangkan ini adalah Jason Scott. Dia menjalankan Archive Team, sekelompok orang yang bekerja untuk menyelamatkan data, terutama dari situs-situs yang ditutup. Dia telah memimpin lusinan proyek yang bertujuan untuk menemukan dan menyimpan informasi dalam waktu cepat. Meski, terkadang mereka tidak berhasil menyelamatkan semua data. Ketika Myspace tak sengaja menghapus sekitar 50 juta lagu yang pernah disimpan oleh jejaring sosial tersebut, sekelompok akademisi berhasil menyelamatkan hampir setengah juta lagu yang sebelumnya telah mereka cadangkan kepada Archive Team. "Ada sejumlah band yang hanya menggunakan MySpace untuk menyimpan lagu-lagu mereka," ujar Scott. "Seluruh perpustakaan budaya ini musnah." Kala itu, MySpace meminta maaf atas hilangnya data tersebut. "Begitu Anda menghapusnya, semuanya akan hilang sama sekali," ujar Scott, seraya menjelaskan pentingnya upaya proaktif untuk melestarikan data. Dia juga berpendapat bahwa masyarakat telah, sampai batas tertentu, seakan tak menyadari pentingnya hal ini. "Kita tidak pernah menyangka bahwa dunia daring akan menjadi sepenting ini." Jelas sudah, data digital adalah hal yang rentan. Namun bagaimana cara mencegah supaya mereka hilang? Scott berkata, seharusnya ada aturan hukum yang mewajibkan perusahaan memberi pilihan kepada pelanggan untuk mengambil kembali data mereka — misalnya, sampai lima tahun — setelah layanan mereka tutup. Selama jangka waktu itu, siapa pun yang menginginkan data mereka kembali bisa mengunduhnya, setidaknya membayar supaya data bisa disimpan ke dalam CD dan dikirimkan kepada mereka. (Red) Sumber: BBC News





























