Berziarah dan Bersilaturahmi ke Desa Tegalsari, Ponorogo

Berziarah dan Bersilaturahmi ke Desa Tegalsari, Ponorogo
Oleh: Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta Keinginan lama itu akhirnya tertunaikan: ziarah dan silaturahmi ke Desa Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. Pergi ke Kabupaten Ngawi untuk Kegiatan Kerjasama Ketahanan Pangan Jakarta memberikan kesempatan untuk mampir ke Ponorogo. Tahun 2009 menerima amanah untuk memanfaatkan dan mengurus sebuah joglo yang usianya lebih dari 300 tahun. Sejak itu berkeinginan untuk bisa menjenguk lokasi asalnya, yaitu Desa Tegalsari. Halaman selanjutnya Joglo yang diamanahkan itu adalah warisan dari keluarga ulama besar Kyai Ageng Muhammad Besari (wafat 1747M) yang merintis padepokan Gebang Tinatar sekitar tahun 1700-an. Pusat pendidikan agama ini lalu membesar dan berperan sentral di masanya. Dari keturunan Kyai Ageng Besari dan dari pondok ini lahir dan bermunculan ulama, kiai, tokoh yang luar biasa banyaknya dan besar pengaruhnya di tanah Jawa. Padepokan atau Pondok Tegalsari inilah cikal bakal konsep pondok pesantren yang kita kenal saat ini. Rencana semula, kami silaturahmi di Tegalsari sampai maghrib lalu kembali ke Madiun, menginap di sebuah hotel disana. Tapi dzuriyah, keluarga keturunan, meminta untuk bermalam di Ndalem Ageng supaya bisa ngobrol lebih panjang. Jadi, dimulai dengan ziarah ke makam Kyai Ageng Besari, lalu silaturahmi mulai maghrib, dilanjutkan dengan Tarawih di Masjid yang didirikan sekitar 1725 lalu dilanjutkan dengan ngobrol santai hingga larut malam di pendopo Ndalem Ageng. Dalam silaturahmi itu kami jelaskan bahwa joglo warisan itu terus dirawat dan digunakan kegiatan masyarakat sekitar rumah kami di Lebak Bulus. Halaman selanjutnya Keluarga juga mengundang untuk tidurnya di Ndalem Njero, di kamar yang dulu digunakan Kyai Ageng Besari. Sebuah kehormatan luar biasa, karena selama ini tidak pernah digunakan untuk tidur dan tidak ada yang diizinkan untuk tidur di kamar itu. Malam itu tidur sendirian di Ndalem Njero hingga saat sahur. Sebuah kamar besar, yang terasa teduh, tenang dan amat nyaman. Kayunya amat tua hingga ada lapisan yang membuatnya jadi terkesan keabu-abuan. Dipan asli sudah tidak digunakan, potensi rapuh akibat usia yang amat panjang. Tuntas sudah niat silaturahmi dengan dzuriyah Kyai Ageng Besari. Sebuah kehangatan silaturahmi yang luar biasa. Dan pengalaman bermalam di kamar itu adalah pengalaman yang menyenangkan, yang extra-ordinary. (Sumber: FB Anies Baswedan)