Makna Di Balik Wafatnya Para Ulama

Makna Di Balik Wafatnya Para Ulama
Ulama merupakan seseorang yang dikenal alim dan ahli dalam pengetahuan agama Islam. Mereka (para ulama) juga dikenal sebagai pembina atau pembimbing umat Islam dalam sisi keagamaan bahkan dalam sisi sosial kemasyarakatan. Kehadiran seorang ulama dirasa tepat sebagai rujukan bagi umat Islam untuk mempelajari atau bertanya seputar persoalan kehidupan, terutama yang menyangkut persoalan agama. Dalam al-Qur’an, di mana Allah SWT. berfirman bahwa, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami”. (QS. as-Sajdah [32]: 24). Kemudian dalam sebuah hadits juga diriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda, “Senantiasa akan ada sekelompok dari umatku yang selalu menang memperjuangkan kebenaran sampai hari kiamat.” Akhiri-akhir ini banyak ulama yang meninggal dunia. Wafatnya ulama adalah dicabutnya sebuah ilmu. Sebuah ilmu itu ibarat cahaya yang mampu memberikan manfaat penerangan bagi setiap insan. Ilmu adalah aset untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat. Seorang ulama adalah sandaran umat, harapan umat sebagai tempat meminta nasehat dan petunjuk. Wafatnya para ulama adalah musibah. Ketika para ulama sudah tidak ada, siapa yang kemudian akan menjadi panutan umat? Sebagaimana ungkapan dari sebagian ulama salaf bahwa sebaik-baik pemberian adalah akal dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan. Apabila tiada lagi tersisa seorang ulama, maka umat akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan. Dimana mereka memberikan fatwa dengan tanpa ilmu dan pemahaman yang benar. Seolah kapal yang memberikan keselamatan, tapi kapal itu malah justru berlubang dan kemudian akhirnya tenggelam. Selain itu, wafatnya ulama juga sebagai tanda-tanda akan semakin dekatnya hari kiamat. Mengapa demikian? Ketika ilmu sudah diangkat dari muka bumi dan kemudian timbul kebodohan dan akhirnya kebatilan merajalela, maka itulah awal dari kehancuran. Seperti dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Nabi saw. bersabda: ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ “Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan teguhnya kebodohan”. (HR. Bukhari) مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan dan sebuah kebocoran yang tidak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagiku daripada meninggalnya satu ulama”. (HR. Al-Thabrani dan al-Baihaqi) Dengan wafatnya para ulama, tentu semua umat mengalami kesedihan yang amat mendalam. Dalam sebuah hadist, Nabi saw. menegaskan, "Siapa yang tidak merasa sedih dikala kematian seorang ulama, maka ia adalah orang munafik”. Selanjutnya, dalam hadits lain juga dituliskan bahwa “Kematian seorang ulama itu lebih disenangi Iblis, daripada kematian tujuh puluh orang ahli ibadah”. Dengan demikian, kematian seorang ulama banyak memberikan pembelajaran. Menyadarkan kita bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan hendaknya dari setiap peristiwa kematian dijadikan sebagai alarm pengingat diri bahwa hanya akhiratlah tempat kembali. (*/Red)