Reni Politisi Perempuan yang Berkemauan Keras

KABAR duka itu datang secara tiba-tiba, dan sungguh mengejutkan. Siang itu, anak sulung saya menyampaikan kabar yang dia sendiri tampal tidak percaya:"Teh Reni meninggal dunia." Saya terlonjak kaget. Segera saya raih handphone (HP, telepon genggam) yang sedari pagi terus dipegang oleh cucu. Begitu HP saya buka, dari berbagai group whatsapp (WA) bermunculan berita duka:"Wakil Ketua Umum DPP PPP dan mantan Presidium Majelis Nasional KAHMI, Dr. Hj. Reni Marlinawati wafat di RSCM pukul 14:15." Sekujur tubuh saya lemas. Untuk beberapa saat, saya termenung: "Alangkah misteriusnya hidup ini." [caption id="attachment_319521" align="alignnone" width="640"]
Reni Marlinawati (ketiga dari kiri) usai acara bedah buku "Biografi Mohammad Natsir".[/caption] Halaman selanjutnyaKang, Abdi Bade Ngadeuheus YA. Alangkah misteriusnya hidup ini. Alangkah tipis jarak antara kehidupan dan kematian. Reni yang lahir di Sukabumi pada 10 Maret 1973, mengembuskan napas terakhir pada hari Jumat, 7 Agustus 2020 dalam usia 47 tahun. Saya mengenal Reni menjelang Pemilihan Umum 2004. Kami sama-sama menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi). Saya caleg untuk DPR-RI, Reni caleg untuk DPR Provinsi Jawa Barat. Karena dapilnya sama, kami sering jalan dan berkampanye bareng. Kesan saya, sebagai pendatang baru di blantika politik, Reni cukup rendah hati untuk mau menyimak dan mengikuti "arahan" saya di dalam menjalani kampanye. Sebagai caleg perempuan muda, cantik, dan cerdas, sering kali kehadiran Reni lebih ditunggu ketimbang saya. Takdir Allah menentukan, pada 2004 itu saya lolos ke Senayan, sementara Reni belum berhasil. Pada pemilu 2009 dan 2014, Reni terpilih menjadi anggota DPR RI dari dapil Kabupaten dan Kota Sukabumi. Karier politiknya terus melesat. Menjadi Wakil Bendahara, menjadi salah seorang Ketua, dan menjadi salah seorang Wakil Ketua Umum DPP PPP. Di Parlemen, Reni mencatatkan dirinya sebagai perempuan pertama yang menjadi Ketua Fraksi PPP. Sebuah rekor yang entah kapan bisa dipecahkan. Meskipun karier politiknya terus melejit, jika ada sesuatu yang hendak dibicarakan, Reni tidak segan mengontak saya. Kosa katanya yang khas dan saya hafal jika dia meminta waktu bertemu ialah: "Kang, aya di bumi? Teu kaabotan upami abdi ngadeuheus?" (Kang, ada di rumah. Tidak keberatan jika saya merapat?). Saya selalu menjawab singkat: "Mangga. (Silakan)." Halaman selanjutnyaAkang Kedah Majeng Deui MENJELANG Pemilu 2019, dua kali Reni menemui saya. Dia meminta saya untuk nyaleg lagi. "Akang kedah majeng deui," kata Reni yang selalu optimistik itu. Menurutnya, perolehan suara saya pada Pemilu 2014 masih bagus. Memang, dengan nawaitu "sedekah suara", pada Pemilu 2014 saya nyaleg. Karena niatnya "sedekah suara", kalau sedang ada rezekii saya jalan menemui konstituen. Jika sedang tidak ada rezeki, saya tidur di rumah. Jika dibanding-banding, persentase tidur ternyata lebih tinggi daripada menemui konstituen. Meskipun demikian, perolehan suara saya ternyata masih belasan ribu, peringkat ketiga sesudah Reni dan Lutfi. Dalam nada yang sangat optimistik, Reni berkata bahwa tanpa bermaksud mendahului ketentuan Allah, jika Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden, dirinya berpeluang menjadi menteri. "Saya lebih ikhlas jika Akang yang menggantikan saya di DPR." Alasan bahwa saya sudah tua, ditolak oleh Reni. "Mahathir di usia 90 tahunan masih menjadi Perdana Menteri. Akang pasti jauh lebih muda dari Mahathir," kata Reni tidak memberi kesempatan kepada saya untuk menangkis. Akhirnya saya mainkan jurus pamungkas: 'Saya tidak punya uang." Rupanya jurus pamungkas itupun hendak dia patahkan juga. "Jangan khawatir, saya sudah siapkan anggaran untuk Akang," ujar Reni sembari menyebut angka. Saya terpojok. Akhirnya saya katakan, jika memang di daftar caleg PPP harus ada nama "Hakiem", biarlah anak sulung saya jadi caleg untuk DPRD Kabupaten Sukabumi. Dengan takdir Allah, pada Pemilu 2019 Reni gagal melenggang ke Senayan. Demikian juga anak sulung saya. Halaman selanjutnyaSaya Mau Jadi Professor SETELAH tidak menjadi anggota parlemen, Reni makin intens berkomunikasi dengan saya. Suatu kali dia bertanya bagaimana caranya menjadi penulis. Pertanyaan pendek yang sulit saya jawab. Di ketika yang lain dia mengemukakan hasratnya untuk memiliki semua buku yang saya tulis dan atau saya sunting. Ketika terbit buku saya Biografi Mohammad Natsir Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, Reni bersemangat untuk mengadakan bedah buku di Plaza Dakwah, Sukabumi. Dalam acara bedah buku, Reni yang duduk di sebelah saya menunjukkan catatan yang ditulis tangan dari Biografi Mohammad Natsir. "Banyak pelajaran yang bisa saya ambil, karena itu saya catat supaya tidak lupa," tutur Reni. Reni tidak hanya membedah buku saya, dia juga memborong buku dan membagikannya kepada seluruh peserta bedah buku yang jumlahnya cukup banyak. Di tahun pemilihan kepala daerah (pilkada) ini, saya dorong Reni untuk ikut dalam kontestasi. Reni menolak. Alasan penolakannya, dia ingin fokus menjadi dosen, menulis buku, dan menjadi professor. "Saya ingin menjadi guru besar," ujar Reni sungguh-sungguh. Keinginan mulia, yang tentu saja saya dukung penuh. Halaman selanjutnyaKejutan Reni SEKITAR bulan Juni 2020, beredar foto Reni sebagai bakal calon wakil bupati. Dalam satu kesempatan, saya tanya: "Serius mau jadi Wabup? Katanya mau jadi Professor." Reni menjawab ringan:"Itu pekerjaan anak-anak." Beberapa hari sesudah percakapan itu, masuk pesan ke WA saya: "Kang aya di bumi? Abdi bade ngadeuheus". Seperti biasa saya jawab:"Mangga." Keesokan harinya, Reni tiba di kediaman saya. Sesudah berbasa-basi sejenak, Reni sampai pada pokok persoalan. Dia minta restu untuk maju menjadi calon bupati Sukabumi. Saya kaget. Dan makin kaget ketika diberitahu bahwa dirinya akan berpasangan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan. "Kok bisa? PPP yang kursinya cuma empat, menjadi calon bupati berdampingan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan yang kursinya enam," tanya saya. "Ini kehormatan, Kang," kata Reni sambil menambahkan bahwa ini adalah penugasan dari DPP PPP yang dia harus laksanakan. Saya kemudian memberi beberapa pandangan, yang alhamdulillah dilaksanakan dengan penuh semangat oleh Reni. Saya menekankan kepada Reni agar menjadikan pilkada sebagai momentum untuk konsolidasi partai. Dengan nada bersungguh-sungguh saya tegaskan kepada Reni bahwa soal menang atau kalah sudah tertulis di _lauh al mahfudz_. "Urusan kita konsolidasi partai." "Siap Kang!" Pesan yang saya sampaikan secara empat mata, saya sampaikan lagi dalam Rapat Pimpinan Cabang PPP Kabupaten Sukabumi. Dan, sesuai harapan saya, Reni betul-betul bekerja keras untuk mengonsolidasikan kekuatan partai. Saya dengar dari teman-teman Tim Sukses/Relawan, Reni sering kali berkeliling dari pagi hingga larut malam. Mendengar itu, saya cuma bisa berharap semoga Reni tetap mampu menjaga kesehatan. Halaman selanjutnyaHilang Kontak SEJAK akhir Juli, Reni mendadak tidak bisa dihubungi. Kabar yang beredar, Reni dirawat di rumah sakit karena terserang typhus. Penyakit yang mengharuskan orang yang terserang, beristirahat total. Tetapi kemudian beredar surat terbuka yang mempertanyakan hilangnya kontak dengan Reni. Surat terbuka itu pun masuk ke HP saya. Dan dengan harapan DPP PPP segera menjernihkan masalahnya, sebelum menjadi air keruh yang mengganggu konsolidasi, surat terbuka itu saya kirim ke Plt Ketum PPP, Suharso Monoarfa. Jawaban Monoarfa ringkas: "Saya juga dapat. Terima kasih." Saya juga menyampaikan hal yang sama kepada Sekretaris Jenderal DPP PPP, Arsul Sani. Kepada Arsul saya tekankan, jangan sampai semangat teman-teman di akar rumput melemah. Arsul mengatakan, bahwa soal-soal mengenai pilkada akan dibahas oleh DPP pada hari Jumat. Hari Jumat itu, Reni datang ke DPP PPP untuk memberi laporan perkembangan pilkada di Kabupaten Sukabumi. Reni belum sempat melapor, malaikat maut telah memanggilnya. PPP khususnya, bangsa Indonesia umumnya, kehilangan seorang politisi perempuan yang sangat berbakat dan berkemauan keras. Wartawan senior Nasihin Masha menyebut Reni Marlinawati sebagai "sangat sedikit perempuan yang berpolitik." Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surgaku. Adinda Reni, berangkatlah. Saya mengenangmu sebagai politisi perempuan yang berkemauan keras.[]
Reni Marlinawati (ketiga dari kiri) usai acara bedah buku "Biografi Mohammad Natsir".[/caption] Halaman selanjutnyaKang, Abdi Bade Ngadeuheus YA. Alangkah misteriusnya hidup ini. Alangkah tipis jarak antara kehidupan dan kematian. Reni yang lahir di Sukabumi pada 10 Maret 1973, mengembuskan napas terakhir pada hari Jumat, 7 Agustus 2020 dalam usia 47 tahun. Saya mengenal Reni menjelang Pemilihan Umum 2004. Kami sama-sama menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi). Saya caleg untuk DPR-RI, Reni caleg untuk DPR Provinsi Jawa Barat. Karena dapilnya sama, kami sering jalan dan berkampanye bareng. Kesan saya, sebagai pendatang baru di blantika politik, Reni cukup rendah hati untuk mau menyimak dan mengikuti "arahan" saya di dalam menjalani kampanye. Sebagai caleg perempuan muda, cantik, dan cerdas, sering kali kehadiran Reni lebih ditunggu ketimbang saya. Takdir Allah menentukan, pada 2004 itu saya lolos ke Senayan, sementara Reni belum berhasil. Pada pemilu 2009 dan 2014, Reni terpilih menjadi anggota DPR RI dari dapil Kabupaten dan Kota Sukabumi. Karier politiknya terus melesat. Menjadi Wakil Bendahara, menjadi salah seorang Ketua, dan menjadi salah seorang Wakil Ketua Umum DPP PPP. Di Parlemen, Reni mencatatkan dirinya sebagai perempuan pertama yang menjadi Ketua Fraksi PPP. Sebuah rekor yang entah kapan bisa dipecahkan. Meskipun karier politiknya terus melejit, jika ada sesuatu yang hendak dibicarakan, Reni tidak segan mengontak saya. Kosa katanya yang khas dan saya hafal jika dia meminta waktu bertemu ialah: "Kang, aya di bumi? Teu kaabotan upami abdi ngadeuheus?" (Kang, ada di rumah. Tidak keberatan jika saya merapat?). Saya selalu menjawab singkat: "Mangga. (Silakan)." Halaman selanjutnyaAkang Kedah Majeng Deui MENJELANG Pemilu 2019, dua kali Reni menemui saya. Dia meminta saya untuk nyaleg lagi. "Akang kedah majeng deui," kata Reni yang selalu optimistik itu. Menurutnya, perolehan suara saya pada Pemilu 2014 masih bagus. Memang, dengan nawaitu "sedekah suara", pada Pemilu 2014 saya nyaleg. Karena niatnya "sedekah suara", kalau sedang ada rezekii saya jalan menemui konstituen. Jika sedang tidak ada rezeki, saya tidur di rumah. Jika dibanding-banding, persentase tidur ternyata lebih tinggi daripada menemui konstituen. Meskipun demikian, perolehan suara saya ternyata masih belasan ribu, peringkat ketiga sesudah Reni dan Lutfi. Dalam nada yang sangat optimistik, Reni berkata bahwa tanpa bermaksud mendahului ketentuan Allah, jika Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden, dirinya berpeluang menjadi menteri. "Saya lebih ikhlas jika Akang yang menggantikan saya di DPR." Alasan bahwa saya sudah tua, ditolak oleh Reni. "Mahathir di usia 90 tahunan masih menjadi Perdana Menteri. Akang pasti jauh lebih muda dari Mahathir," kata Reni tidak memberi kesempatan kepada saya untuk menangkis. Akhirnya saya mainkan jurus pamungkas: 'Saya tidak punya uang." Rupanya jurus pamungkas itupun hendak dia patahkan juga. "Jangan khawatir, saya sudah siapkan anggaran untuk Akang," ujar Reni sembari menyebut angka. Saya terpojok. Akhirnya saya katakan, jika memang di daftar caleg PPP harus ada nama "Hakiem", biarlah anak sulung saya jadi caleg untuk DPRD Kabupaten Sukabumi. Dengan takdir Allah, pada Pemilu 2019 Reni gagal melenggang ke Senayan. Demikian juga anak sulung saya. Halaman selanjutnyaSaya Mau Jadi Professor SETELAH tidak menjadi anggota parlemen, Reni makin intens berkomunikasi dengan saya. Suatu kali dia bertanya bagaimana caranya menjadi penulis. Pertanyaan pendek yang sulit saya jawab. Di ketika yang lain dia mengemukakan hasratnya untuk memiliki semua buku yang saya tulis dan atau saya sunting. Ketika terbit buku saya Biografi Mohammad Natsir Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, Reni bersemangat untuk mengadakan bedah buku di Plaza Dakwah, Sukabumi. Dalam acara bedah buku, Reni yang duduk di sebelah saya menunjukkan catatan yang ditulis tangan dari Biografi Mohammad Natsir. "Banyak pelajaran yang bisa saya ambil, karena itu saya catat supaya tidak lupa," tutur Reni. Reni tidak hanya membedah buku saya, dia juga memborong buku dan membagikannya kepada seluruh peserta bedah buku yang jumlahnya cukup banyak. Di tahun pemilihan kepala daerah (pilkada) ini, saya dorong Reni untuk ikut dalam kontestasi. Reni menolak. Alasan penolakannya, dia ingin fokus menjadi dosen, menulis buku, dan menjadi professor. "Saya ingin menjadi guru besar," ujar Reni sungguh-sungguh. Keinginan mulia, yang tentu saja saya dukung penuh. Halaman selanjutnyaKejutan Reni SEKITAR bulan Juni 2020, beredar foto Reni sebagai bakal calon wakil bupati. Dalam satu kesempatan, saya tanya: "Serius mau jadi Wabup? Katanya mau jadi Professor." Reni menjawab ringan:"Itu pekerjaan anak-anak." Beberapa hari sesudah percakapan itu, masuk pesan ke WA saya: "Kang aya di bumi? Abdi bade ngadeuheus". Seperti biasa saya jawab:"Mangga." Keesokan harinya, Reni tiba di kediaman saya. Sesudah berbasa-basi sejenak, Reni sampai pada pokok persoalan. Dia minta restu untuk maju menjadi calon bupati Sukabumi. Saya kaget. Dan makin kaget ketika diberitahu bahwa dirinya akan berpasangan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan. "Kok bisa? PPP yang kursinya cuma empat, menjadi calon bupati berdampingan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan yang kursinya enam," tanya saya. "Ini kehormatan, Kang," kata Reni sambil menambahkan bahwa ini adalah penugasan dari DPP PPP yang dia harus laksanakan. Saya kemudian memberi beberapa pandangan, yang alhamdulillah dilaksanakan dengan penuh semangat oleh Reni. Saya menekankan kepada Reni agar menjadikan pilkada sebagai momentum untuk konsolidasi partai. Dengan nada bersungguh-sungguh saya tegaskan kepada Reni bahwa soal menang atau kalah sudah tertulis di _lauh al mahfudz_. "Urusan kita konsolidasi partai." "Siap Kang!" Pesan yang saya sampaikan secara empat mata, saya sampaikan lagi dalam Rapat Pimpinan Cabang PPP Kabupaten Sukabumi. Dan, sesuai harapan saya, Reni betul-betul bekerja keras untuk mengonsolidasikan kekuatan partai. Saya dengar dari teman-teman Tim Sukses/Relawan, Reni sering kali berkeliling dari pagi hingga larut malam. Mendengar itu, saya cuma bisa berharap semoga Reni tetap mampu menjaga kesehatan. Halaman selanjutnyaHilang Kontak SEJAK akhir Juli, Reni mendadak tidak bisa dihubungi. Kabar yang beredar, Reni dirawat di rumah sakit karena terserang typhus. Penyakit yang mengharuskan orang yang terserang, beristirahat total. Tetapi kemudian beredar surat terbuka yang mempertanyakan hilangnya kontak dengan Reni. Surat terbuka itu pun masuk ke HP saya. Dan dengan harapan DPP PPP segera menjernihkan masalahnya, sebelum menjadi air keruh yang mengganggu konsolidasi, surat terbuka itu saya kirim ke Plt Ketum PPP, Suharso Monoarfa. Jawaban Monoarfa ringkas: "Saya juga dapat. Terima kasih." Saya juga menyampaikan hal yang sama kepada Sekretaris Jenderal DPP PPP, Arsul Sani. Kepada Arsul saya tekankan, jangan sampai semangat teman-teman di akar rumput melemah. Arsul mengatakan, bahwa soal-soal mengenai pilkada akan dibahas oleh DPP pada hari Jumat. Hari Jumat itu, Reni datang ke DPP PPP untuk memberi laporan perkembangan pilkada di Kabupaten Sukabumi. Reni belum sempat melapor, malaikat maut telah memanggilnya. PPP khususnya, bangsa Indonesia umumnya, kehilangan seorang politisi perempuan yang sangat berbakat dan berkemauan keras. Wartawan senior Nasihin Masha menyebut Reni Marlinawati sebagai "sangat sedikit perempuan yang berpolitik." Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surgaku. Adinda Reni, berangkatlah. Saya mengenangmu sebagai politisi perempuan yang berkemauan keras.[]




























