Singgasana Firaun Digoyang Pemakzulan

Oleh: Tarmidzi Yusuf, Pegiat Dakwah Islam Firaun lihai dan licin dalam berpolitik. Jagonya merangkai narasi, memfitnah dan mengkriminalisasi oposisi. Pihak yang berseberangan secara politik dengan Firaun. Membungkam oposisi dengan teror baik fisik maupun kebebasan berpendapat dengan pasal ujaran kebencian dan hoax. Dalam terminologi Firaun setiap pendapat dan kebenaran yang bukan diproduksi oleh Firaun langsung tangkap, adili dan penjarakan. Monopoli narasi, isu dan tafsir hukum. Sementara Firaun dan para buzzer bebas memproduksi ujaran kebencian dan hoax yang tidak tersentuh oleh hukum. Ketika kekuasaan goyah. Firaun membangun narasi bahwa ada sekelompok orang atau kekuatan tertentu mau melakukan makar. Persis apa yang terjadi dengan peristiwa tukang sihir Firaun dengan Nabi Musa _alaihissalam_ seperti diceritakan dalam al-Qur'an. "Tatkala ahli-ahli sihir itu datang, mereka pun bertanya kepada Fir’aun, *“Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami Adalah orang-orang yang menang?”* Fir’aun menjawab, *“Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku).”* (QS. asy-Syu’araa: 41—42) Setelah mendapat jawaban Fir’aun, tukang-tukang sihir itu segera berbalik menghadap Nabi Musa dan Harun _alaihissalam_, kemudian mereka berkata, *“Hai Musa, engkau yang menunjukkan keahlian lebih dahulu ataukah kami?”* *“Kalian yang lebih dahulu. Lemparkanlah apa yang mau kalian lemparkan,”* jawab beliau. Dengan penuh kesombongan dan yakin menang, tukang-tukang sihir itu melemparkan tali dan semua peralatan sihir mereka sambil berkata, *“Demi kekuasaan Fir’aun, kami pasti menang.”* Tiba-tiba dengan takdir Allah juga tentu saja—tali dan tongkat yang mereka lemparkan itu ditampakkan dalam pandangan Nabi Musa seakan-akan ular yang merayap dengan cepat menuju ke arah beliau. Para penonton ada yang ketakutan, bahkan Nabi Musa pun sempat dihinggapi rasa takut. Allah Ta’ala berfirman, سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ *“Mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).”* (QS. al-A’raf: 116) Allah Ta’ala berfirman: *Kami berkata, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling (menang). Lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir( belaka),dan tukang sihir itu tidak akan menang, dari mana saja ia datang.”* (Thaha:68-69) Para tukang sihir sudah merasa senang melihat perubahan meski sekilas pada wajah Nabi Musa _alaihissalam_. Mereka mengira bahwa setelah itu Nabi Musa semakin ketakutan dan lari. Dugaan mereka salah. Ternyata, dengan tenang, Nabi Musa _alaihissalam_ melemparkan tongkatnya. Dengan izin Allah _subhanahuwata’ala_, tongkat itu menjadi ular besar yang dengan cepat menelan ular-ular palsu buatan para tukang sihir tersebut. Akhirnya, mereka tunduk dan beriman dengan sepenuh hati mereka. Fir’aun dan para pengikutnya yang sudah merasa senang dan yakin akan kemenangan para tukang sihir terkejut melihat ular-ular itu ditelan oleh ular besar yang berasal dari tongkat Nabi Musa _alaihissalam_. Tukang-tukang sihir itu tak kalah herannya, mereka menyangka akan menang dan memperoleh kedudukan di sisi Fir’aun, apalagi tadi melihat seolah-olah Nabi Musa _alaihissalam_ takut. Karena kesombongan, Firaun membangun narasi bahwa tukang sihir dan Nabi Musa berkonspirasi mau melakukan makar dan pemakzulan secara inkonstitusional terhadap Firaun. Firaun menerapkan pasal makar. Sujudnya para ahli sihir kepada Nabi Musa dan Harun yang dilakukan tanpa izin terlebih dahulu darinya untuk mengkriminalisasi para tukang sihir yang sujud kepada Nabi Musa. *“Firaun berkata, apakah kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian?”* (QS. al-A’raf: 123) Firaun mempolitisasi hukum dengan menuduh ahli sihir melanggar kesepakatan secara sepihak dan merendahkan kewibaannya sebagai seorang raja ketika itu. *"Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,”* (QS. al-Qashash: 4) Ayat ini mencerminkan karakteristik kepemimpinan Firaun: 1. Sewenang-wenang;2. Politik pecah belah dan adu domba;3. Menyingkirkan siapapun yang dapat mengancam kekuasaannya;4. Memelihara orang-orang munafik dan Islam KTP. Firaun berupaya mencitrakan dirinya sebagai penguasa yang bijak, pro rakyat, humble, dan sederhana. Selain itu, Firaun membangun narasi sebagai penguasa yang sukses dalam pembangunan infrastruktur. Walaupun belum tentu bermanfaat bagi rakyatnya. Bandung, 14 Syawal 1441/6 Juni 2020





























