Pengamat Prediksi Pandemi COVİD-19 di Indonesia Baru Akan Berakhir 2021

Pengamat Prediksi Pandemi COVİD-19 di Indonesia Baru Akan Berakhir 2021
Jakarta, Obsessionnews.com -  Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha memprediksi pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVİD-19) di Indonesiabaru akan berakhir paling cepat pada 2021. "Prediksi skenario pandemi di Indonesia baru berakhir paling cepat 2021 ini sudah kami sampaikan sejak Februari. Saya melihat skenario ini potensial bergantung tiga faktor utama: kecepatan waktu penemuan vaksin, pemulihan mayoritas dunia secara global, dan pertumbuhan banyak episenter penyebaran baru di dalam negeri," kata Arya dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Rabu (13/5/2020).   Baca juga:Rakyat Menolak Perppu CoronaKemenparekraf Bakal Jadikan Bali Sebagai Pilot Project Penerapan CHS Usai Pandemi Covid-19Apakah Memang Kasus Covid-19 Indonesia Rendah?   Ia menyebutkan semua prediksi skenario 2020 menjadi akhir pandemi COVİD-19 sudah banyak yang mengalami revisi. "Kita dapat me-review satu demi satu pihak yang membuat prediksi terlalu optimis di bulan Maret, April, Mei akan jadi akhir kini telah merevisi prediksinya. Kemudian kita akhirnya semakin sadar bahwa kita memang akan mengalami ini dalam waktu yang agak lama. Prediksi saya soal skenario 2021 bukan tidak mungkin, karena sudah ada beberapa penelitian di luar negeri yang menyebutkannya juga. Situasi global akan berpengaruh pada domestik, karena perhubungan dan keimigrasian Indonesia masih sangat terbuka," tuturnya. Arya yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) mengungkapkan, wabah ini akan berlangsung lama. “Sepertinya ini akan seperti maraton jarak jauh dan jangka panjang, bukan sesederhana kita melewati puncak lalu selesai. Ini akan menjadi seperti ‘gelombang soliton’ yang terus bergulir dan bergulung," tandas Arya. Menurutnya, prediksi skenario 2021 tersebut tergantung pada kebijakan yang berlaku. Ini tidak bisa sekadar prediksi, forecast ataupun modelling yang kuantitatif. “Saya melihat arah pandemi ini juga dengan kualitatif, budaya, jadi besar pengaruh perilaku masyarakat kita, dan kemampuan pemerintah mengoordinasikan faktor kesehatan, sosial, ekonomi dan politik dalam kebijakan public," ujar Arya. Halaman selanjutnyaTiga Kemungkinan Skenario Dia mengambil contoh studi Minnesota yang menjelaskan tiga kemungkinan skenario untuk wabah pandemi COVID-19 ini. Skenario pertama yakni gelombang kasus COVID-19 saat ini diikuti oleh serangkaian gelombang susulan yang lebih kecil, atau “puncak dan lembah”, yang terjadi secara konsisten selama periode satu hingga dua tahun, tetapi secara bertahap akan berkurang sekitar tahun 2021. Skenario kedua yakni gelombang awal COVID-19 pada 2020 diikuti oleh gelombang kasus yang "lonjakan" nya jauh lebih besar. Selanjutnya, satu atau lebih gelombang yang lebih kecil dapat terjadi pada 2021. Skenario ketiga gelombang awal COVID-19 diikuti oleh pola gelombang nya "tidak jelas", tapi terus berlangsung hingga 2021." Halaman selanjutnyaPertimbangan Relaksasi PSBB Arya mengatakan, bahwa pertimbangan relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dapat dipahami. Kalau pemerintah melakukan relaksasi atas dasar kesadaran bahwa wabah ini akan ber-“gelombang” kasus barunya, itu bisa dipahami. Syaratnya pemerintah melihat perlu secara berkala melakukan langkah dinamis dalam mengetatkan dan mengendurkan langkah-langkah mitigasi, seperti jarak sosial, dan terus menguatkan sistem pelayanan kesehatan. “Jangan terus-menerus longgar, sementara budaya masyarakat untuk berdisiplin dengan protokol kesehatan belum solid," tegasnya. Halaman selanjutnyaPrediksi TIDI Beberapa Kali Terbukti Prediksi skenario 2021 yang dikeluarkan TIDI setelah melakukan serangkaian diskusi bersama para doktor dan pakar muda lintas disiplin ilmu. "Ingat juga prediksi kita sebelumnya sudah beberapa kali terbukti. Misalnya soal kasus melewati angka empat ribu kasus, dan prediksi tersebut terbukti," ucap Arya. Ia mengatakan, meski PSBB adalah pilihan kebijakan paling longgar, namun tetap berhasil memberikan dampak penurunan aktivitas/kunjungan masyarakat ke tempat kerja, tempat rekreasi, tempat transit, tempat belanja/pertokoan/mall dan tempat parkir. "Terbukti menekan aktivitas di tempat-tempat tersebut di atas sampai 80% dari periode sebelumnya. Sedangkan aktivitas di rumah atau tempat tinggal meningkat sampai mendekati 40%. Ini menunjukkan kepatuhan masyarakat terhadap pelaksanaan PSBB. Meskipun, untuk tempat kerja penurunan hanya berkisar 40% alias masih ada 60% yang beraktivitas," kata Arya. Ia menyebutkan, bahwa dampak PSBB terhadap kasus COVID-19 sebelum penerapan PSBB, jumlah penduduk DKI Jakarta yang terkonfirmasi positif COVID-19 selama PSBB terjadi penurunan kasus baru selama PSBB. Angkanya telah mengikuti tren/garis regresi linier dengan R2 yang tinggi (0,9943). Dalam kasus ini Arya mengatakan, perlu indikator yang hati-hati untuk menentukan apakah kita sudah saatnya relaksasi atau tidak di sebuah wilayah. Misalnya dengan menggunakan R real-time (Rt), yaitu ukuran tingkat reproduksi efektif, yang menunjukkan jumlah orang terinfeksi oleh orang yang sudah terinfeksi sebelumnya pada waktu t. Tentunya analisis kuantitatif ini musti dilengkapi analisa kualitatif soal perubahan prilaku dan pembatasan, karena pengetatan atau perubahan prilaku akan mengubah Rt. Jadi kalau Rt nya R>1 maknanya penyebaran penularan lebih cepat dan luas. Jika R<1 maka penyebaran melambat dan akan berhenti jika konsisten dalam rentang waktu tertentu." Arya juga mengurai beberapa faktor lain yang menjadi argumentasi kenapa akhir Pandemi COVİD-19 bisa berlangsung lama di Indonesia, "Yang utama selain tentunya terkait healthcare capacity, yaitu fakta tingginya kepadatan sosial (density area), red zone merata di semua kelurahan untuk DKI dan tumbuhnya Jawa Timur sebagai kandidat episenter baru, kultur yang belum mendukung disiplin PSBB efektif, life style, dan tuntutan sosio-ekonomi kelas menengah ke bawah," ujarnya. Jadi kembali lagi, Arya menegaskan,"Mau tidak mau dengan prediksi skenario 2021 yang maraton ini healthcare capacity mesti ditingkatkan dan dioptimalkan. Belum lagi keterbatasan ruang isolasi, tekanan negatif, ruang ventilator, dan tenaga kesehatan dengan spesifikasi yang berbeda. Sehingga tidak ada jalan lain, healthcare capacity atau diagnostic capacity mesti ditingkatkan." (arh)