Kecanduan Game Online, Anak Pegang Pisau dan Memukul Ibu

Akibat seorang anak kecanduan game online, ia memegang pisau dan memukul wajah ibunya. Ia pun dirawat di rumah sakit jiwa. Industri game online dan penggunaan internet di Indonesia kian berkembang. Akan tetapi, kemajuan itu dibarengi dengan kenyataan bahwa makin banyak rumah sakit jiwa yang menerima anak-anak kecanduan game dan internet sebagai pasien. Suasana ruang tunggu rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Dr Soeharto Heerdjan di Jakarta ramai dengan celoteh bocah. Hari itu, belasan orang tua membawa anak-anak mereka yang memiliki beragam keluhan, mulai dari autisme hingga kecanduan gawai. Salah satunya, Franky (bukan nama sebenarnya). Franky, yang didiagnosa mengalami kecanduan game online, atau dalam kamus KBBI dieja gim, menggenggam telepon seluler milik ibunya dengan kedua tangan. Matanya fokus menatap ponsel dan jemarinya tangkas memencet layar sentuh. Kondisi tersebut, menurut ibu Franky, Nurma, sudah berlangsung beberapa tahun lalu. [caption id="attachment_298464" align="alignnone" width="640"]
Ruang tunggu rawat jalan pasien anak-anak di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta. (BBC)[/caption] Nurma mengisahkan, sejak putranya masih balita, bocah tersebut telah disodori gawai oleh pengasuhnya. Nurma tidak bisa mengontrol durasi Franky bermain gawai dalam sehari karena dia dan suaminya bekerja. "Sekitar umur lima tahun, dia nonton Youtube. Dia memutar video, kemudian bernyanyi-nyanyi. Semakin bertambah usia, dia semakin sering bermain gadget," papar Nurma. Apakah bisa mencapai delapan jam dalam sehari? "Bisa," kata Nurma. Suatu ketika Franky menunjukkan perilaku agresif saat diperintahkan tidak bermain gawai. "Dia mukul-mukul [saya]. Mungkin saking marahnya, dia memegang pisau dan berteriak 'Marah ya!' Saya takut, shock juga. Secara perlahan saya ambil pisau itu," tutur Nurma. [caption id="attachment_298470" align="alignnone" width="640"]
ilustrasi - kecanduan game online. (idnes)[/caption] Anak-anak agresif kecanduan game online Tindakan seperti yang dilakukan Franky kerap dijumpai dokter Isa Multazzam Noor, psikiater anak dan remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta. Dokter Isa mengaku pernah menangani anak yang "galak" karena kuota pulsa pada ponselnya habis. "Gawainya waktu itu habis pulsanya. Kemudian dia minta untuk dipenuhi tapi keluarga nggak memberikan. Dia langsung lempar gawainya dan memukul wajah ibunya," tutur dokter Isa. Dokter Isa menambahkan, anak tersebut tidak lagi bisa ditenangkan oleh orang tuanya sehingga dia dimasukkan ke rawat inap. Kasus ini berbeda dengan Franky yang dirawat jalan lantaran masih dapat diberi pengertian oleh ibu dan ayahnya. "Kita punya dua pintu perawatan. Ada yang lewat poliklinik, kita bilang sebagai rawat jalan. Lalu ada yang masuk dari ruang emergency. Dari yang ruang emergency ini biasanya memang kondisi yang sudah membahayakan pihak keluarga sehingga perlu dirawat inap. Emosi dan perilakunya sudah tidak lagi bisa ditolerir oleh keluarga," jelas dokter Isa. Akan tetapi, perilaku agresif bukan satu-satunya indikator seorang anak dapat diduga mengalami kecanduan gawai. Durasi bermain game online juga menjadi kriteria. "Ketika anak itu mulai ada kerentanan ke arah kecanduan gawai, pemakaian gawai dalam satu hari mencapai tujuh sampai delapan jam, baik itu nonstop atau akumulasi," kata dokter Isa. Durasi tersebut sejalan dengan laporan HootSuite dan We Are Social pada Januari 2019 lalu. Berdasarkan laporan itu, penduduk Indonesia menempati peringkat lima dunia dalam daftar durasi pemakaian internet terlama per hari, yaitu delapan jam dan 36 menit. [caption id="attachment_298468" align="alignnone" width="640"]
Dokter Isa Multazzam Noor, psikiater anak dan remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta, berbincang dengan seorang pasien anak di unit rawat inap kesehatan jiwa anak dan remaja. (BBC)[/caption] Anak kecanduan game online makin banyak Kecanduan game atau gim online dan gawai yang terjadi pada Franky ternyata kian banyak terjadi di kalangan anak dan remaja di Jakarta. Setidaknya itu yang terlihat dalam aplikasi Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet (KDAI) yang dibuat dokter Kristiana Siste Kurniasanti, psikiater spesialis adiksi dari Departemen Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo yang menjabat Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam kuesioner tersebut, dokter Siste menguji 643 remaja di Jakarta dengan memberikan 44 pernyataan yang dirumuskan 14 pakar, terdiri dari psikiater anak dan remaja, psikiater bidang perilaku adiksi, psikiater bidang neuropsikiatri, serta dokter spesialis anak. “Pada penelitian yang kami lakukan di Jakarta dengan melibatkan beberapa sekolah ternyata prevalensi yang didapatkan adalah 31,4% [anak dan remaja kecanduan internet]. Kalau dilihat dari prevalensi ini adalah masalah yang cukup bermakna untuk remaja," kata dokter Siste. Namun, dokter Siste langsung menambahkan, angka tersebut perlu ditelusuri lebih jauh dengan wawancara klinis oleh tenaga kesehatan yang memang pakar dalam hal itu. Sejauh ini belum ada deteksi serupa di tingkat nasional. Namun, dari laporan berbagai media, sejumlah rumah sakit jiwa di berbagai wilayah di Indonesia secara reguler menerima anak-anak yang kecanduan game online dan internet sebagai pasien. Di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta, angkanya meningkat. "Dari polanya, dari tahun 2017 sampai Desember 2019 kasusnya cukup meningkat. Dari per bulan satu pasien yang dirawat dengan masalah adiksi gawai, sekarang ini trennya dua pasien dalam sebulan," kata dokter Isa Multazzam Noor. (*/BBC News Indonesia)
Ruang tunggu rawat jalan pasien anak-anak di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta. (BBC)[/caption] Nurma mengisahkan, sejak putranya masih balita, bocah tersebut telah disodori gawai oleh pengasuhnya. Nurma tidak bisa mengontrol durasi Franky bermain gawai dalam sehari karena dia dan suaminya bekerja. "Sekitar umur lima tahun, dia nonton Youtube. Dia memutar video, kemudian bernyanyi-nyanyi. Semakin bertambah usia, dia semakin sering bermain gadget," papar Nurma. Apakah bisa mencapai delapan jam dalam sehari? "Bisa," kata Nurma. Suatu ketika Franky menunjukkan perilaku agresif saat diperintahkan tidak bermain gawai. "Dia mukul-mukul [saya]. Mungkin saking marahnya, dia memegang pisau dan berteriak 'Marah ya!' Saya takut, shock juga. Secara perlahan saya ambil pisau itu," tutur Nurma. [caption id="attachment_298470" align="alignnone" width="640"]
ilustrasi - kecanduan game online. (idnes)[/caption] Anak-anak agresif kecanduan game online Tindakan seperti yang dilakukan Franky kerap dijumpai dokter Isa Multazzam Noor, psikiater anak dan remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta. Dokter Isa mengaku pernah menangani anak yang "galak" karena kuota pulsa pada ponselnya habis. "Gawainya waktu itu habis pulsanya. Kemudian dia minta untuk dipenuhi tapi keluarga nggak memberikan. Dia langsung lempar gawainya dan memukul wajah ibunya," tutur dokter Isa. Dokter Isa menambahkan, anak tersebut tidak lagi bisa ditenangkan oleh orang tuanya sehingga dia dimasukkan ke rawat inap. Kasus ini berbeda dengan Franky yang dirawat jalan lantaran masih dapat diberi pengertian oleh ibu dan ayahnya. "Kita punya dua pintu perawatan. Ada yang lewat poliklinik, kita bilang sebagai rawat jalan. Lalu ada yang masuk dari ruang emergency. Dari yang ruang emergency ini biasanya memang kondisi yang sudah membahayakan pihak keluarga sehingga perlu dirawat inap. Emosi dan perilakunya sudah tidak lagi bisa ditolerir oleh keluarga," jelas dokter Isa. Akan tetapi, perilaku agresif bukan satu-satunya indikator seorang anak dapat diduga mengalami kecanduan gawai. Durasi bermain game online juga menjadi kriteria. "Ketika anak itu mulai ada kerentanan ke arah kecanduan gawai, pemakaian gawai dalam satu hari mencapai tujuh sampai delapan jam, baik itu nonstop atau akumulasi," kata dokter Isa. Durasi tersebut sejalan dengan laporan HootSuite dan We Are Social pada Januari 2019 lalu. Berdasarkan laporan itu, penduduk Indonesia menempati peringkat lima dunia dalam daftar durasi pemakaian internet terlama per hari, yaitu delapan jam dan 36 menit. [caption id="attachment_298468" align="alignnone" width="640"]
Dokter Isa Multazzam Noor, psikiater anak dan remaja di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta, berbincang dengan seorang pasien anak di unit rawat inap kesehatan jiwa anak dan remaja. (BBC)[/caption] Anak kecanduan game online makin banyak Kecanduan game atau gim online dan gawai yang terjadi pada Franky ternyata kian banyak terjadi di kalangan anak dan remaja di Jakarta. Setidaknya itu yang terlihat dalam aplikasi Kuesioner Diagnostik Adiksi Internet (KDAI) yang dibuat dokter Kristiana Siste Kurniasanti, psikiater spesialis adiksi dari Departemen Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo yang menjabat Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam kuesioner tersebut, dokter Siste menguji 643 remaja di Jakarta dengan memberikan 44 pernyataan yang dirumuskan 14 pakar, terdiri dari psikiater anak dan remaja, psikiater bidang perilaku adiksi, psikiater bidang neuropsikiatri, serta dokter spesialis anak. “Pada penelitian yang kami lakukan di Jakarta dengan melibatkan beberapa sekolah ternyata prevalensi yang didapatkan adalah 31,4% [anak dan remaja kecanduan internet]. Kalau dilihat dari prevalensi ini adalah masalah yang cukup bermakna untuk remaja," kata dokter Siste. Namun, dokter Siste langsung menambahkan, angka tersebut perlu ditelusuri lebih jauh dengan wawancara klinis oleh tenaga kesehatan yang memang pakar dalam hal itu. Sejauh ini belum ada deteksi serupa di tingkat nasional. Namun, dari laporan berbagai media, sejumlah rumah sakit jiwa di berbagai wilayah di Indonesia secara reguler menerima anak-anak yang kecanduan game online dan internet sebagai pasien. Di RSJ Dr Soeharto Heerdjan, Jakarta, angkanya meningkat. "Dari polanya, dari tahun 2017 sampai Desember 2019 kasusnya cukup meningkat. Dari per bulan satu pasien yang dirawat dengan masalah adiksi gawai, sekarang ini trennya dua pasien dalam sebulan," kata dokter Isa Multazzam Noor. (*/BBC News Indonesia) 



























