Kecintaan Abu Bakar Saat Rasul Hijrah

Kecintaan Abu Bakar Saat Rasul Hijrah
Jakarta, Obsessionnews.com - Ia bukanlah seorang nabi, namun sosoknya adalah profil manusia yang luar biasa. Pada dirinya tergabung sifat kelemahlembutan dan ketegasan, kasih sayang dan keberanian, ketenangan dan cepat serta tepat dalam mengambil keputusan, rendah hati dan kewibawaan, serta toleran namun mampu menghancurkan musuh. Dia adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq orang yang paling kuat keimanannya setelah para nabi dan rasul. Dan dia juga adalah orang yang paling mencintai Rasulullah Saw. Kecintaan dan kesetiaannya kepada Nabi sangat tampak pada saat ia menemani Rasulullah Saw berhijrah. Pada saat Allah Swt. telah mengizinkan Nabi Saw hijrah, para sahabat pun segera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya untuk berhijrah. Mereka meninggalkan kampung halaman menuju ke daerah yang sama sekali belum dikenal sebelumnya. Para sahabat, baik laki-laki atau perempuan, tua dan muda, dewasa maupun anak-anak,  beranjak dari Makkah menempuh perjalanan kurang lebih 460 km menuju ke Madinah. Untuk mencapai ke tempat tujuan, mereka harus melintasi gurun yang gersang dan tentu saja terik menyengat. Di antara mereka ada yang menempuh perjalanan secara sembunyi-sembunyi, ada pula yang terang-terangan. Ada yang memilih waktu siang dan tidak sedikit pula yang menjadikan malam sebagai awal perjalanan. Ibnu Hisyam mencatat, Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang bersegera memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya untuk berhijrah. Ia meminta izin kepada Rasulullah untuk berhijrah. Namun beliau Rasulullah Saw. bersabda: “Jangan terburu-buru. Semoga Allah menjadikan untukmu teman (hijrah).” Rasulullah berharap agar Abu Bakar menjadi temannya saat berhijrah menuju ke Madinah. Kemudian Jibril datang mengabarkan bahwa orang-orang Quraisy telah membulatkan tekad untuk membunuhnya. Jibril memerintahkan agar tidak lagi menghabiskan malam di Makkah. Nabi segera mendatangi Abu Bakar dan mengabarkan bahwa waktu hijrah telah tiba untuk mereka. Aisyah yang saat itu berada di rumah Abu Bakar mengatakan, “Saat kami sedang berada di rumah Abu Bakar, ada seorang yang mengabarkan kepada Abu Bakar kedatangan Rasulullah dengan menggunakan cadar (penutup muka). Beliau datang pada waktu yang tidak biasa.” Kemudian Rasulullah  meminta izin untuk masuk, dan Abu Bakar mengizinkannya. Rasulullah bersabda, “Perintahkan semua keluargamu untuk hijrah.” Abu Bakar menjawab, “Mereka semua adalah keluargamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah kembali mengatakan, “Sesungguhnya aku sudah diizinkan untuk hijrah." Abu Bakar menanggapi, “Apakah aku menemanimu (dalam hijrah) wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Iya.” Lalu Rasulullah  menunggu malam datang. Pada malam hari Rasulullah keluar dari rumahnya yang sudah terkepung oleh orang-orang kafir Quraisy. Lalu Allah menjadikan mereka tidak bisa melihat Rasulullah, dan dia menaburkan debu di kepala-kepala mereka, namun mereka tidak menyadarinya. Rasulullah menjemput Abu Bakar yang tatkala itu sedang tertidur. Abu Bakar menangis bahagia, karena menemani Rasulullah berhijrah. Aisyah mengatakan, “Demi Allah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menangis karena berbahagia. Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”. Masya Allah! Perjalanan berat yang mempertaruhkan nyawa itu, Abu Bakar sambut dengan tangisan kebahagiaan. Kepahlawanan Abu Bakar Saat Hijrah Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah tiba di sebuah goa yang dikenal dengan nama Gua Tsur. Saat sampai di mulut goa, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah Anda masuk ke dalam goa ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya, bukan Anda.” Abu Bakar  kemudian masuk ke goa dan membersihkan goa tersebut. Setelah itu dia menutup lubang-lubang di gua dengan kainnya karena ia khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut, yakni ular, kalajengking, dan lainnya. Hingga tersisalah dua lubang, yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya. Setelah itu, Abu Bakar mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ketika Rasulullah telah tertidur, tiba-tiba seekor ular menggigit kaki Abu Bakar. Ia pun menahan dirinya agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu Bakar adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya terjatuh dan menetes di wajah Rasulullah Saw. Rasulullah terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”. Kemudian Rasulullah mengobatinya. Melindungi Nabi dari teriknya matahari Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Bakar menceritakan hijrahnya bersama Nabi: “Kami berjalan siang dan malam hingga tibalah kami di pertengahan siang. Jalan yang kami lalui sangat sepi, tidak ada seorang pun yang lewat. Ku melemparkan pandangan ke segala penjuru, apakah ada satu sisi yang dapat kami dijadikan tempat berteduh. Akhirnya, pandanganku terhenti pada sebuah batu besar yang memiliki bayangan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak di sana. Aku ratakan tanah sebagai tempat istirahat Nabi Saw., lalu kuhamparkan sehelai jubah kulit dan mempersilakan beliau untuk tidur di atasnya. Istirahatlah wahai Rasulullah. Beliau pun beristirahat. Setelah itu, aku melihat keadaan sekitar. Apakah ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Aku pun bertemu seorang penggembala kambing yang juga mencari tempat untuk berteduh. Aku bertanya kepadanya, “Wahai anak muda, engkau budaknya siapa?” Ia menyebutkan nama tuannya, salah seorang Quraisy yang kukenal. Aku bertanya lagi, “Apakah kambing-kambingmu memiliki susu?” “Iya.” Jawabnya. “Bisakah engkau perahkan untukku?” pintaku. Ia pun mengiyakannya. Setelah diperah. Aku membawa susu tersebut kepada Nabi dan ternyata beliau masih tertidur. Aku tidak suka jika aku sampai membuatnya terbangun. Saat beliau terbangun aku berkata, “Minumlah wahai Rasulullah”. Beliau pun minum susu tersebut sampai aku merasa puas melihatnya.” Rasanya kita tidak terbayang, seorang yang kaya, mau bersusah dan berpeluh, menjadi pelayan tak kenal lelah seperti Abu Bakar. Ia ridha dan puas apabila Rasulullah tercukupi, aman, dan tenang. Perlindungan Abu Bakar terhadap Rasulullah selama perjalanan. Diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Umar bin Al-Khattab, ia menceritakan. Ketika Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari gua. Abu Bakar terkadang berjalan di depan Rasulullah dan terkadang berada di belakang beliau. Rasulullah pun menanyakan perbuatan Abu Bakar itu. Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, kalau aku teringat orang-orang yang mengejar (kita), aku berjalan di belakang Anda, dan kalau teringat akan pengintai, aku berjalan di depan Anda”. Apa yang dilakukan Abu Bakar ini menunjukkan kecintaan beliau yang begitu besar kepada Nabi Saw. Ia tidak ingin ada sedikit pun yang mengancam jiwa Nabi. Jika ada bahaya menghadang, ia tidak ridha kalau hal itu lebih dahulu menimpa Nabi. Demikianlah dua orang sahabat ini. Rasulullah ingin bersama Abu Bakar ketika hijrah dan Abu Bakar pun sangat mencintai Rasulullah. Inilah kecocokan ruh sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw. “Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). Jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berpisah (tidak cocok),” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan Nabi Saw sangat mencintai Abu Bakar Dari Amr bin Al-Ash, Rasulullah mengutusnya bergabung dalam pasukan Perang Dzatu Salasil. Amr berkata, “Aku mendatangi Nabi dan bertanya kepadanya, ‘Siapakah orang yang paling Anda cintai?’ Beliau menjawab, ‘Aisyah’. Aku kembali bertanya, ‘Dari kalangan laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Bapaknya (Aisyah)’. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah Saw juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja,” (HR. Bukhari). (Bal)