Parmusi Bentengi Akidah Umat Islam dengan Dakwah Bermanhaj Desa Madani

Jakarta, Obsessionnews.com – Organisasi kemasyarakatan (ormas) Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) akan menyelenggarakan Jambore Nasional Dai Parmusi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 24-27 September. Jambore ini merupakan bagian rangkaian dari peringatan milad Parmusi ke-19. Dalam Jambore tersebut Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam akan mencanangkan Gerakan Nasional Dakwah Parmusi, yang dilanjutkan dengan ekspedisi dakwah para dai ke seluruh pelosok tanah air. Usamah mengatakan, para dai Parmusi ini nantinya akan bergelut berdakwah di daerah asalnya dengan manhaj atau metode Desa Madani, di mana para dai akan berdakwah dalam rangka menyejahterakan warga masyarakat, khususnya umat Islam. “Metode dakwah yang dirancang untuk menjawab peluang, tantangan dan problematika dakwah dalam rangka membentengi akidah umat Islam Indonesia di berbagai daerah,” kata Usamah dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018). Usamah menambahkan, para dai Parmusi nantinya diharapkan dapat berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat setempat dan keamanan lingkungan. Usamah terpilih menjadi Ketua Umum Parmusi dalam Muktamar III di Asrama Haji Batam, Batam Center, Kota Batam, Kepulauan Riau, Jumat (13/3/2015) untuk periode 2015-2020,Dinakhodai Usamah wajah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tersebut mengalami perubahan yang drastis. Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I Parmusi pada September 2015 memutuskan perubahan paradigma baru Parmusi dari sebelumnya berorientasi politik menjadi berorientasi dakwah. Parmuisi mencanangkan tagline sebagai connecting muslim yang bermakna saluran aspirasi umat Islam Indonesia. Melalui paradigma baru ini Parmusi fokus untuk berdakwah di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Sejarah Parmusi Parmusi sebagai Partai Muslimin Indonesia merupakan kelanjutan historis dari keberadaan Muslimin Indonesia (MI), sebagai salah satu unsur dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) setelah fusi politik pada tanggal 5 Januari 1973, yaitu kelanjutan dari Partai Muslimin Indonesia. Banyak kalangan yang memiliki pemahaman dan pemikiran, bahwa setelah Partai Masyumi membubarkan diri karena tekanan Presiden Sukarno pada tahun 1960, diperlukan suatu wadah baru berupa partai politik yang sedikit banyak memiliki karakteristik yang kurang lebih sama. Berbagai pertemuan sebagai upaya untuk itu pun dilakukan. Pada awalnya, dibentuk Badan Koordinasi Amal Muslimin bulan Desember 1965 untuk menjajaki pendirian partai Islam baru guna mewadahi aspirasi umat yang belum tersalurkan dalam suatu partai politik yang telah ada pada waktu itu. Setelah melalui rapat-rapat persiapan maka pada tanggal 7 Mei 1967 terbentuklah Panitia Tujuh, yaitu KH. Faqih Usman (Ketua), Anwar Harjono (Wakil Ketua), Agus Sudono (Sekretaris), Nj. RAB Sjamsuridjal, Marzuki Jatim, Hasan Basri, EZ Muttaqin (Anggota-anggota). Akhirnya disepakati bahwa partai yang dimaksud akan dibentuk adalah Partai Muslimin Indonesia. Ormas-ormas Islam yang menunjukkan dukungannya dengan menandatangani piagam pendirian Partai Muslimin Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1967 adalah:
- Muhammadijah (AR Fachrudin dan Djindar Tamimi)
- Al-Djamijatul Washlijah (H. Udin Sjamsuddin)
- GASBIIDO – Gabungan Serikat2 Buruh Islam Indonesia (Andi Mappasala, Agus Sudono)
- Persatuan Islam (E. Sar’an, Sukajat)
- Nahdlatul Wathan (Moh. Said)
- Mathla’ul Anwar (H. Uwes Abubakar)
- SNII... – Serikat Nelajan Islam Indonesia (Djadil Abdullah)
- KBIM-Kongres Buruh Islam Merdeka (Maizir Ahmadyn’s)
- PUI-Persatuan Ummat Islam (A. Ridwan)
- Al-Ittihadijah (M. Thabrani R)
- PORBISI-Persatuan Organisasi-2 Buruh Islam se-Indonesia (Sjarif Usman)
- PGAIRI-Persatuan Guru Agama Islam Republik Indonesia (DarussaminAS)
- HSBI-Himpunan Seni Budaja Islam (Junan Helmy Nasution)
- PITI-Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (RN Ibrahim)
- Al-Irsjad (Ali Hubeis)
- Wanita Islam (Nj. RAB Sjamsuridjal),
DEKLARASI
PERSAUDARAAN MUSLIMIN INDONESIA (PARMUSI)
Peranan umat Islam Indonesia dalam kerangka kehidupan berbangsa diawali sejak kehadiran kaum penjajah di bumi jamrud katulistiwa ini, telah berlanjut dalam perjuangan merintis, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia sebagaimana diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, serta berkesinambungan hingga saat ini. Salah satu komponen anak bangsa pelaku sejarah tersebut adalah mereka yang tergabung dalam “Keluarga Besar Bulan Bintang” yang telah mematrikan sebuah semangat juang bernuansa “ke-Islaman dan kebangsaan.”Semangat juang tersebut tidak pernah redup selama Indonesia berada pada era Orde Lama, dan ketika memasuki era Orde Baru semangat ini pun bangkit dengan melalui “Badan Amal Muslimin Indonesia” dalam perjuangan politik membentuk “Partai Muslimin Indonesia” yang oleh Keluarga Besar Bulan Bintang dikenal dengan sebutan “Parmusi” dan dalam kehidupan Orde Baru berubah menjadi “Muslimin Indonesia atau MI. Di era reformasi ini, keluarga Besar Bulan Bintang khususnya Muslimin Indonesia terpanggil untuk membangkitkan dan menyadarkan kembali semangat juang yang telah diukir dengan tinta emas oleh para pendahulu perjuangan ummat Islam tersebut. Maka pada hari Ahad tanggal 26 September 1999 M bertepatan dengan tanggal 16 Jumadil Tsani 1420 H bertempat di Hotel Ambarrukmo Jogjakarta, kami bersepakat melahirkan sebuah organisasi kemasyarakatan yang diberi nama :“Persaudaraan Muslimin Indonesia” disingkat “PARMUSI”Dengan maksud dan harapan kiranya dapat menjadi wadah perjuangan ummat khususnya Keluarga Besar Bulan Bintang dan Muslimin Indonesia dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia sesuai cita – cita luhur proklamasi 17 Agustus 1945 yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. DEKLARATOR PERSAUDARAAN MUSLIMIN INDONESIA- H. Faisal Baasir
- Drs.H.Jusuf Syakir
- Drs.Moh.Husnie Thamrin
- H.M. Fatchurrahman H.M
- H. Ali Hardi Kiaidemak, SH
- H. Bachtiar Chamsyah, SE
- H. Mudrick S.M. Sangidoe
- Drs. H.M. Alfian Darmawan
- dr. H. Fauzi A.R Fachrudin
- H. Ahadin Mintaroem
- H.M. Ali Taher Parasong, SH
- H.M. Djafar Shidiq
- Ir.H. Abdul Kadir Ismail
- Ir. H.M. Saleh Khalid, MM
- Drs. H. Muntholib Sukandar
- H. Muslimin, BBA
- H. M. Cholil Subarie
- H. M. Taufiq, SH
- H. Muh. Mirdasy





























