Gagasan Najelaa Dorong Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Gagasan Najelaa Dorong Perkembangan Pendidikan di Indonesia

Selama dua dekade, Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menggagas aneka inisiatif untuk mendorong perkembangan pendidikan di Indonesia. Najelaa menyimpan optimisme transformasi pendidikan ke arah yang lebih baik.

Jakarta, Obsessionnews.com - Keinginan untuk menjadi pendidik tampaknya sudah ada dalam dirinya sejak kecil. Dilatarbelakangi seringnya menyaksikan ayahanda Quraish Shihab yang juga seorang pendidik. “Teman-teman sebaya saat itu bilang saya selalu ingin menjadi guru. Seiring waktu, saya semakin yakin bahwa pendidikan dan perkembangan anak itu bidang yang ingin saya geluti. Setelah lulus kuliah, saya menjadi dosen di Universitas Indonesia. Dua tahun kemudian, saya mulai mendirikan pra sekolah Cikal waktu itu yang hingga sekarang sudah tahun ke-19,” ungkap ibu tiga putri ini. Najelaa yang memiliki nama kecil Elaa ini menginisiasi beberapa komunitas, selain sekolah Cikal antara lain Kampus Cikal untuk calon guru maupun guru, dan Komunitas Guru Belajar di 142 kota di seluruh Indonesia dengan 400 penggerak dan 14.300 guru. Selain itu bekerja sama dengan orangtua di Relawan Keluarga Kita (Rangkul) yang peduli bahwa pengasuhan adalah urusan bersama. Tahun lalu ada 16.400 orang tua di 62 kota. Dia juga menggagas situs inibudi.org yang berisi video-video belajar untuk siswa. Semua bisa diakses online oleh murid-murid homeschooling, anak-anak putus sekolah, ataupun dikirimkan ke daerah-daerah di Indonesia yang akses internetnya kurang maupun tidak ada sama sekali. Menyoal pendidikan, Najelaa lantang menyampaikan fakta kondisi pendidikan di Indonesia darurat saat ini. Jumlah anak yang tidak sekolah masih sangat banyak sekitar 5,1 juta. Baik itu karena tidak mendapatkan akses, putus sekolah karena pernikahan dini, bekerja, dan sebagainya. Kualitas pun beragam masalah. Banyak anak sekolah tidak bisa membaca dan tidak mengerti apa yang dipelajari. Tak terhitung jumlah anak yang menjadi korban tindak kekerasan, hingga masalah kesenjangan yang besar sekolah di kota maju dan desa. “Anak-anak kita harus menghadapi berbagai tantangan yang berkembang cepat. Tetapi saya berpandangan, jika ada banyak masalah maka ada banyak kesempatan bagi kita untuk mengambil peran. Sikap saling menyalahkan tidak menjadi solusi,” tukas Najelaa. Menjalani rutinitas di bidang ini didasari kesenangannya berkecimpung di industri pendidikan. Meskipun, tidak semuanya penuh kesenangan. Perjalanan menjadi pendidik banyak memiliki lika-liku yang menantang. Namun, nikmatnya melihat pertumbuhan anak, menyaksikan perubahan yang terjadi di keluarga maupun di masyarakat dan kelompok orang menjadi lebih terdidik sangat tidak ternilai. “Saya selalu bilang, menjadi pendidik itu romantis. Percaya pada kekuatan perubahan dan perjalanan pendidikan itu panjangnya puluhan tahun. Bila kita melakukan sesuatu di sector pendidikan hasilnya memang tidak kelihatan secara fisik, berbeda dengan membangun infrastruktur, seperti jembatan. Dalam mendidik seseorang perubahan yang terjadi itu di pikiran dan perasaan, kita harus selalu bersikap optimis. Ibarat menanam pohon yang berbuahnya memang tidak cepat, tetapi bermanfaat buat generasi-generasi di masa depan dan insya Allah menjadi berkah,” tambah Najelaa. (Angie Diyya)